
bab 47
.
.
.
Setelah perbincangan selesai, Herra membersihkan diri dan bergantian dengan Narendra.
Herra duduk didepan cermin sambil menyisir rambutnya yang memang tak sengaja ia cuci, sebab semalam ia lupa mencucinya.
Narendra yang baru keluar sedikit menyeringai, saat melihat rambut Herra yang masih sedikit basah. entah apa yang ada difikiran pria dewasa itu.
" kakak mau aku siapkan baju apa ??" tanya Herra buru-buru berdiri dan menatap Narendra yang baru keluar dari kamar mandi, seketika Herra tertunduk, ia merasa belum berani melihat Narendra yang hanya menggunakan handuk yang terlilit dipinggangnya tanpa penutup tubuh yang lain.
" baju santai saja Her," balas Narendra dengan mudah.
Herra terus tertunduk menuju Koper milik Narendra tanpa berani mengangkat wajahnya. ia mengambil sesuai keinginan suaminya dan ragu-ragu mau menyerahkan.
" Herra.. mana ?? kita ditunggu mama dibawah.." pinta Narendra.
" aku taruh sini ya kak."balas Herra.
" kenapa ?? bawa sini dong.." timpal Narendra. pura-pura tidak faham. padahal sejak tadi ia berusaha menahan tawa saat melihat ekspresi lucu dari Herra.
Ragu-ragu Herra berjalan mendekati Narendra yang masih didepan pintu kamar mandi. dan masih denganposisi yang sama menunduk.
" ini kak.." Herra menyerahkan setelan baju kepada Narendra tanpa.menatap.
Narendra menerima, namun kejahilan Narendra kembali terjadi. Narendra menarik lengan Herra hingga Herra bertabrakan dengan dada bidang Narendra yang terbuka itu.
" aahhh !!" pekik Herra yang terkejut dan langsung menundukkan wajahnya
" kenapa kau menunduk terus ?? masih marah denganku ??" tanya Narendra.
Herra segera menggeleng. " tidak..tidak.. lepaskan dulu kak.. kakak kan harus ganti baju.."
__ADS_1
" jika tidak kenapa kau tidak mau menatapku..??" tanya Narendra kembali.
Herra bingung mau menjawab apa, hingga tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya. " emm..lepas dulu.. Herra malu kak.."
Narendra malah mempererat tangannya yang melingkar dipinggang Herra. "kenapa kau malu ?? aku ini suamimu."
"tetap saja.. ?!" protes Herra yang begitu tidak bisa. tangan Herra yang menahan tubuhnya agar tidak bertabrakan langsung dengan Dada Narendra bisa merasakan dada bidang nan seksi milik Narendra.
Narendra yang gemas dengan bibir Herra yang digigit sendiri oleh Herra langsung mencium bibir itu dengan cepat. Herra membulatkan mata dan memukul dada Narendra. namun Narendra tak melepas ciumanya. malah semakin memperdalam dengan menarik lebih lagi pinggang Herra. perlahan kekuatan Herra melemah seiring dengan sensasi ciuman yang diberikan Narendra. entah mengapa Herra seakan menikmatinya. Herra nampak begitu kaku dengan perlakuan Narendra. hingga Narendra mengarahkan tangan Herra agar mengalung dilehernya. tak ada penolakan, Herra mengikuti begitu saja, seakan gejolak dihatinya sudah tau, Keduanya terlibat pertukaran slavina dengan saling memejamkan mata.
Ciuman terus diperdalam Narendra yang berubah menjadi bertambah panas, bahkan Narendra telah berpindah dileher Herra lalu mengukir indah tanda kepemilikan disana.
" aaahhh !!" ******* tertahan Dari mulut Herra terdengar begitu menyiksa gejolak Narendra
Tangan Narendra mulai bergerilya mencari tempat yang pas dimana tangan itu semestinya. Belum sempat terjangkau suara ketukan pintu membuyarkan semuanya.
tokkk !!!
tokk !!
Herra segera melepas bibirnya yang terus saja dilahap Narendra.
" kak, ada adikmu" ujar Herra.
"biarkan saja."balas Narendra yang hendak kembali menyambar bibir Herra. buru-buru mencegah dengan menutup bibir Narendra menggunakan tangannya.
" mama menunggu kak.. kau mau membuat mama kecewa ??" tambah Herra.
Narendra mendegus kesal saat Herra berlari membukakan pintu. "Kembar sialan !! mengganggu saja !!" umpat Narendra dengan kesal.
Herra membenahi penampilannya dan segera membuka pintu.
" oh.. hay kakak ipar. aku kesini mau mengajak kalian sarapan." sapa Dirya.
" iya.. kak Naren masih ganti baju. kami segera turun."balas Herra dengan kikuk.
Dirya melirik kedalam dan nampak sekali sang kakak yang sedang mengenakan kaos. " baiklah. kami tunggu kakak ipar."
__ADS_1
Herra hanya mengangguk dengan senyum tipis yang dilayangkan. Kepergian dirya sedikit membuat Herra merasa lega. kemudian Herra menutup kembali pintunya.
" ada apa dia kemari ?? hanya menganggu kan ??!" tanya Narendra yang sudah lengkap menggunakan pakaian.
" mama menunggu kita untuk sarapan dibawah kak." balas Herra.
" pasti ini ulah papa.."gumam Narendra.
" apa kak ??" tanya Herra yang kurang jelas mendengar.
" tidak ada. ayok kita turun. " ajak.Narendra.
Herra segera mengangguk. " tunggu sebentar kak." Herra berlari menuju meja rias sedangkan Narendra setia menunggu. Nampak Herra mengambil ikat rambut dan dengan cepat mengikat rambutnya keatas, hingga leher jenjang milik Herra terpampang jelas. bahkan tanda buatan Narendra tadi bisa dilihat Narendra sendiri. Selesai Herra langsung menghampiri Narendra tanpa melihat Ada tanda merah dilehernya.
Narendra yang tau hanya tersenyum dan diam saja.
" sudah kak. ayo.." ujar Herra.
" kau lebih cantik seperti ini." puji Narendra.
Wajah Herra bersemu merah yang menjadi kebiasaannya adalah menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti tomat.
Sungguh Narendra dibuat gemas saat melihat ekpresi malu Herra. Segera Narendra menarik tangan Herra dan ia genggam, " ayo." ajak Narendra. kemudian keduanya beriringan untuk turun dimana sang keluarga tengah menunggu.
.
.
.
othor nyambi bikin kripik ni kak , jadi sabar ya 😊😊🙏🙏🙏
.
.
.
__ADS_1