
189
.
.
.
" paman.. sejak kapan paman hidup sendiri ??" tanya Herra dengan berani. beberapa bersama Kennan, Herra merasa mendapatkan sosok ayah yang humoris dan sangat menyayanginya.
" sejak istri paman meninggal. sejak saat itu paman sudah biasa hidup sendiri.." balas Kennan dengan cepat.
" jika diluar negeri sendiri kenapa tidak disini saja ?? ada kami semua disini.. paman tidak akan kesepian.."saran Herra.
" kau benar. tapi paman tidak mau merepotkan kalian.." balas Kennan. yang ikut duduk menatap Herra.
" kami tidak pernah merasa direpotkan kok.. justru kami senang.." ujar Herra.
Kennan terkekeh mendengar ucapan Herra dan membuka kaca matanya.
" aku sangat bersyukur, semua anak-anak adikku menemukan istri dan wanita yang baik luar dan dalamnya." kata Kennan.
" aku tidak sesempurna itu paman.." timpal Herra.
" itu kenyataannya Nak.."
" seperti apa alm.bibi Alika itu paman ?? sehingga paman bisa setia sampai saat ini. menjalani kesendirian itu bukanlah hal yang mudah.." tanya Herra.
" seperti kau dan mertuamu. jika kau melihat ibu mertuamu, kau bisa melihat istriku. sebab yang kakaknya Nada adalah istriku." jawab Kennan.
__ADS_1
" benarkah ???" Herra amat terkejut. ia fikir jika Kennanlah kakak kandung Mama Nada.
Apalagi selama ini papa mertuanya nampak sangat dekat meski selalu berdebat saat mereka bersama.
" kau terkejut ya ?? Narendra pasti belum bercerita,"
" aku fikir yang kakaknya mama itu paman.."
" bukan nak.. aku hanya orang biasa yang diambil oleh keluarga mertuamu.. kebaikan mereka yang menjadikan aku selalu dihormati dalam keluarga besar kalian." terang Kennan.
Kembali, Herra dibuat kagum oleh kedua mertuanya. hati mereka terbuat dari apa, meski kennan bukan kakak kandung mama Nada, tapi tali persaudaraan tidak terputus sama sekali Hingga bertahun-tahun. bahkan kasih sayang mereka tetap erat sampai usia mulai menua.
"eheemm !!!" Deheman membuyarkan lamunan Herra dan Kennan.
Herra menatap sumber suara.
" kakak !!" Herra segera bangkit dan berlari berhambur memeluk Narendra dengan bergelayut manja.
" serius sekali.. apa yang kalian bicarakan ???" tanya Narendra saat sudah menurunkan Herra.
Kennan hanya menyunggingkan senyum dan memilih menyandarkan kembali tubuhnya dengan santai. ia tak mau melihat sesi kemesraan putra adiknya itu.
" kami bercerita banyak.. kakak kok pakai jas begini sih ??!! kitakan dipantai.." protes Herra seraya menarik jas Narendra.
Kesempatan Narendra pun mendekap Herra dan mencium bibir Herra dengan cepat.
cuuppp !!
" kakak..." protes Herra yang wajahnya nampak memerah.
__ADS_1
" aku merindukanmu.. kau sejak kemarin bersama paman terus.." balas Narendra.
" cih.. biarkan saja.. mumpung paman disini.. dia kan tamu kita.." tutur Herra yang bergelayut manja dengan melingkarkan tangan diperut Narendra.
" kau sudah berani ya ???" Narendra menarik hidung Herra.
" aaa !! kakak.. !!!" Herra menarik kemeja Narendra dan mencubit perut Narendra. dan segera menghindar berlari.
" aaww !!!" pekik Narendra.
" ha..ha..ha.. weee.. kejar aku kalau bisa.." Goda Herra yang nampak sudah cukup jauh.
Narendra melepas jasnya dan meletakkan sembarangan. "awas sayang jika kau tertangkap, aku tidak akan melepaskanmu !!!" balas Narendra yang selesai melepas sepatunya dan berlari mengejar Herra.
tawa Herra lebar seketika saat Narendra cukup cepat mengejarnya.
" aahhh !!!!" Herra berteriak sebab hampir tertangkap.
" kau tidak akan bisa kabur sayang !!" Timpal Narendra yang terus mengejar Herra.
Kennan bisa melihat Kebahagiaan yang sangat nyata dihadapannya.
Apa lagi saat Narendra menangkap Herra dan mengangkatnya keudara, teriakan tawa kebahagiaan bisa terdengar ditelinga Kennan.
" anak muda itu..sama seperti papanya " gumam Kennan yang memilih memejamkan mata, menikmati angin pantai yang menyejukkan.
.
.
__ADS_1
.