You Are Only Mine

You Are Only Mine
Sesak didada


__ADS_3

bab 122


.


.


.


" silahkan duduk Sekretaris Giana.."Herra mempersilahkan Giana agar duduk saat setelah Narendra sudah menutup pintu.


Giana mengangguk dengan senyum dan gaya pura-puranya.


"nona sakit apa ?? kenapa bisa dirawat ??" tanya Giana basa basi.


" hanya kelelahan. sepertinya besok sudah pulang." jawab Herra dengan tenang.


mata Giana memutari seluruh ruangan dimana istri bosnya dirawat. ruangan yang memang berkelas VVIP dengan segala fasilitas mewahnya.


" kalau saya yang disini pasti betah. ruangannya saja seperti kamar hotel." ucap Giana mengomentari.


" benarkah ?? saya doakan semoga kau cepat sakit. agar bisa menginap dihotel rumah sakit ini." balas Herra masih dengan tenang.


Senyum Giana luntur seketika saat sadar yang dikatakan Herra adalah sebuah ejekan baginya. ia memasang mimik wajah tak suka dengan kemudian melengos menatap kearah lain.


" Nona.. kau tau, Tuan Narendra sepertinya akan bangkrut. kemarin pabrik yang terbakar, hari ini rumah besarnya yang diledakkan orang. saya rasa besok pasti kantor besar tuan akan diledakkan juga." Giana melupakan sejenak kekesalannya dan kembali mengadu domba Herra dan Narendra.


Namun sayang, Mendengar penuturan Giana Herra hanya tersenyum dengan tetap terlihat santai.


Alis Giana bertaut, karna keheranan. "apa iya tuan Narendra mengatakan kemalangannya pada nona Herra ??" batin giana

__ADS_1


"mungkin memang harta yang dimiliki suamiku hanya mampu bertahan sampai disini sekretaris Giana. aku tidak mempermasalahkan semua itu, dan aku akan setia disisinya sampai kapanpun. semoga kami bisa merintisnya kembali bersama-sama."terang Herra masih dengan tenang.


Giana tersenyum dengan terpaksa karna usahanya membuat Herra kalut gagal.


"dan jika sampai kantor juga akan diledakkan, apa kau tidak kawatir kehilangan pekerjaan ?? atau malah kau senang ?? karna bisa bebas dan bekerja ditempat lain ??" terka Herra menambahkan.


Tangan giana terkepal kuat mendengar tuduhan Herra. wajah seriusnya yang nampak tidak suka bisa dilihat oleh Herra dengan baik.


Segera Giana berdiri dari duduknya. "saya permisi nona. sepertinya disini terlalu panas."


" silahkan sekretaris Giana."Herra mempersilahkan dengan penuh sopan.


Giana memutar tubuhnya dan melangkah keluar dengan cepat.


" sekretaris Giana !!" panggil Herra lagi.


" sekretaris Giana. hati-hati saat menyalakan api. karna jika api itu sudah membesar, bisa saja api itu akan mengenaimu sendiri" ucap Herra.


Giana semakin meradang dan langsung memutar tubuh dan membuka pintu lalu keluar. bahkan guna mengungkapkan kekesalannya Ia sampai membanting pintu dengan keras.


"sialan Wanita itu !!! beraninya dia menasehatiku !!! pakai acara menyindir segala lagi !!!" umpat Giana dalam hati.


Didalam Herra memegangi dadanya. sumpah demi apapun bahkan sejak tadi sesak rasanya menahan keterkejutan jika suaminya tengah mengalami masalah sebesar itu yang tak disangka oleh Herra sejak tadi. Menutupi dengan tenang dihadapan Giana cukup menguras energi Herra. buliran bening dari kedua matanya tiba-tiba meluncur dengan sendirinya saat mata herra terpejam.


.


.


Narendra pun tiba dimarkas mereka. bahkan tatapannya sudah tidak bersahabat lagi. apalagi sebelum kemarkas Narendra terlebih dulu melihat rumahnya yang sudah hampir rata dengan tanah.

__ADS_1


beberapa anak buah yang berjaga diarea rumahnya agar jangan sampai diliput media, Mengatakan semuanya kronologi kejadian yang terjadi disana. Mendengar semuanya, Narendra seakan disulut api amarah yang membara. bahkan sejak dijalan tangannya begitu kuat memegangi stir mobil dan mengendarai bagaikan orang kesetanan.


Joy menunduk menyambut kedatangan Narendra.


" kau sudah tau siapa penyerang rumahku ??" tanya Narendra tanpa.basa basi.


" sudah tuan.mereka anggota mafia Flood. geng mafia terbesar didaerah sini. Pemimpin mereka bernama Betrand. saya rasa anda pasti sudah mendengar anggota besar mereka." terang Joy.


" mereka hanya bayaran kan ??" terka Narendra.


" saya rasa begitu tuan."balas Joy.


" siapkan semuanya !!! malam ini kita serang markas mereka !!!" perintah Narendra dengan keras.


joy mengangkat wajahnya. " tapi tuan..anak buah kita sepertinya akan kalah jumlah dengan mereka ??!!"


" lalu ??? kau takut ??!!" senyum psikopat yang sudah lama hilang kini dilayangkam oleh Narendra.


" bukan tuan.. saya hanya kawatir jika..-"


" kumpulkan semuanya !!! 10 menit !! saya tunggu !!" Perintah Narendra yang tanpa menunggu jawaban Joy langsung berjalan memasuki ruangan pribadinya.


Joy menatap punggung Narendra dengan seksama. menyerang kelompok mafia terbesar disana sangatlah beresiko. meski anak buah joy dan Narendra tak kalah banyak. tetap saja akan berbeda dengan anak buah para mafia itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2