
bab 31
.
.
Entah sengaja atau karna tidak sadar. Narendra menggenggam jemari Herra hendak menuntun menuji meja dimana kedua adiknya berada.
" wah.. kakak cepat sekali ya move on nya ??" ujar dirya saat melihat Narendra yang membawa Herra dengan posesif.
" laki-laki memang harus begitu" balas Draka.
Dirya segera berdiri menyambut sang kakak. " sini kak.. duduk.." Dirya memberi tempat untuk Narendra dan Herra. Narendra dengan cekatan membukakan kursi untuk Herra setelah Herra duduk Narendra ikut duduk disisi Herra.
" kakak lama sekali !! kami sampai selesai mitting.." omel.Draka.
" salah kau sendiri, kenapa memberi waktu bersamaan dengan aku san Herra yang sedang fitting !!" balas Narendra yang tidak mau disalahkan.
" kakak ipar, pesanlah makanan kesukaanmu. kami.sudah pesan lebih dulu tadi." Dirya beralih pada Herra dengan menyerahkan buku menu kepada Herra.
" terima kasih." balas Herra.seraya menerima buku menu itu. Tak lupa senyum terus terhias diwajah Herra.
" pesankan.untukku juga.." ucap Narendra.
__ADS_1
" tapi aku kan tidak tau selera tu..eh..kakak." Herra begitu sulit mengucapkan panggilan lain selain 'tuan'
" apa saja aku makan." balas Narendra singkat.
Herra mengalah, ia kemudian membaca dan segera memesan lewat Pelayan yang sudah menunggu sejak tadi.
" kak, Ini pilihan kami. jika kakak.dan kakak ipar tidak suka bisa diganti."terang draka menyerahkan konsep pilihan mereka.
Narendra menerimanya lalu meneliti dengan cermat.
ia kemudian.mendekatkan tubuhnya pada Herra dengan menunjukkan berkas konsep itu. "lihatlah. kau suka tidak pilihan ini ??" tanya Narendra. ia terlihat bersandar pada Herra hingga membuat Herra cukup canggung.
" apa ?? em..maksudku.. aku tidak tau yang.bagus itu seperti apa.." balas Herra.
"Kesukaanmu saja apa.." timpal Narendra.
" kak, kau harus menunjukkan keinginanmu juga, ini pernikahan loh.."tambah dirya mencoba memberi Herra ruang agar biasa.
" diamlah, jangan ikut-ikutan !!" balas Narendra.
Draka menutup seringainya saat mendengar sang kakak menyela dengan suara sedikit kesal.
tak lama makanan datang. mereka kemudian menikmati makanan dengan lahap tanpa bersuara hanya sesekali suara sendok yang bertabrakan dengan piring dan Garpu yang terdengar.
__ADS_1
.
.
Secarik kertas, yang bertuliskan nominal uang dikibaskan oleh Granda..hanya satu jam saja, ia bisa mendapatkan uang yang cukup fantastis nilainya.
" baru sehari dijakarta, aku bisa dapat uang sebanyak ini..ohh...sungguh menyenangkan.." Granda memasukkan kertas cek itu kedalam tasnya.
" sekarang aku harus cari tau siapa wanita yang tadi bersama Naren.. jika dia mengancam posisiku, aku harus menyingkirkan dia.." gumam Granda yang segera bangkit dari duduknya dan keluar dari coffeshop dimana ia beristirahat.
.
.
Diperjalanan pulang Herra terlelap dengan menyandarkan kepalanya dipintu kaca mobil. Narendra yang bisa melihat tak sengaja tersenyum tipis. sejak tadi Herra selalu mengatakan jika tidak lelah, namun baru saja masuk kedalam mobil herra sudah masuk kedalam mimpi indahnya.
" kau sangat polos dan lugu..aku tidak menyangka akan menikah dengan gadis muda begini.." gumam Narendra dengan terkekeh sendiri. sumpah demi apapun, bahkan Narendra sama sekali tidak pernah membayangkan akan menikah dengan wanita yang sama sekali belum mengisi hatinya, namun rasa nyaman mulai bisa terasa dalam hati Narendra. ingatan Narendra terbesit dengan wanita yang telah menghianatinya.
" Granda.. aku harus mengurus wanita itu.. jangan sampai dia membuat Herra salah faham" gumam Narendra kembali.
Ia kemudian merogok ponselnya dan hendak menghubungi seseorang. hatinya cukup tidak tenang jika sampai Herra salah faham, semua akan kacau.
.
__ADS_1
.
.