
bab 190
.
.
.
dan benar saja, Narendra tak melepas kan herra dan kini Herra pun masih bergelayut manja dalam gendongan Narendra.
seakan masih tak percaya dengan apa yang ia alami, Herra terus menatap wajah suaminya dari tempatnya berada. nampak bisa ia rasakan kehangatan dalam dada Narendra yang selalu membuatnya nyaman. apa lagi hidung mancung yang bisa terlihat, nyatanya suaminya benar-benar tampan.
" Kau sekarang tau kan aku ini tampan."ucap Narendra yang terus melangkah dengan tenang, meski ia kini tengah menggedong Herra didepan.
Herra mengerucutkan bibirnya. ia ketahuan tengah memperhatikan Suaminya. " kenapa kakak selalu tau sih.."
" kau disisiku, mana bisa aku tidak tau !!" Balas Narendra seraya melirik Herra.
" kakak mau membawaku kemana ?? paman nanti mencariku ??!!" Tanya Herra saat Narendra malah memasuki Peristirahatan yang berada ditepi pantai itu.
" aku kan sudah bilang, tidak akan melepaskanmu jika tertangkap. diamlah, kau harus membayarnya karna sudah membuat aku berantakan."tutur Narendra, hingga membuat Herra kembali mengerucutkan bibirnya.
"berantakan yang bagaimana ?? kemejanya saja masih rapi begitu.."gumam Herra lirih.
__ADS_1
" aku bisa mendengarnya sayang.." ujar Narendra.
pukk !!!
Narendra melirik kebawah, "kau mau menggodaku ya ??"
" siapa yang menggoda kakak !!!" protes Herra.
" itu, kau malah membelai dadaku ??!" tunjuk Narendra dengan matanya.
Herra melongo dibuatnya. membelai dari mana, Sejak tadi Herra memukul dengan cukup menggunakan tenaga, tapi entah mengapa suaminya malah melantur seperti itu.
Herra pun mulai panik, sebab Narendra kini membawanya menuju kamar peristirahatan.
" anggap saja kita bulan madu lagi." jawab Narendra yang dengan mudah membuka pintu meski sembari menggendong Herra.
Setelah kejadian diJakarta satu bulan lalu Narendra dan Herra belum melakukan hubungan suami istri lagi, dan entah mengapa hari ini seolah tak mengenal tempat dan waktu, Narendra tiba-tiba berkata demikian.
jujur Herra masih takut, takut jika sampai dia hamil lagi dan dalam keadaan lemah yang akan membuat semua kefikiran.
Wajah Herra berubah pucat seketika, apa lagi saat Narendra meletakkannya ditempat tidur.
matanya berkedip beberapa kali saat pandangan mereka saling beradu.
__ADS_1
" kenapa ??" tanya Narendra dengan suara pelannya.
"em..itu..a..ku.." Herra bingung akan mengatakan apa.
Jantungnya kini berdetak tak karuan, hingga nafas Herra pun bisa terdengar sangat tak beraturan.
Narendra membelai rambut Herra dengan perlahan. "maafkan aku jika kau masih takut. aku membawamu kesini hanya ingin tidur siang denganmu. bukan meminta sesuatu yang membuatmu takut. aku tau apa yang kau rasakan, sakit dan segalanya, aku pun tidak masalah jika kita tidak melakukannya, asal melihat kau bahagia saja itu sudah cukup."tutur Narendra penuh kelembutan.
Entah mengapa mendengar ucapan suaminya, Herra hanya bisa menitikkan air mata. betapa besar hati suaminya yang selalu memikirkan perasaan dan keadaan dirinya.
Seketika Herra menarik tubuh Narendra untuk dipeluknya. meski cukup terkejut, Narendra segera menopang tubuhnya dengan kedua sikunya agar tidak sampai menimpa tubuh mungi Herra.
" maafkan aku kak...maafkan aku..kakak pasti tersiksa dengan semua ini.. maafkan Herra kak..trauma itu masih membelengguku.." ujar zherra dalam tangisannya.
" hey.. kenapa malah menangis.. sayang jangan menangis.." Narendra membuka pelukan Herra dan segera menghapus air mata Herra.
" aku mohon jangan menangis.. aku akan sabar kapanpun kau siap sayang.. bahkan jika pun kau tidak bisa aku tidak apa-apa, sayang.. sungguh !! tapi jangan menangis.." Pinta Narendra dengan wajah kawatir.
Kembali Herra berhambur kepelukan suaminya. trauma akibat kehamilan pertama yang begitu menggerogoti hidupnya benar-benar membuat Herra masih berselimut ketakutan.
.
.
__ADS_1
.