You Are Only Mine

You Are Only Mine
Penuh rasa


__ADS_3

bab 41


.


.


Sementara Narendra Dan Herra sudah tiba dikamar mereka. Narendra segera membukakan pintu kamar dan mempersilahkan Herra masuk.


Herra patuh dan melangkah masuk.terlebih dahulu.


Mata Herra disuguhkan dengan kamar yang dihias begitu indah dengan kelopak bunga mawar diatas ranjang dan sepanjang ia berjalan masuk.


Narendra yang selesai menutup pintu juga sedikit terkejut. namun ia berusaha menguasainya.


" kenapa ?? ini paket dari dekor MUAnya. sayang kalau tidak dipasang."ucap Narendra yang begitu tau isi fikiran Herra.


" maaf kak. aku hanya..hanya terkejut saja." balas Herra.


"sudahlah, ayo.." ajak Narendra. menuntun Herra duduk disofa panjang.


gaun yang menjuntai itu memang sangatlah berat. Herra duduk dan segera melepas heelsnya. Narendra yang melihat buru-buru membantu dengan berjongkok dihadapan Herra.


" sini aku bantu.."


" aku bisa sendiri kak " balas Herra.


Namun Narendra tetap kekeh dan berusaha membantu membuka heels dikaki Herra.


"kakimu merah Herra " Wajah Narendra berubah kawatir.


" mungkin karna heels yang terlalu tinggi kak. selama ini Herra kan tidak pernah memakai heels." terang Herra.


"kenapa kau tidak bilang pada MUA tadi ??!" protes Narendra.


" percuma kak. semua pengantin


pasti diharuskan menggunakan heels seperti ini. tidak apa, itu cuma merah memar besok juga sudah baik."ucap Herra.


" baiklah. tunggu disini aku ambil salep." Narendra segera bangkit dan meraih tas miliknya yang sudah dipindahkan disana. ia segera mengambil salep dan mengoleskan pada memar Herra.


" kau mau mandi ??" tanya Narendra.

__ADS_1


Meski masih malu, herra menjawab dengan anggukan dan menundukkan wajahnya.


" aku siapkan air hangat ya ?? kau tunggu disini." tawar Narendra.


" tidak perlu kak. biar aku sendiri sajam kakak pasti juga lelah" cegah Herra yang merasa tidak enak


" kita sama-sama lelah. aku berusaha agar kau tidak canggung lagi denganku." balas Narendra.


Herra membala dengan anggukan dan senyum. Kekaguman kembali menyelimuti hati Herra, Narendra yang ia kenal selama ini sangatlah dingin dan irit bicara. namun ternyata, Narendra sangatlah hangat dan begitu menghargainya. tanpa sadar Herra dan Narendra saling tatap hingga beberapa saat.


"aku mandi dulu kak." Herra segera bangkit dan mengangkat sedikit gaunnya lalu berlari kecil masuk kedalam kamar mandi. Narendra hanya menyunggingkan senyum saat melihat Herra sangat lucu baginya dan kemudian mendudukkan dirinya disofa seraya mengeluarkan ponsel miliknya membuka satu demi satu pesan yang masuk.


Jangan ditanya lagi. setelah dikamar mandi Herra menyandarkan tubuhnya didinding dengan mengusap dadanya yang begitu bergemuruh. bersitatap dengan Narendra seolah membuat tubuhnya terasa panas dingin.


" ya ampun.. kenapa denganku..'" gumam Herra sembari memejamkan matanya.


.


.


Granda menyunggingkan senyum saat berhasil.mengirim pesan pada Narendra.


Narendra yang mendapat pesan dari Granda yang begitu banyak segera menghapus tanpa membacanya. namun diakhir pesan, Granda mengatakan akan menemui mama Nada jika Narendra tidak mau berbicara dengannya.


'Aku tunggu kau dilorong 11. jika kau tidak datang, aku akan langsung menemui mamamu dan mengatakan pernikahan settinganmu ini Baby..'


"sialan !!" umpat Narendra.


ia segera bangkit dari tempat duduknya. sekejap ia melirik kamar mandi yang masih setia tertutup. Narendra mengurungkan niatnya berpamitan dan segera keluar setelah melepas jas dan dasi kupu-kupu yang melekat ditubuhnya.


Diluar dimana Para anak muda berkumpul, Tengah penuh ketegangan. Candrika masih setia dan terus meneguk satu demi satu botol dihadapan mereka..begitupun dengan Joy.


yang lain hanya.sebagai penonton saja. bahkan Hasna cukup kawatir dengan sahabatnya itu. wajah Candrika sudah memerah, Semua sangat yakin Candrika sudah mabuk.


" kak Cand.. cukup !! kau sudah mabuk !! tante Nurra akan marah jika melihat ini !!" cegah hasna seraya merampas botol minuman ditangan Candrika.


samar-samar Candrika masih bisa melihat joy yang masih sadar dan tengah santai meneguk minuman dalam genggaman tangannya.


" lepaskan Hasna !! kami belum selesai. kau !!!" Candrika menunjuk Joy dengan telunjuknya.


" bersiaplah menciumku pria es !!" lanjut Candrika yang langsung meneguk kembali minuman dihadapannya.

__ADS_1


" dia benar-benar sudah gila !!" ucap Draka.


" Asisten.Joy, tolong hentikan kak Cand, dia tidak bisa minum banyak begini !!" pinta hasna. pada Joy.


" biarkan saja. sebentar lagi dia juga pingsan."balas Joy dengan datar.


benar saja. Saat sebotol minuman habis diteguk, Candrika benar langsung tidak sadar dan meletakkan kepalanya begitu saja dimeja.


" Candrika !!"panggil Dirya yang disisi Candrika.


" dia pingsan."tambah Draka.


"aduh.. bagaimana ini.. tante Nurra akan marah jika aku pulang dengan dia yang mabuk !!" Hasna nampak begitu cemas.


" aku tidak bisa membayangkan telingaku pasti akan ditarik bibi Nurra jika aku yang mengantar."tambah Draka.


" aku yang mengatarnya." Joy segera bangkit dari tempat duduk dan memutar menuju dimana Candrika.


" kakak yakin ?? bibiku orangnya super cerewet, kakak bisa digantung jika membawa Candrika seperti ini.." jelas Dirya.


" semua kesalahan dia sendiri. seharusnya dia menolak jika tidak bisa." Joy langsung menggendong tubuh Candrika dan berlalu begitu saja.


Dirya, Draka dan Hasna saling tatap dan tak tau harus bagaimana.


" lalu aku dengan siapa ??" tanya Hasna saat sadar dirinya tinggal sendiri.


Draka menautkan alisnya "pertanyaan macam apa, jika dirya menawarkan diri bagaimana ?? kan yang pacarnya aku ??!"batin Draka.


" Draka yang mengantarmu ya ?? kepalaku juga pusing." balas Dirya.


Hasna mengembangkan senyum dan segera mengangguk. sudut bibir Draka pun ikut terangkat. apa lagi saat dirya sudah melenggang menuju lift, kedua tangan mereka saling bertaut dengan tatapan penuh kerinduan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2