You Are Only Mine

You Are Only Mine
marah


__ADS_3

bab 116


.


.


Joy menyunggingkan senyum saat mendengar percakapan Antara Giana dan sekutunya. ya, Joy telah memasang sebuah alat penyadap yang entah bagaimana bisa ada ditas dan ponsel Giana.


" sudah kuduga.." gumam Joy dengan menyeringai.


ia memacu pedal gasnya membelah kedinginan malam setelah memaksakan diri mengikuti kemauan Giana untuk diner berdua.


.


.


Setelah pertemuannya dengan Qiara dirumah sakit. Dirya membawa Qiara tinggal diapartemennya, sebab Candrika harus keluar kota guna mengikuti seminar pertemuan perkumpulan dokter. selama ini Qiara dilindungi oleh Candrika setelah Qiara menghadapi masalah dengan rentenir yang membunuh kedua orangtua serta adiknya.


Mendengar cerita Qiara, Dirya amat terhenyuh. pantas saja, Qiara bisa sampai putus asa dan sangat ingin mengakhiri hidupnya, jika pun dia sendiri yang mengalaminya entah akan bertahan atau tidak..


" kau tenang saja. ini apartemenku. setelah Cand pulang, kau bisa bersama dia lagi. aku tidak tinggal disini, jadi kau akan leluasa berada disini.." terang Dirya dengan jelas.


saat melihat Keraguan dimata Qiara.

__ADS_1


" terima kasih sekali lagi anda sudah membantu saya tuan..bahkan anda sampai tidak kekantor karna menjaga saya. saya benar-benar merasa tidak enak..sudah merepotkan." balas Qiara seraya menunduk.


" tidak apa. emm..kalau begitu aku pulang dulu.. besok jika kau akan kerumah sakit tunggu aku datang ya ?? jangan pergi sendiri. sangat berbahaya jika pria gila itu masih mencarimu."pesan Dirya.


" tapi tuan.. saya tidak mau merepotkan tuan lagi.." timpal Qiara.


" jadi kau mau tertangkap suami gilamu itu ??!!" balas Dirya.


Qiara terdiam dan menundukkan wajahnya. disisi lain ia tidak mau membuat Dirya sampai terkena masalah dengan melindunginya, tapi disisi lain ia sangat takut jiks tertangkap oleh suaminya lagi.


" sudah. jangan difikirkan. aku kan hanya sementara, setelah Candrika pulang kau kan akan selalu bersama dia " Ucap Dirya menengahi. Segera pula Dirya berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu keluar.


saat sudah hendak keluar Dirya menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Qiara dengan senyum tipis melengkung. "ingat jangan buka pintu jika nanti malam ada yang mengetuknya. atau kau bisa lihat disana."Dirya menunjuk sebuah layar kecil didekat pintu. "disana kau bisa melihat siapa yang datang." terang Dirya.


Qiara mengangguk pelan. "terima kasih sekali lagi tuan.."


.


.


Dirumah Narendra, Tengah berusaha membujuk istrinya yang tengah merajuk hanya karna sebuah pertanyaan yang bagi Narendra adalah sepele.


" sayang...buka pintunya.. aku minta maaf ya.." bujuk Narendra seraya mengetuk pintu kamar yang dikunci oleh Herra dari dalam.

__ADS_1


tetap tak ada respon. hal itu membuat Narendra amat frustasi. "ada apa dengan istriku..??!! kenapa dia langsung marah !!" tanya Narendra pada dirinya sendiri.


Didalam Herra terduduk dengan wajah masam. entah mengapa membayangkan suaminya mencium wanita lain sebelumnya membuat hatinya terasa sakit. sangat tidak masuk akal jika dilihat. bahkan Narendra belum memgatakan ataupun bercerita.


"kenapa aku membayangkan sejauh ini ??!!! kalau begini kan aku yang sakit hati..." ommel Herra sendiri.


tokk !!


tokk !!


tokk !!


" sayang.. ayolah jangan marah dulu.. mau bagaimana aku dulu yang penting sekarang aku hanya milikmu !!!? sumpah demi apapun hanya kau dihatiku ??!!" Teriak Narendra yang sudah sangat frustasi.


" tuan.. sebaiknya biarkan nona sendiri dulu.. nanti jika sudah tenang bisa bicara lagi.." saran bik Rima yang mendengar bosnya nampak kalap didepan pintu kamar.


Narendra membuang nafasnya dengan kasar dan mengangguk. "baiklah. bibi tunggu disini ya, segera panggil saya jika Herra keluar. jaga istri saya. saya kebawah dulu.." pesan Narendra.


" baik tuan. saya pasti menjaga nona." balas bik Rima.


meski tak ingin, namun Narendra memilih mengalah dulu. akan sangay buruk jika ia terus memaksa Herra mendengarkan perkataannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2