You Are Only Mine

You Are Only Mine
mencari solusi


__ADS_3

bab 148


.


.


.


Papa Revandra yang bisa tau kondisi Menantunya tak bisa diam saja. malam itu atas ijin mama Nada papa Revandra akan terbang keAmerika menemui Kennan saudara laki-laki mama Nada yang tinggal disana.


Kennan menyarankan sesuatu agar Herra bisa mempertahankan janinnya seperti kemauan mama Nada juga. ia tidak mau membuat Herra sampai bersedih ataupun putus asa.


dengan ditemani Darren, papa Revandra membelah kesunyian malam menuju Bandara.


papa Revandra sibuk dengan ponselnya karna terus berkirim pesan dengan kakak iparnya itu. malam itu mereka berdua berkendara hanya berdua, agar tidak ada yang tau kepergian mereka.


" Pesawat mu sudah siap kan ??" tanya Darren sembari menyetir.


" kita naik pesawat umum." jawab Papa Revandra dengan singkat.


" apa ?? memang ada jadwal pesawat terbang dini hari begini ??!!" Protes Darren.

__ADS_1


" kalau kau tau kenapa bertanya ??!!! dasar pria tua !!" omel Papa Revandra.


Darren mencebikkan bibir bawahnya. ia cukup tau jika adik iparnya itu tengah terus berusaha untuk mencari solusi masalah menantunya.


.


.


.


malam sudah berganti pagi. Semua sudah memulai aktivitas masing-masing dengan kesibukan sendiri-sendiri. jalanan yang semula sepi kini sudah diramaikan dengan banyaknya kendaraan yang mulai melintas.


Draka dan Dirya juga sudah diperjalanan masing-masing, Draka menjemput Hasna, sementara Dirya menjemput Qiara untuk ketempat kerja masing-masing, melihat kembarannya sudah mulai dekat dengan wanita, membuat Draka cukup bahagia. bahkan sekarang, Draka sudah berani memgumumkan jika Hasna adalah kekasihnya.


Tiba diparkiran apartemen Dirya segera masuk menuju apartemen miliknya.


Namun saat dilift ia tak sengaja bertemu Qiara.


" tuh kan.. kau berangkat pagi lagi " ucap Dirya yang mengejutkan Qiara.


" tu.an..sedang apa disini ??" tanya Qiara yang terkejut melihat pria yang begitu ia hindari ternyata berdiri dihadapanya.

__ADS_1


" tentu saja menjemputmu !!" Balas Dirya dengan cepat. "ayo aku antar." Dirya membuka jalan agar Qiara segera keluar dari Dalam lift


Qiara masih mematung, keraguan terus merasuki dirinya, Apalagi saat mengingat Dirya yang mengatakan jika telah menyukainya, semua membuat Qiara tak mau sampa Dirya dalam bahaya, sebab dirinya masih berstatus istri dari pria lain. meski sebenarnya Qiara tak pernah menginginkan pernikahan paksaan itu.


" hey !! kau melamun ?? aku juga mau mengantar sarapan untuk kedua kakakku dirumah sakit... ayo.." Dirya melambaikan tangan didepan wajah Qiara.


sontak Qiara kembali terkejut. ia mengatur nafas dan tersenyum tipis dan kemudian perlahan berjalan keluar melewati Dirya.


keduanya nampak beriringan menuju mobil. beberapa petugas hotel yang melihat dirya dan sangat mengenal Dirya menunduk hormat dengan sapaan mereka.


Dirya mendahului Qiara dan membukakan pintu untuknya. "silahkan masuk.." Senyum manis dilayangkan Dirya hingga membuat Qiara tersipu malu dan segera masuk agar Dirya tak melihat wajahnya yang memerah.


Dirya pun segera memutari mobil dan duduk dikursi kemudi, ia segera melajukan mobil menuju rumah sakit dimana Qiara bekerja.


Dari kejauhan nampak pria berkaca mata keluar dari persembunyiannya. sejak tadi ia memperhatikan Qiara dan Dirya.


" jadi kau tinggal disini ?? cih..ternyata dia tidak lebih dari seorang ****** !!" gumam Torik yang kemudian segera masuk kedalam mobil dan pergi dari situ.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2