
bab 154
.
.
.
Saat Narendra kembali, Herra tengah tertidur pulas dengan suster qiara yang masih setia disisinya.
" dia tidur dari tadi sus ??" tanya Narendra.
" iya tuan." jawab Qiara pelan.
" terima kasih.." balas Narendra. seraya menyerahkan sebuah paper bag pada Qiara. "ambillah, anggap ini hadiah untukmu. aku dengar kau dekat dengan adikku"
Qiara terkejut saat Narendra mengatakan hal itu. secepat mungkin qiara langsung menunduk menyembunyikan kedua pipinya yang memerah.
" ka..kalau begitu saya permisi tuan. terima kasih." ucap Qiara terbata dan giguk.
" iya." balas Narendra.
Qiara dengan cepat melangkah menuju pintu dan keluar.
__ADS_1
Didalam Narendra menyunggingkan senyum saat melihat tingkah wanita yang dekat dengan adiknya itu.
" suster Qiara dekat dengan siapa ?? draka atau dirya ??" tanya Herra yang baru saja membuka mata. indra pendengaran Herra sangatlah tajam hingga percakapan sepelan apapun ia bisa mendengarnya.
Narendra menoleh kearah istrinya dan tersenyum "sayang.. kau sudah bangun.." Segera Narendra duduk disisi Herra ditepi ranjang.
" aku mendengar dari Draka kalau Dirya tengah dekat dengan suster tadi."terang Narendra
" adikmu pandai sekali memilih wanita. dia sholehah,baik, dan sopan." ucap Herra.
Narendra mencium kening Herra dengan perlahan. "aku juga pandai memilih istri kan ??"
Herra tersenyum tipis menanggapi, "tapi aku bukan istri yang baik kak ?? aku malah menjadi beban untukmu.."
Narendra menangkupkan kedua tangannya dikedua pipi Herra. "hey, siapa bilang kau beban untukku ?? kau anugerah yang dikirim Tuhan untuk menerangi jalanku yang hitam. kita memang sedang diuji dengan keadaan kehamilanmu, bukan berarti kau beban dan tidak baik. berhenti memikirkan hal yang tidak penting seperti itu, fokuslah pada dia..dia membutuhkan kasih sayangmu." terang Narendra seraya terus mengusap perut rata Herra.
" oh ya, aku bawakan anggurnya." Narendra segera membuka kantong paper bag berisi anggur pesanan Herra.
" kak, kau beli banyak sekali.." tegur Herra saat melihat narendra mengeluarkan banyaknya buah anggur dari paper bag.
" tentu saja. aku kan juga mau.." canda Narendra. Herra tertawa kecil saat mendapat candaan dari suaminya.
" tunggu sebentar, aku cuci dulu ya.." Narendra dengan cekatan membawa sekantung Anggur guna membersihkannya terlebih dahulu, ia tidak mau sampai kotor.
__ADS_1
Tak lama ia sudah membawanya mendekat pada Herra.
dengan penuh kehati-hatian Narendra menyuapkan satu persatu buah unggu itu
" kenapa ??" tanya Narendra saat Herra belum membuka mulutnya.
"nanti kalau perutku tidak mau menerima buah ini bagaimana ??" tanya Herra balik. hal itu sungguh benar-benar membuat hati Narendra teriris.
"kita coba dulu sayang.. kau kan sangat menginginkan buah ini.."hibur Narendra.
Ragu-ragu Herra membuka mulut dan menerima suapan buah dari suaminya.
Perlahan ia mengunyah buah unggu yang memang manis sekali itu.
Hingga tertelan dan meluncur diperutnya Herra terdiam lagi. ia tidak mau sampai seperti sebelumnya, semua kawatir karna ia muntah tak berhenti setelah makan.
" aku tidak muntah kak.." ucap Herra nampak sekali kebahagiaan.
Narendra pun tak kalah bahagia, "itu bagus sayang.. ayo buka mulutmu lagi.." Kembali Narendra menyodorkan satu buah kemulut Herra. Herra pun senantiasa menerimanya.
rasa syukur tak lupa dipanjatkan Narendra didalam hati, setidaknya ada buah yang bisa diterima perut istrinya. "kasihan kau sayang..semoga kita bisa melewati semua ini.." batin Narendra.
.
__ADS_1
.
.