You Are Only Mine

You Are Only Mine
kekawatiran Herra


__ADS_3

bab 109


.


.


.


Sementara Herra yang merasa amat cemad dirumah hanya mondar mandir diruang keluarga sembari memegangi ponselnya. ia sangat berharap suaminya memberi kabar,namun hingga Hari menjelang siang tak ada panggilan atau bahkan pesan yang ia dapatkan.


" nona.. tuan tadi berpesan. nona disuruh makan dulu.. ini sudah siang nanti nona malah sakit.." bik Rima yang ditugaskan menjaga Herra membujuk Herra sembari menghampirinya.


" bagaimana aku bisa makan bik, jika suamiku saja belum tau pasti bagaimana dan dimana sekarang ?? apa kak Naren langsung kekantor ?? atau keapartemen ??" Herra malah bertanya pada Bik Rima.


" bibik juga tidak tau non." balas Bik rima.


wajah Herra kembali murung. ia sangat kawatir pada suami dan kakaknya. biar bagaimanapun Herra sangat tau pabrik itulah awal dimana kedua pria hebatnya itu merintis usaha.


" bik. ada sopir kan dirumah ??" tanya Herra


" ada Nona. nona mau kuliah ??" tanya Bik rima.


" bukan bik.. aku sedang cuti. itu, aku mau kekantor kak Naren. sekalian bawa sarapan buat kak Naren dan kak joy."terang Herra.


" tapi nona. tuan tadi berpesan nona jangan kemana-kemana. nanti bibi kenak marah kalau nona pergi.."balas Bik Rima dengan serius.

__ADS_1


" tapi aku kan hanya mau kekantor saja bik !!!? bukan pergi ketempat lain !!" protes Herra dengan kesal.


Bik Rima kebingungan. ia harus bagaimana.


" pokoknya Herra mau pergi !!" Herra berlari hendak keluar dari rumah.


" eh.. non !!! nona !!! iya..iya..iya.. Nona jangan pergi sendiri ya ?? bibi temani.." cegah bik rima akhirnya mengalah.


" itu ide bagus. ayo bik.."Herra mengalungkan tangannya dilengan bibi Rima dan menyeret bik Rima keluar dari rumah.


kekawatiran yang memuncak seolah mengalahkan rasa takut jika saja suaminya nanti marah. tak peduli, hanya itu yang difikirkan Herra, ingin mengetahui suami dan kakaknya baik-baik saja itulah keinginannya kini.


.


.


tak sengaja didepan pintu Herra berpapasan dengan Giana sang sekretaris Joy yang seksi.


" eh..nona. ada apa.kemari ??" tanya giana dengan santai.


" kau ??!! em..suamiku ada diruangannya kan ?? dan juga..kakakku. apa dia sudah dikantor ??" Herra melayangkan pertanyaan pada Giana.


Giana menyunggingkan senyum sinis. "cih..suami..seperti punya suami sendiri !!" gerutu Giana dalam hati


"tuan besar dan tuan Joy belum ada dikantor nona. bahkan sejak tadi saya menghubungi mereka karna akan ada pertemuan pagi ini dengan Klien." terang Giana. "apa tuan besar tidak tidur dirumah ?? seharusnya kan nona tau kemana perginya tuan ??" tambah Giana dengan melipat kedua tangannya seolah mengejek Herra.

__ADS_1


" hey kau !! jaga sikapmu ya ?!!!! apa kau lupa dia siapa !!!?" tegur Bik Rima yang bisa melihat jika Giana tengah memprovokasi Herra.


Giana memutar bola matanya dengan malas saat mendapat teguran dari Bik Rima.


" ya sudah. jika mereka sudah datang bisa kah kau menghubungiku ??" Ujar Herra.penuh harap.


Giana menyunggingkan senyum kembali. "baiklah nona. saya akan menghubungi anda nanti. tapi jika tuan datang ya ??"


" kalau begitu saya permisi.." Herra nampak tak bersemangat memutar tubuh dan melangkah meninggalkan giana yang masih berdiri didepan pintu masuk.


Bik Rima menatap tak suka pada Giana. lalu menyusul langkah nona mudanya.


" kau dimana ?? apa kau dan kak Joy baik-baik saja ??" gumam Herra.


Bik rima mengusap punggung herra memberi semangat. "tuan Naren dan tuan joy itu bukan orang yang gampang lemah apalagi bersedih nona, saya yakin mereka tengah berbincang untuk membangun kembali pabrik itu..Nona jangan sedih.. kita tunggu dirumah saja ya ??" bujuk Bik Rima.


Herra menatap pelayan yang setia menemaninya itu.


"bibi tau pabriknya dimana ??" tanya Herra seolah berharap.


" nona jangan berfikir.mau kesana ??!! bahaya..!! tuan akan marah besar nanti.. sudah ayo kita pulang saja.." cegah bik Rima dengan wajah penuh ketakutan.


Herra menyandarkan kepalanya lalu mengangguk. bik rima sedikit.bernafas lega saat Herra tak keras kepala lagi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2