
bab 167
.
.
.
Dirya membanting tubuhnya diranjang diapartemennya yang sebelumnya ditempati Qiara. bayang-bayang qiara yang selalu malu dan menutup diri darinya, selalu terlintas dibenak Dirya.
" kau kemana Qiara ?? dimana aku harus mencarimu ??" tanya Dirya sendiri..hingga mata terpejam, Dirya tetap menyebut nama Qiara terus.
.
.
.
Sinar mentari meninggi dengan cerahnya. Mata Qiara perlahan terbuka karna sititik cahaya mentari mengenai wajahnya yang menerobos melalui jendela kaca yang polos karna gorden yang telah dibuka oleh Amara. Amara adalah putri dari Yohan dan Zenna.
wajah pertama yang dilihat Qiara adalah senyum ramah Amara yang dirasa asing bagi Qiara.
" selamat pagi ..." sapa Amara dengan melambaikan tangan.
Qiara mengedipkan mata agar pandanganya kembali terang dan benar, wajah gadis remaja itu nyata ada dihadapannya.
" kakak masih pusing ya ??lemas tidak tubuhnya ??" tanya Amara
__ADS_1
" tidak..tapi sedikit lemas saja."balas Qiara.
"oh.. itu hanya sebentar kata papa.."ucap Amara.
" maaf.. kau siapa ?? dan..dan..saya ada dimana ??" tanya Qiara saat ia teringat dimana ia dibekap seseorang hingga tak sadarkan diri.
Amara duduk disisi Qiara bersandar.
"namaku Amara. dan ini rumahku. papaku bersama bosnya membawa kakak semalam. katanya kakak akan tinggal disini hingga waktu yang tak terbatas, katanya sampai masalah selesai." terang Amara dengan santainya.
" pa..papamu ?? dan..bosnya ?? em..kalau boleh tau siapa papamu ??" tanya Qiara yang memang belum tau.
" papaku Yohan. asisten pribadi Tuan Revandra. kakak mengenal Tuan Revandra kan ??" tanya amara balik.
Mata Qiara membulat, Tuan Revandra adalah orangtua Dirya. lalu kenapa dia disembunyikan disitu ?? otak qiara mulai.berputar mencari jawaban.
Qiara masih diam dengan fikirannya yang terkadang negatif terkadang juga membingungkan.
" kakak..!!" Amara mengeraskan suaranya, seraya memegangi tangan Qiara hingga qiara sedikit terperajak dan reflek menepis tangan Amara.
Amara pun sedikit terkejut dengan Respon Qiara dan menatap kearah Qiara dengan seolah bertanya.
" maaf..maaf..saya hanya terkejut.." ucap Qiara yang tidak mau sampai gadis remaja dihadapannya salah faham.
Dan ternyata Amara malah tersenyum lebar. " kakak pasti takut ya ??"
Qiara hanya tertunduk.
__ADS_1
tak lama pintu terbuka dan nampak wanita yang masih nampak cantik namun sangat diyakini Qiara wanita itu adalah pemilik rumah itu.
" kau sudah bangun ya ?? Amara kenapa kakaknya tidak diajak turun sarapan ??" tanya mama Zenna seraya terus mendekat.
" kakak masih kebinguan ma.." balas Amara.
" jangan terlalu kau fikirkan nak, sekarang lebih baik kau bersihkan diri lalu mandi. kopermu utuh ada disana." tunjuk mama Zenna.
" selesai mandi, segeralah turun untuk sarapan. nanti tante akan ceritakan semuanya."tambah mama Zenna dengan penuh keramahan. melihat kelembutan sosok wanita yang disebut mama oleh Amara Qiara pun segera mengangguk mengiyakan.
" Amara.. ayo kita turun dulu, bantu mama menyiapkan sarapa untuk papamu juga.." ajak mama Zenna.
" baiklah ma.." balas Amara."kakak pakai saja apa yang dikamar mandi. semua itu milikku kok..kita akan berbagi mulai sekarang.." ucap Amara pada Qiara.
" terima kasih.." balas Qiara.
Amara dan mama Zenna beriringan keluar.
Qiara terus menatap kesekiling tempat yang ia rasa sangat asing. kamar luas dengan nuansa serba dusty dan berjajjar beberap boneka khas wanita.
Qiara pun segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan pelan menuju jendela kaca.ia melihat kebawah dimana banyak penjagaan disana.
" hanya asisten tapi rumah mereka semewah ini ?? seberapa kaya tuan Revandra itu ?? aku jadi tambah merasa tidak pantas.. semoga saja, tuan Revandra mau melepaskanku dan membiarkanku pergi agar bisa jauh dari putranya." gumam Qiara lirih, sorot kesedihan terlihat disana.
.
.
__ADS_1
.