
bab 68
.
.
.
Sepanjang jalan Narendra nampak betah diam. nampaknya kekesalannya memang belum pudar. Herra kebingungan harus bagaimana. Sejak tadi Herra merasa sudah menurut dan mengikuti keinginan Narendra, namun kenapa masih saja kesal.
" kak.." panggil Herra ragu-ragu.
" hemm" Narendra menjawab dengan irit sekali.
" kakak kesal padaku ??" tanya Herra memberanikan diri menatap Narendra yang menatap kedepan jalan.
Narendra diam tak menjawab.
" memang Herra melakukan kesalahan. apa ?? bahkan sejak tadi Herra menurut saja.." tambah Herra mencoba membela diri.
Hening, Narendra masih diam tanpa menjawab lagi.
Herra nampak begitu frustasi. bahkan sejak tadi Narendra tak bergeming.
" kak, aku salah apa ??!! kenapa kakak kesal padaku ??!! jika pria tadi seperti itu kan wajar saja, dia kan tidak tau istri kakak !!" Ucap Herra dengan memegang lengan Narendra dan suara merengek seolah kehabisan akal akan mengatakan apa.
crriitt!!
Narendra memgerem mobil mendadak hingga Herra begitu terkejut.
__ADS_1
Narendra langsung menatap lekat Herra dengan serius. Herra yang ditatap tidak menyadari karna rasa terkejutnya.
" kakak.. kenapa mendadak berhenti ??!" protes Herra setelah menatap kedepan beralih menatap Narendra. kembali herra tersentak saat Mata Narendra tertuju padanya.
tatapan bagai elang yang siap memangsa. Herra meneguk ludahnya beberapa kali. sungguh membuat merinding.
" kaka..mmmpttt -" Herra tak bisa menyelesaikan perkataannya, Karna Narendra sudah menyambar bibir ranum Herra begitu saja.
awal yang begitu mengejutkan, hingga Herra membulatkan matanya dengan sempurna.
Ciuman yang terus diperdalam oleh Narendra membuat Herra akhirnya terbuai. apa lagi, Terasa amat hangat saat Narendra memperdalam ciuman itu.
Keduanya terus bertukar slavina dan bunyi decitan pertukaran itu memenuhi seisi Mobil yang menepi dipinggir jalan.
Entah mengapa Narendra semakin menggila dengan tangan yang bergerilya dipunggung dan tengkuk leher herra. dan semakin gencar memasuki rongga Mulut Herra.
pangutan terlepas saat keduanya kehabisan oksigen untuk bernafas. nafas keduanya terengah-engah dengan mata beradu pandang.
Narendra terus mengontrol dirinya yang memang berkubang dalam kubangan Nafsu, ia pria normal yang cukup gampang terangsang meski hanya berciuman. wajahnya nampak memerah seolah menahan gejolak pada organ kelelakiannya..
" Herra..." Narendra memyebut Nama Herra dengan suara berat.
Herra tak menjawab, namun tatapan matanya seolah menjawab dengan kata iya.
" aku tidak bisa terlalu lama memendam rasa ini. aku cemburu melihat kau digoda atau dekat dengan pria lain. jangan kan digoda, melihat kau ditatap saja hatiku sudah memanas. awalnya aku fikir hanya rasa simpati yang aku rasakan untukmu, tapi ternyata saat sudah aku jalani, ternyata ini bukan simpati, tapi ini rasa suka rasa Cinta yang begitu dalam. Herra, aku benar-benar mencintaimu.. kau menempati hatiku dalam waktu singkat kau bisa memasukinya.." kata Narendra dengan mata terus terarah pada Herra. nampak begitu serius bagi Herra.
Herra tak menyangka, suaminya menyatakan cinta kepadanya. mematung dengan apa yang didengar. membuat Narendra meraih jemari Herra.
"apa kau masih ragu ??" tanya Narendra.
__ADS_1
" bu..kan..tapi kak.. selama ini aku tidak pernah pacaran atau mengenal apa itu cinta.. tapi saat bersama kakak aku merasa nyaman dan tenang sama saat aku bersama kak joy. aku belum tau apa yang aku rasakan ini cinta atau bukan. bisakah kakak.bersabar hingga aku mampu menyikapi perasaan ini ??" terang Herra dengab wajah polosnya.
Narendra memgembangkan senyum dan menarik Herra kedalam pelukannya. mendekap tubuh mungil itu dengan kuat seolah tidak ingin melepaskannya meski hanya sedetik saja.
" aku akan setia menunggu Herra.." bisik Narendra dengan suara seraknya.
" terima kasih.."balas Herra yang juga memilih membalas pelukan Narendra. tempat yang begitu nyaman dan menenangkan yakni berada didada Narendra dengan amat tenang.
" jadi kakak tidak marah ??" Herra langsung melepas pelukannya dan menengadah menatap Narendra yang berada disisinya.
Narendra memutar bola matanya dengan malas. "mana aku bisa marah padamu !! aku hanya kesal dengan si mata cicak tadi. bisa-bisanya dia mengira aku berselingkuh !!"
Herra menutupi seringainya dengan tangan. "tapi kan dia benar.. kita ini pantasnya menjadi kakak dan adik.."
" apa kau bilang ! !? aku ini masih muda dan tampan Herra.. mata cicak tadi saja yang berlebihan !!" balas Narendra seraya menyalakan mesin mobilnya kembali.
Herra tertawa kecil saat mendengar jawaban suaminya. setidaknya mereka sudah tau perasaan masing-masing, hanya tinggal Herra yang belum bisa menyikapi saja.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.