
bab 139
.
.
.
" em..aku permisi dulu.." Candrika segera turun dari ranjang dan hendak pergi.
" lalu bagaimana jawabanmu ??!!" ucapan Joy membuat langkah Candrika terhenti.
Candrika tak tau harus mengatakan apa. ia pun perlahan berbalik dan memberanikan diri menatap Joy.
" biarkan aku memikirkannya.. selama ini aku tidak pernah berpacaran atau bahkan dekat dengan pria. aku harap kau memakluminya.."terang Candrika. tatapan yang sangat serius.
Joy terdiam tanpa menanggapi, namun tatapan matanya seolah berkata ia akan menunggu.
Candrika mendekati Joy perlahan lagi. "aku harap kau istirahat yang cukup. besok Kak Naren dan kak Herra akan kejakarta. aku tidak mau kau masih sakit saat aku juga akan kembali kejakarta."
Joy mengangguk patuh tanpa melepas padangannya. Senyum tipis dilayangkan Candrika, ia pun segera berbalik dan keluar dari ruangan Joy.
Saat tak melihat Candrika lagi, Joy bernafas normal seperti biasa. dengan memijit pelipisnya.
" Apa benar aku menyukainya ?? serly kau marah jika aku berhianat..??" gumam Joy yang memilih duduk disofa panjang dan menyandarkan tubuhnya.
.
.
__ADS_1
.
Papa Revandra sudah mengurus semuanya. Mereka semua akan berangkat keJakarta besok pagi.
Herra dan narendra kembali menemui Joy sebab tadi mereka gagal berbicara dengan pria yang dingin itu.
Ketukan pintu dilayangkan Narendra, agar jangan sampai mengganggu privasi joy.
saat mendapat jawaban dari dalam, Narendra pun segera membuka pintu dan mendorong Herra masuk kedalam.
Herra membulatkan mata, saat melihat sang kakak malah duduk disiofa dengan laptop dipangkuannya.
" kakak !!! kenapa kakak sudah bekerja ??!!" omel Herra.
" kau mau membuatku diomeli Herra ya ??!!" tambah Narendra yang juga terkejut.
Joy menatap adik dan adik iparnya itu. " aku sudah lebih baik. dan Orang kantor baru saja kesini, aku harus memeriksa beberapa laporan."
" tennanglah, aku harus terbiasa tanpa suamimu lagi..kapan kalian berangkat ????" Joy balik.bertanya.
Herra dan Narendra saling tatap. disini Herralah yang sangat bersedih. ia harus kembali jauh dari sang kakak, pria yang sudah seperti orangtua baginya.
"hey...kau kenapa ??" Joy yang melihat Herra mulai.menitikkan air mata segera bangkit dari duduknya dan mendekati Herra,lalu berjongkok dihadapan Herra.
" kau harus bahagia..bukannya impianmu akan segera terwujud ?? kau akan menjadi orangtua yang sangat baik.."hibur Joy dengan senyum tipis terhias diwajahnya.
Bukannya berhenti, tangis Herra malah semakin menjadi. "kita akan berjauhan lagi kak..hiks..hiks..hiks.. aku tidak bisa menjadi adik yang baik..hiks..hiks..hiks..maafkan aku.."
Tak.tega melihatnya Joy memeluk tubuh adiknya. adik yang sangat ia sayangi. untuk kali ini Narendra terdiam dan membiarkan saja, Ia bisa merasakan apa yang dirasakan istrinya.
__ADS_1
" Hentikan tangisanmu..kasihan calon anakmu, fikirkan yang baik-baik saja, toh setiap bulan aku akan kejakarta menemuimu..bukannya dulu kita sering seperti ini ??" bujuk Joy dengan suara selembut mungkin.
" tetap saja..hiks..hiks..hiks..,aku ingin menangis.. kakak disini sendirian nanti.." tangis Herra lagi.
" Herra dengarkan kakak..kau tau kan ini tempat tinggal kakak Herra.. sejak dulu kakak memang bekerja disini.." Joy membuka pelukannya, menangkupkan kedua pipi Herra dan menatapnya lekat. "kau sekarang punya Suami, dia lah yang akan menggantikan kakak menjagamu, jika kau sudah sehat kau kan bisa sering kesini menemui kakak.. kasihan suamimu jika kau seperti ini.." Nasehat Joy.
Tangis Herra mulai reda, namun masih terdengar sesenggukan.
" kakak harus berjanji setiap menit menghubungiku.." ujar Herra, Joy menyunggingkan senyum tipis dan segera mengangguk. "baiklah.."
Kembali Herra memeluk tubuh Kakaknya. Narendra tak berkomentar apapun. ia hanya menjadi pendengar dan saksi kepiluan dua saudara itu.
Dari pintu papa Revandra dan Darren bisa mendengar percakapan Herra dan joy itu. Perlahan sekali Revandra menutup pintu ruang rawat Joy agar tidak sampai ketahuan.
" Vandra, apa kau tidak bisa membangun kantor untuk Joy dijakarta ??" Usul Darren dengan pertanyaan.
" membangun gampang Darren, tapi mengembangkannya yang susah. Lagi pula usaha properti Narendra dan Joy sangatlah pesat disini, akan sayang jika harus dipindah keJakarta." tutur Revandra.
" tapi lihatlah menantuku ??!! dia sedih sekali..nasib Herra itu sama dengan Nada, tidak punya orangtua dan hanya punya aku sebagai kakaknya.." balas Darren.
" cih.. jangan samakan Joy denganmu !!! kau dulu tidak mengurusi adikmu kan ??!!" omel Revandra.
" hentikan membahas masa lalu !!! lalu bagaimana joy dibawa atau tidak ??!!" balas Darren dengan kesal.
Narendra menghentikan langkahnya dan menatap darren" tidak bisa. dia yang bertanggung atas kantor disini. Narendra bilang hanya Joy yang bisa dipercaya disini."
Darren membuang nafasnya dengan kasar. "sepertinya pesawatmu akan mengudara setiap.bulannya.."
Revandra tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
.
.