
bab 50
.
.
.
Joy dan Narendra menurunkan Herra dirumah besar Revandra. Mereka beralasan urusan pekerjaan. Narendra juga memilih tidak turun, sebab akan sangat banyak alasan yang harus ia buat jika mama dan papanya tau ia pergi dengan joy dan meninggalkan Herra.
Sambutan hangat dari Nada begitu membuat Herra bahagia. benar saja, Nada sangat menyayangi Herra.
"sayang.. kau kesini..mama senang sekali.." ujar Nada seraya memeluk Herra.
" maaf ma, Herra harus kesini, soalnya kak Naren ada sedikit urusan."balas Herra.
Nada buru-buru membuka pelukannya.
" urusan ? urusan apa.sayang ??" tanya Nada keheranan.
" Herra juga tidak tau ma, tapi kak.Naren bersama kak joy kok."timpal Herra.
Nada mengangguk pertanda mengerti, lalu memilih menggiring Herra untuk bersantai bersama dirinya.
.
.
Mobil joy telah sampai dimarkas rahasia Narendra. bersama Narendra.yang diam sejak didalam mobil hingga membuat Joy sangat tidak nyaman.
laporan anak buah Joy yang mengatakan telah berhasil menangkap Granda membuat mereka segera datang.
Narendra segera turun setelah mobil.berhenti. ia kemudian langsung masuk tanpa sepatah katapun. joy pun langsung mengekor dibelakang Narendra.
__ADS_1
" mana dia ??" tanya Narendra dengan singkat.
" didalam sel tuan. mari.." Yus menuntun Narendra menuju dimana Granda disekap.
hingga mereka sudah tiba disebuah sel jeruji layaknya Tahanan penjara kantor polisi, duduklah seorang wanita yang wajahnya tertutup kain dengan kaki dan tangan diikat.
" emmmpt!!! emmmpt ?!!!" suara wanita yang Narendra yakini adalah granda terdengar meronta dengan mulut terbekap.
" buka penutup kepalanya.!!" perintah Narendra sambil.melipat kedua tangannya.
Yus pun langsung menggerakkan Kedua anak buahnya untuk mengikuti perintah bos besar mereka.
Kelegaan bisa dirasakan Narendra saat granda benar sudah tertangkap dan sudah didepan matanya.
Granda membulatkan mata dengan terus meronta meski mulutnya terbekap kain.
" kami benar kan tuan ??" tanya Yus.
" jadi kau yang menyuruh mereka mengurungku ??!" tuduh Granda.
Joy memberikan kursi kayu untuk duduk Narendra. dan Narendra segera duduk dengan senyum mengerikannya.
" aku sudah katakan sejak awal. tidak ada ampun untuk pengganggu dan penghianat."balas Narendra dengan suara santai.
" kau jahat Naren.. kau bilang mencintaiku, tapi apa ini yang kau katakan dengan cinta ??!! hanya karna satu kesalahan saja kau seperti ini dengan ku !!?" Protes Granda dengan air mata terus menetes.
Narendra terkekeh saat mendengar ucapan Granda. "kau bicara apa ?? Cinta ?? bahkan semua itu hilang begitu saja saat kau melakukan hal kotor dengan bajingan itu !!"
" kita juga pernah bercumbu kan Naren ??!! kau juga pernah menyentuh milikku ?? semua sudah aku berikan ??!!" teriak Granda
" diam kau !!! aku menjagamu layaknya berlian granda !! ya, aku memang mencumbumu, tapi aku memiliki batasan yang tidak boleh aku lakukan !! aku selalu memgendalikan diri dengan semua itu, tapi kau ?? kau dengan mudahnya membuka baju dan menyerahkan tubuhmu dengan pria tua itu !!! sekarang saat aku sudah mulai melupakanmu, dan belajar memaafkanmu, tapi kau malah menganggu kehidupan baruku !! bahkan membuat istriku salah faham !! kau masih ingat kata-kataku kan Granda ??" Terang Narendra penuh amarah,nampak sekali dari sorot mata yang ia layangkan.
Joy yang mendengar semua, hanya diam dan menjaga Narendra dengan berdiri siap siaga.
__ADS_1
" sampai kapan pun kau tidak akan bisa mencintai wanita itu Naren !! karna hanya aku pemilik hatimu !!" ujar Granda dengan suara tinggi.
plakk !!!
Narendra menampar pipi Granda.
" hah.. bahkan kau menjadi pecundang karna wanita itukan ??!" ejek Granda.
Tangan Narendra terkepal kuat, ejekan Granda membuat Narendra terbayang saat Herra menangis melihat kesalahfahaman semalam.
Narendra hendak mendekati Granda lagi, namun dicegah oleh Joy.
" tuan. sudah waktunya anda berangkat."
" bagaimana aku bisa tenang jika wanita gila ini masih hidup.Joy !!" balas Narendra.
" biar saya yang mengurus dia tuan. Herra akan curiga jika anda terlalu lama." terang Joy.
meski Narendra ingin memberi pelajaran Granda dengan tangannya sendiri, namun saat teringat Herra, semua ia urungkan, karna Narendra tak mau membuat Herra menunggu ataupun sampai terjadi kesalahfahaman lagi.
" baiklah." balas Narendra. yang kemudian melayangkan tatapan tajam kepada Granda. "kau harus bersyukur karna bukan tanganku yang membungkam mulutmu itu Granda.!!"
"kau tidak akan pernah bahagia Naren !!! tidak akan !!! meski kau membunuhku, kau tetap tidak akan bahagia !!!" teriak Granda berapi-api.
Narendra sudah tak terlihat, bahkan Narendra berusaha tak mendengar teriakan Granda yang begitu menggema diruangan itu.
.
.
.
.
__ADS_1