You Are Only Mine

You Are Only Mine
kau adalah ratuku


__ADS_3

bab 62


.


.


.


Didalam rumah, Herra disuguhkan ruangan yang begitu luas layaknya hallroom tempat untuk berkumpul.banyak orang. dengan interior yang sangat mewah dan begitu tertata rapi khas wilayah bali.


Herra mengedarkan mata menatap sekeliling dengan takjub. Langkah mereka masih berlanjut dengan Herra yang terus dituntun Narendra dengan genggaman tangan yang kuat.


Pelayan menuji tangga dan mulai menapakinya.


Narendra menarik Herra agar ikut naik bersama dirinya. meski tak ada kata apapun dari mulut Narendra, Herra tetap patuh dan mengikuti saja.


Deretan pintu yang diyakini Herra adalah kamar dilantai dua hingga tempat santai yang begitu luas juga nampak saat Mereka sudah tiba ditangga terakhir.


Pelayan nampak membuka salah satu pintu yang memang cukup besar.


" silahkan tuan.. nona.." Pelayan mempersilahkan kedua anak manusia itu.


Narendra terus menarik Herra untuk masuk kedalam kamar itu


" terima kasih. " balas Herra yang melewati pelayan.


" kalau begitu saya permisi dulu tuan..nona.."pamit sang pelayan.


" iya bik.." balas Herra lagi. ia kemudian mengantar Pelayan hingga pintu lalu menutup pintu kamar itu.

__ADS_1


Herra meraih kopernya yang sudah dimasukkan kedalam kamar itu. Luas kamar yang ia tempati saat inimenurut Herra sama dengan apartemen yang ia tempati dijakarta.


Herra yang terus terfokus pada kamar yang luas, tak menyadari sejak tadi Narendra memperhatikannya dengan melipat kedua tangannya didada.


" belum puas menatap kamar ??" tegur Narendra yang tidak tahan melihat betapa Herra sangat tidak peka.


" eh.. kak.. em.. iya .. emm.. maksudku maaf, aku tidak terbiasa." balas Herra gelagapan


" mulai sekarang kau akan terbiasa. sebab kita akan tinggal disini.." ujar narendra yang melangkah mendekati Herra.


Ditatap dengan begitu intens oleh Narendra begitu membuat Herra salah tingkah.


Hingga tiba didepan Herra Narendra masih tetap menatap wajah polos khas Herra yang begitu canggung itu.


Herra mengerjapkan matanya beberapa kali agar kesadarannya tetap utuh,


Narendra semakin mendekatkan dirinya hingga mencondongkan wajahnya, gerakan spontan itu membuat Herra langsung memejamkan mata.


" kau fikir aku mau apa ?? aku hanya mau menyusun pakaianmu." bisik Narendra sebelah tangannya meraih koper Yang ada dibelakang Herra.


sontak Herra membuka mata, wajahnya memerah layaknya tomat yang sudah matang. ia fikir Narendra akan menciumnya.


Herra seketika tertunduk sungguh memalukan, entah mengapa fikirannya malah terarah kesana.


Narendra menarik koper Herra menuju walk in closet miliknya.


Herra melirik sedikit seolah ingin tau suaminya akan kemana dengan kopernya.


" kemarilah. aku akan beritau tempat pakaianmu.." panggil Narendra.

__ADS_1


Herra menggerutu pelan"kok dia tau sih maksudku !!" seraya melangkah pelan mendekati Narendra.


Masuk diwalk in closet itu Herra dibuat kagum kembali. tempat pakaian seluas itu. dimana semua milik Narendra sudah tersusun rapi disisi kiri, sedangkan disisi kanan juga sudah lengkap pakaian wanita. entah karna apa juga tiba-tiba otak Herra malah berfikir negatif lagi.


" kak.. apa ini bajunya kak Zakia ?? kenapa sudah ada pakaian wanita disini ??"


" bukan. buka saja. itu baru atau sudah dipakai " balas Narendra.


Herra mencerna apa yang dikatakan suaminya. Narendra melirik Herra dengan senyum tipis, ia melangkah membuka lemari kaca yang didalamnya tergantung beberapa mini dres dan gaun santai serta gaun malam dan pesta. semua masih berbandrol.


Narendra selesai menyusun baju herra disana lalu beralih pada Herra yang mematung didepan banyaknya baju itu.


" ini semua adalah milikmu. pakaianmu dan semua kebutuhan wanitamu ada disini. disebelah sana adalah milikku. jadi..." Narendra memutar tubuh Herra dan memegang kedua pundak Herra. "ini semua adalah milikmu."


Seakan tak percaya dengan yang ia dengar, mata Herra membulat sempurna. suaminya ternyata menyiapkan semua kebutuhannya. termasuk pakaian.


" kenapa ??" Tanya Narendra saat respon Herra malah hanya mematung.


" tidak..tapi kak.. ini terlalu berlebihan.." balas Herra.


Narendra berpindah menggenggam tangan Herra dengan erat. "dengar satu hal. kau istriku, kau wajib mendapatkannya. toh sebentar lagi kau juga akan berkuliah,"


" dan satu lagi, kau disini tidak boleh melakukan apapun. semua sudah dikerjakan pelayan. jika kau butuh sesuatu saat aku tidak dirumah, kau bisa menyuruh pelayan atau penjaga membantu dan menolongmu. kau nyonya Narendra Ambara," tambah Narendra.


Herra mengembangkan senyum dan langsung memeluk Narendra, " terima kasih selalu memperlakukanku seperti ratu.." ucap Herra dengan lirih. entah mengapa diperlakukan seperti itu malah membuat Herra sangat terharu. tidak ada ikatan cinta antara keduanya, hanya ikatan pernikahan yang sah dimata Tuhan yang mereka jalani, tapi sepertinya Narendra amat berusaha menerima dan membuka hati untuk Herra, sungguh Herra benar-benar semakin kagum dengan sosok suami yang ia miliki saat ini.


Narendra menerima pelukan Herra dengan mendekap tubuh mungil Herra dengan erat. "kau memang ratuku Herra, dan aku rasa aku memang mulai menyukaimu.." batin Narendra tanpa berani mengatakan yang sesungguhnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2