
bab 151
.
.
.
Zakia bernafas lega saat ia berhasil membuat Herra kembali sadar meski masih lemah.
"terima kasih kak" ucap Herra lirih.
Zakia mengembangkan senyum seraya mengusap kepala adik iparnya itu.
" sama-sama. bagaimana sekarang ?? masih sakit perutnya ??" tanya Zakia dengan lemah lembut.
Herra menggeleng dengan pelan. "maaf sudah membuat kalian repot."ucap Herra lagi.
" kau bicara apa. sekarang istirahat ya ?? jika kau ingin makan sesuatu katakan saja." pesan Zakia.
Herra kembali mengangguk pelan.
suster Qiara membenahi Infus agar jangan sampai terjadi sesuatu lagi.
bersama Dengan Zakia, Suster Qiara keluar dari ruang rawat Herra.
Herra memejamkan mata hingga air mata kembali mengalir. "maafkan aku kak Kia, jika aku katakan masih sakit kau pasti akan memaksaku mengeluarkan dia sekarang.. aku tidak bisa kak..." batin Herra yang semakinmemejamkan mata menahan rasa sakit diperutnya.
saat Zakia sudah keluar Narendra buru-buru bangkit dan mendekati sang kakak. "kak, bagaimana keadaan herra ??maafkan aku kak aku hanya ingin Herra makan.."
" tenanglah Naren..semakin hari janin kalian semakin besar, Dan herra akan terus merasakan sakit, aku tidak akan tega jika melihatnya seperti ini terus..bujuklah dia agar mau merelakan janin kalian, nyawa Herra taruhannya Naren.." terang Zakia dengan mimik wajah Penuh kawatir.
Narendra tertunduk tak berdaya, ia harus bagaimana. bahkan belum ia katakan saja herra sudah kekeh akan bertahan.
" Zakia.. apa tidak ada cara lain ??" suara Bibi mayra terdengar. semua menatap Mayra dan mama Nada serta Bibi Nurra bersama Paman Mike yang datang bersama.
" Bibi pasti juga sudah memeriksa Herra kan ?? kehamilan seperti ini akan sangat berbahaya. paman Mike, kau kan juga dokter, kau tau kan seberbahaya apa kondisi seperti ini.." Zakia nampak amat frustasi.
__ADS_1
" tenanglah Zakia.." Mike membalas.
mama Nada masih terdiam, ia cukup prihatin dengan keadaan menantunya. harapannya hanya satu, kepulangan papa Revandra dengan membawa solusi.
" Masalahnya Herra pasti tidak akan mau kak.." ucap Narendra yang terduduk lemas.
Dirya mengusap punggung sang kakak agar kakaknya bisa kuat.
" pertahankan saja dulu Zakia..kita lihat perkembangannya jika masuk bulan berikutnya." saran mama.Nada.
Zakia mengangguk pelan. "iya ma.. aku berharap ada keajaiban yang datang nanti."
Semua nampak murung menanggapi keadaan Herra yang cukup memprihatinkan.
Suster Qiara yang berada disana cukup kagum dengan rasa kasih sayang dikeluarga Dirya.
.
.
Diluar sudah menunggu pria dengan rambut putih dikelapanya, dengan kaca mata bertengger dimata.
" kau menunggu dari tadi ??" tanya papa Revandra saat sudah dibawah.
" baru saja. mana darren ??" tanya kennan.
Darren.terlihat menuruni tangga pesawat. ia cukup terkejut dengan penampilan kakak iparnya itu.
" kak Ken ?? kau kah itu ??"
" tentu saja !! berapa lama kau tidak mengunjungiku ?!!" Balas Kennan.
" kau tua sekali kak ??!! ya ampun.. jika Nada tau dia pasti akan menangis.." celoteh Darren.
" jangan hiraukan mulutnya. ayo kita langsung saja." Ajak papa Revandra.
Kennan pun setuju, ia pun langsung masuk kedalam mobil diikuti papa Revandra dan juga Darren.
__ADS_1
" kampung halamanku..oh..aku pulang kampung Vandra.." ucap Darren saat sudah didalam mobil seraya mengedipkan mata pada Papa revandra.
" ya ampun.. kenapa kau tidak berubah anak nakal !!" gerutu Kennan.
" apa kau sudah hubungi temanmu itu ?? kita langsung akan bertemu dengannya kan ??" tanya Papa Revandra penuh harap.
" iya. aku sudah katakan padanya. ia tinggal menunggumu saja. kita akan berangkat besok."balas kennan.
Papa Revandra bernafas lega saat masalah putranya akan segera selesai.
" astaga Vandra.. aku tidak menyangka akan memiliki cucu lagi.." canda Kennan.
Papa Revandra pun menyunggingkan, "kau benar. dan kau masih setia sendiri saja."
" aku lebih tenang seperti ini.." balas Kennan seraya menyandarkan tubuhnya dikursi.
"pindahlah keIndonesia. setidaknya ada Nada dan Darren yang akan menjagamu.." saran Papa Revandra.
Kennan tersenyum. "aku lebih senang disini Vandra..dan kau sudah tau alasanku kan ??"
" terserah kau saja. berarti kau tidak mau menggendong cucuku lagi.."
" tentu saja aku akan menggendongnya. besok aku akan ikut denganmu pulang, dan sepertinya aku akan lama disana." terang Kennan.
" jika Nada Tau dia pasti akan senang sekali.." timpal darren.
" kita akan berkumpul mengurus menantu kita bersama-sama." ucap Kennan.
semua tertawa kecil, waktu seperti cepat sekali berputar, ketiga pria yang sudah tidak muda lagi itu sama sekali tak menyangka kini mereka sudah menjadi orangtua yang sesungguhnya dengan mengubur kenangan pahit masa lalu agar jangan sampai keturunan mereka mengetahui semuanya.
..
.
.
.
__ADS_1