
bab 141
.
.
.
Pesawat mengudara dengan tenang, Herra dibuat kagum dengan isi didalam pesawat itu.
kemewahanlah yang ada didalamnya. tak seperti pesawat pada umumnya, didalam hanya ada ruangan dengan pintu-pintu yang didalamnya terdapat Tempat tidur king size dengan fasilitas pintar yang lengkap. Herra kini juga berada dikamar dan bersandar ditempat tidur dengan santai dengan Narendra disisinya.
Sembari melihat keluar dari jendela kecil kaca Pesawat, Herra terus dibuat kagum dengan semuanya.
" aku tidak menyangka papa sekaya ini.." ucap Herra.
Narendra terkekeh mendengar ucapan istrinya.
" kau saja tidak menyangka. apa lagi aku yang anaknya." balas Narendra.
" jika dihitung berapa banyak kekayaan papa mertua ??!" tanya Herra yang tidak bisa menyembunyikan rasa ingin taunya.
" mana aku tau !!" balas Narendra singkat..
" ah.. kakak !! aku kan bertanya !! masa kakak yang anaknya tidak tau ??!!" protes Herra.
__ADS_1
" sayang aku memang tidak tau. selama ini baik mama maupun papa tidak pernah mengatakan apapun tentang harta. bahkan papa tidak pernah mengajakku naik pesawat ini. kau sangat beruntung, karna hanya demi kau papa mau mengeluarkan pesawat ini.." tutur Narendra.
"benarkah itu ??? apa Dirya dan Draka juga tidak pernah menaiki pesawat ini ??!" Herra semakin penasaran dibuatnya.
Narendra dengan cepat menggeleng. "tidak ada. hanya mama saja yang diperbolehkan. aku juga tidak tau kenapa, bahkan aku tau papa punya pesawat pribadi dari Andika. putranya paman romi." terang Narendra.
" apa tidak boleh bertanya pada papa mertua.??" kembali Herra bertanya.
" aku tidak mau. papa pasti akan mengejekku iri dengan yang dia miliki." balas Narendra dengan cepat.
Herra mengangguk pertanda mengerti. ternyata mertua laki-lakinya sangat tertutup meski dengan semua anak-anaknya.
Tak lama terdengar ketukan pintu yang diikuti pemberitahuan secara otomatis .
" kak.. itu siapa ??" tanya Herra seraya menatap suaminya.
" inilah kecanggihan pesawat papa saya. ayo aku bantu kekursi roda, kita harus segera keluar."balas Narendra yang dengan cekatan mengangkat tubuh Herra dan menempatkan perlahan dikursi roda.
Baru didepan pintu Narendra dan Herra sudah bertemu dengan Mayra.
" baru saja aku diminta papamu kesini..ayo..kita makan.." ajak mayra dengan senyum keramahannya.
Mereka bersama beriringan menuju meja makan. dan kembali mata herra disuguhkan sebuah keindahan lagi. entah bagaimana membuatnya, Sampai Didalam pesawat bisa seperti didalam rumah.
"kalian sudah datang.. kemarilah.. Herra, kau mau makan apa Nak ??" tawar Papa Revandra dengan penuh perhatian.
__ADS_1
Herra menatap berbagai macam menu dihadapannya. bahkan mereka hanya berempat, tapi menunya sangat banyak.
" apa kau tidak menyukai menunya ??" tanya Darren.
" tidak paman.. maaf pa, Herra makan apa saja kok.." balas Herra dengan sopan.
"baguslah. papa fikir kau juga kehilangan selera makan saat hamil. dulu mama mertuamu begitu.." terang Papa Revandra seraya mulai menyantap makanan.
" Herra hanya tidak mau makan nasi pa.."ralat Narendra.
" tidak masalah. asal kau makan sayur, buah dan protein, itu sudah mencukupi gizi kok.." ucap Mayra seraya mengambilkan sayuran kepiring Herra. "makanlah sayang.." Mayra mempersilahkan Herra.
semua nampak hangat dan penuh kasih sayang, Herra sangat beryukur sekali berada diantara orang-orang yang sangat menyayanginya.
Pelayan dipesawat beberapa kali berlalu lalang saat mengambilkan minum dan beberapa keperluan untuk bos besar mereka.
Saat melihat pramugari yang juga pelayan didalam pesawat itu entah mengapa otak Herra langsung terbesit pertanyaan konyol.
"mereka dibayar berapa ya ??" batin Herra.
.
.
.
__ADS_1