
bab 150
.
.
Narendra kembali menghujani wajah Herra dengan ciuman tiada henti.
" sudah jangan menangis.. aku tidak sanggup melihat kau menangis seperti ini.." bujuk Narendra seraya mengusap sisa air mata dikedua pipi Herra.
Sembari sesenggukan Herra mengangguk.
" baiklah. kita mulai dengan sarapanmu ya ?? kau harus makan yang banyak, agar kau memiliki tenaga menjaga dia.." ujar Narendra seraya duduk disisi istrinya dan meraih piring berisi makanan yang sudah disiapkan perawat yang bertugas.
Meski masih tetap mengalir air matanya, Herra berusaha tersenyum dan mengangguk penuh semangat. ia pun siap disuapi oleh Narendra.
" buka mulutmu sayang.." Narendra menyodorkan sendok berisi makanan.
Patuh, Herra pun segera membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan dari suaminya, meski sebenarnya ia tak bisa memakan memakannya, namun terpaksa ia lakukan demi calon buah hati mereka yang sedang diperjuangkan.
Baru dua suapan, Perut Herra sudah tak bisa dikondisikan lagi. seakan tak mau menerima makanan itu, dan Seketika makanan itu keluar lagi seiring dengan muntahan Herra.
uuwekkk !!
uwwekk !!
Narendra pun buru-buru mengambil tempat yang memang sudah disiapkan.
miris sekali saat melihat Herra yang muntah tiada henti.
__ADS_1
sangking banyaknya hingga membuat Herra terkapar lemas.
Narendra pun dengan cekatan mengambil tisu membersihkan bekas-bekas muntahan disekitar mulut Herra.
" ka..k..maaf.." ujar Herra terbata.
" tidak apa sayang..aku panggilkan dokter ya ??" Balas Narendra yang begitu kawatir.
bersamaan dengan Narendra yang hendak keluar, Dirya dan Suster Qiara masuk.
" sus tolong periksa istriku !!" pinta Narendra penuh kawatir.
" ada apa dengan kakak ipar kak ??" tanya Dirya ikut kawatir.
Qiara langsung berlari mendekati pasiennya. ia pun mengeluarkan alatnya dan memeriksa tekanan darah dan yang lain.
" dokter Zakia belum datang ya ??" tanya Qiara.
" kak Zakia sudah disini. mama memintaku membawakan sarapan untuk kalian." timpal Dirya.
" tolong panggilkan dokter Zakia.." pinta Qiara pada Dirya
Dirya pun segera mengangguk dan seegera berlari keluar setelah meletakkan kotak-kotak makanan yang ia bawa.
Narendra kembali mendekati Herra yang lemah tak berdaya dengan kondisi setengah sadar.
" sayang.. bertahanlah aku mohon.." Gumam Narendra yang terus menggenggam erat jemari Herra dan terus menciuminya.
Suster Qiara juga berlari keluar memgambil beberapa vitamin yang harus ia suntikkan diinfus herra.
__ADS_1
Zakia berlari dengan cepat diikuti Dirya dan berpapasan dengan suster qiara mereka mempercepat langkah agar segera tiba diruangan rawat Herra.
Tiba didalam Zakia dengan cekatan menolong Herra yang amat tak berdaya itu.
" Naren.. kau keluarlah dulu.." pinta Zakia.
Meski tak mau, namun keselamatan istrinyalah yang nomer satu. hingga terpaksa Narendra keluar.
Diluar Dirya yang awalnya duduk segera berdiri. "kakak.. duduklah dulu.." ajak Dirya agar sang kakak tak begitu kalut
Patuh, Seakan tak memiliki kekuatan, Narendra langsung terduduk lemah.
" sabarlah kak.. kita berdoa saja yang baik-baik. semoga kakak ipar baik-baik saja." tutur Dirya.
Narendra terus mengusap wajahnya dengan kasar. ia tak boleh sampai putus asa dengan semua keadaan ini.
.
.
.
papa Revandra beserta Darren dan asisten mereka masih didalam pesawat. melakukan perjalanan yang cukup jauh demi kesembuhan menantunya. terbesit kenangan dimana Dia juga pernah berada dititik penuh kesedihan seperti ini.
" tuan. waktunya makan siang.." ucap Romi membuyarkan lamunan Papa Revandra yang duduk menyendiri didekat meja biliard.
" panggil darren Rom.." balas Papa Revandra.
" tuan Darren sudah disana.tinggal menunggu anda saja."balas Romi balik.
__ADS_1
Papa Revandra segera berdiri lalu segera keluar dari kamar guna melakukan acara makan siang mereka.