
bab 82
.
.
Karna tidak adanya joy. pagi itu Narendra memimpin rapat seorang diri tanpa didampingi Joy.
Semua jadwalnya sudah ia baca tadi sewaktu diruangan Joy. beberapa klien yang harus ia temui juga sudah tersimpan dimemori otak Narendra.
meski tanpa joy kepandaian Narendra memang patut diacungi jempol. tanpa naskas tanpa apapun, Narendra bisa menyampaikan apapun yang harus disampaikan didalam rapat.
setelah satu jam lebih, Rapat pun usai. Narendra melirik jam tangan dipergelangan tangannya. ia pun sudah mengatur waktu semaksimal mungkin agar bisa sempat menjemput Herra juga saat sudah waktunya.
Buru-buru ia melangkah keluar kantor hendak bertemu dengan klien.
Giana yang melihat bos besarnya pergi sendiri cukup Heran. "tumben tuan pergi sendiri ?? joy tadi masih tidur, tuan tidak marah ??" tanya Giana pada dirinya sendiri.
" aku keruangan joy saja ah !! mumpung bos besar pergi.. hi..hi..hi.."Giana yang memang begitu tergila-gila pada joy berlari menuju lift untuk menuju ruangan Joy berada.
.
.
" maaf membuat anda menunggu tuan Liam.." sapa Narendra saat sudah tiba seraya menjabat tangan kliennya yang sudah berumur.
" tidak masalah tuan Naren.. silahkan duduk.. kami pesankan minuman " pria paruh baya bernama Liem itu.mempersilahkan Narendra agar duduk.
Narendra pun segera duduk dihadapan klien barunya itu.
Meski Narendra masih muda, Pria paruh baya itu begitu menghormatinya.
" silahkan pilih saja tuan.. Ini restoran putri saya,untuk anda saya akan beri gratis.." ujar Liem.
" jangan seperti itu. saya akan membayarnya nanti. kopi biasa saja." ucap Narendra pada pelayan.
__ADS_1
" tuan Naren sangat bijaksana.." puji Liem.
" anda terlalu berlebihan tuan Liem.." Sesekali Narendra melirik jarum jam dipergelangan tangannya. ia tak mau sampai terlambat menjemput Herra.
" baiklah, mana yang harus saya lihat dan proposalnya bisa saya lihat ??" tanya Narendra tanpa basa basi.
"oh.. iya.. tunggu sebentar.." Liem melirik sekretarisnya agar mengeluarkan berkas milik mereka dan menyodorkan pada Narendra.
" tumben sekali anda sendiri tuan ?? asisten joy tidak ikut ??"tanya Liem.berbasa basi.
" dia sedang cuti." jawab Narendra singkat. itulah Narendra yang sebenarnya, sangat irit bicara dan tak ramah pada siapapun. berbeda jika dengan istrinya.
" silahkan tuan." Sekretaris Liem menyerahkan berkas pada Narendra. dan segera pula Narendra menerimanya lalu meneliti satu persatu.
" saya harap anda mau menanam saham pada proyek saya ini tuan Naren..karna ini benar-benar proyek besar yang begitu menguntungkan.." terang Liem.
" apa saya bisa melihat proyek yang kalian kerjakan ini ??" tanya Narendra tanpa Melihat liem.
" bisa..bisa..tuan..apa mau sekarang..??" tawar Liem.
Liem hanya membuang nafasnya dengan kasar. lalu nampak wanita yang cukup cantik berjalan mendekati Liem dan Narendra dengan nampan berisi minuman pesanan mereka.
Liem yang melihat sang putri begitu senang. ia ingin sekali mempromosikan putri pertamanya kepada Narendra.
" papa.." sapa wanita itu.
Narendra tak bergeming, ia tetap fokus pada berkas ditangannya.
sementara Liem sesekali melirik Narendra "sayang..kau sendiri yang mengantar.." Liem mencoba basa basi.
" iya.. untuk papa loh.." Balas wanita itu yang juga melirik Narendra.
siapa sih, wanita yang tidak akan meleleh jika melihat wajah tampan narendra, apa lagi saat dalam mode serius seperti itu, seolah ketampanannya begitu hakiki.
" tuan Naren.. ini kopinya silahkan.." wanita itu mencoba menyapa Narendra.
__ADS_1
" iya terima kasih.." balas Narendra denga. singkat lagi tanpa menatap.
" tuan Naren.. ini putri saya Jesika pemilik Restoran ini.." Liem mengenalkan sang putri.
Narendra mendegus lalu menutup berkas ditangannya. menatap bapak dan anak yang begitu bersemangat itu. bahkan Jesika sampai tak berkedip melihat Narendra.
" saya sudah tau tuan. dan saya rasa putri anda tidak ada hubungannya dengan mitting kita siang ini.." terang Narendra dengan tegas.
Liem menelan ludahnya dengan kasar, "saya hanya mau mengenalkan saja tuan.. barang kali tuan..-"
" jangan berfikir apapun tuan Liem..saya sudah menikah, jangan membuat anak anda terlihat murahan disini.." timpal Narendra.
" maaf tuan bukan begitu.. maksud saya..-"
Narendra berdiri dari duduknya. "berkas saya bawa. keputusan akan saya kirim nanti malam. maaf saya harus pergi menjemput istri saya. permisi.." Tanpa menunggu jawaban, Narendra segera melenggang meninggalkan liem serta sekretarisnya dan Jesika juga.
" huh.. dia dingin sekali !!" gerutu Liem
" papa.. apa dia malaikat ?? atau dewa ?? kenapa tampan sekali.." ucap Jesika.
" kau terpesona ??"
" tentu saja.. pa, buat aku dekat dengannya.. kumohon.." Jesika mengatupkan kedua tangannnya didepan dada.
" kita tunggu keputusan tuan Naren nanti ya sayang.." balas Liem dengan lembut.
Jesika.begitu bersemangat, dan bahagia. padahal belum tentu bisa disetujui.
.
.
.
.
__ADS_1