
bab 96
.
.
.
Qiara termangu didepan pintu ruang rawat Dirya. ia ragu hendak masuk atau tidak. seolah rasa canggung terus saja menyelimuti dirinya.
" apa aku minta yang lain saja ya ??" gumam qiara sendiri.
" dokter Candrika belum kesini lagi.. apa aku tunggu dokter saja ??" Qiara bertanya pada dirinya sendiri.
Qiara kebingungan harus bagaimana. namun saat teringat Diryalah yang menyelamatkan dia, Qiara mulai sadar, ia harus membalas kebaikan Dirya.
" huh..tenang Qiara..kau hanya memeriksa sebentar, tenang..tenang.." Ujar Qiara sendiri.
selesai mengatur nafas, Qiara mengetuk pintu dan langsung membukanya
" selamat pagi.." sapa Qiara. namun ternyata brankar kosong, qiara tak mendapati Dirya.
Seketika kekawatiran nampak diwajah qiara.
" tuan !! tuan dimana ??!!" panggil Qiara seraya memasuki kamar rawat dengan cepat.
netranya menelisik mencari. kesegala sudut, namun tetap tidak menemukannya.
" kemana tuan ?? ya Allah.. dia kan masih lemah ??!!" ujar Qiara dengan penuh kepanikan.
Qiara hendak berbalik.berlari keluar, namun dari kamar mandi terdengar sesuatu terjatuh.
pranggg !!!
__ADS_1
Qiara terperajak kembali dan mencari sumber suara. ia yakin suara itu dari Kamar mandi.
buru-buru Qiara menuju kamar mandi dan segera pula Qiara mengetuk pintu kamar mandi itu.
tokk..
tokk..
" tuan !!? tuan didalam ??!!" panggil Qiara.
" ahhh !!" Suara berat pria terdengar ditelinga Qiara. Qiara sangat yakin jika Diryalah yang dikamar mandi.
segera Qiara membuka pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci.
dan betapa terkejutnya Qiara saat mendapati dirya terduduk dengan tangan berpegangan pada bak mandi selang dan jarum infus sudah terlepas entah kemana.
" Astaghfirullah.. Tuan Dirya !!" Qiara segera membantu dirya berdiri, meski kesusahan, Qiara tak menyerah dan tetap.berusaha.
wajah Dirya nampak pucat sekali, hal itulah yang membuat Qiara bertambah kawatir.
" pelan-pelan tuan.." kata Qiara sembari membantu Dirya membenahi posisi tidur agar nyaman.
selesai Qiara cepat mngambil selang infus beserta jarumnya dengan penuh hati-hati. sedikit darah yang menetes dari bekas jarum infus segera dibersihkan oleh Qiara.
meski merasa kan sakit dikepalanya, Dirya masih bisa memperhatikan Qiara yang berada disisinya.
tak dipungkiri wajah Qiara memang cantik alami. bahkan meski tanpa riasan Qiara begitu teduh dalam pandangannya.
Qiara bernafas lega saat sudah selesai memasangkan infus pada Dirya.
" kemana kembaran tuan biasanya dia yang menjaga disini ??" tanya Qiara dengan suara lembutnya.
Dirya tak menjawab, ia malah terus menatap dengan dalam Qiara.
__ADS_1
Qiara yang sadar menjadi salah tingkah saat sadar ditatap Dirya.
" kenapa kau mudah sekali melupakan masalah yang kau alami ??" Dirya malah bertanya yang lain.
Qiara menatap lekat Dirya. "tidak mungkin saya memperlihatkan wajah suram saya ditempat kerja seperti ini.."
Tak ingin terlalu larut, Qiara segera meraih alat medisnya dan memeriksa tekanan darah Dirya.
" aku juga sedang dalam masalah, sampai seperti ini.." ujar Dirya.
Qiara menyunggingkan senyum "anda bisa menasehati saya tapi anda sendiri malah menjadi sakit."
" tapi aku kan tidak berniat mempermainkan hidup.." timpal Dirya.
" iya.. kemarin saya memang bodoh.." Qiara sudah selesai. dan hendak pergi namun kembali Dirya mencegahnya.
" lepaskan saya tuan.." Qiara menepis tangan Dirya.
" aaggrrhhh !!" Dirya kesakitan.
Spontan qiara langsung berubah dalam ekspresi wajahnya dan mendekati dirya.
" anda sakit lagi ?? yang mana ??" tanya Qiara penuh kawatir.
Dirya tersenyum tipis dan menarik tangan Qiara lalu menempatkan tangan Qiara didadanya.
" ini yang sakit.." ujar Dirya lirih dengan terus menatap lekat Qiara.
nafas Qiara saling memburu dengan tingkah Tiba-tiba Dirya padanya.
.
.
__ADS_1
.