
bab 61
.
.
Didalam mobil Narendra nampak begitu kusut dan diam saja. ia bahkan menatap keluar jendela. sementara Herra menunduk sembari meremas jemarinya. ia begitu takut jika Narendra marah sebab tadi mengabaikan keberadaan Narendra saat bertemu Key.
Joy yang menyetir didepan menatap pasangan dibelakangnya yang sedikit terlihat muram semua. Sesaat joy menerka apa yang telah terjadi. namun malah fikiran.kotor yang keluar dari otakknya. Joy segera menepis, ia tidak mau terlalu ikut campur urusan rumah tangga adiknya. setidaknya.jika.bukan.hal serius buat apa dibesar-besarkan. fikir Joy.
Herra melirik Narendra begitupun sebaliknya namun secepatnya keduanya langsung kembali sama-sama membuang tatapan mereka dengan perasaan masing-masing.
"*kak Naren apa marah ya ?? biasanya dia akan banyak bicara tapi ini kenapa diam terus.." batin Herra
"herra kok tidak peka sih !! harusnya kan dia minta maaf karna mengabaikan aku tadi !! huh, apa harus aku mengatakan aku menyukainya baru dia akan minta maaf !!" batin Narendra*.
Hingga tiba dirumah besar milik Narendra mereka berdua setia diam.
Herra tersadar saat melihat mobil yang ditumpangi memasuki Rumah yang begitu besar dengan halaman yang cukup luas, bahkan ada beberapa penjaga disana.
" kak joy, kita mampir kemana ini ?? rumah siapa sebesar ini ??" tanya Herra
Joy menghentikan mobilnya tepat didepan tangga dimana jalan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
" ini rumah tuan Naren Her." balas Joy yang turun terlebih dulu.
Herra melongo seraya menatap Narendra yang juga hanya diam..Narendra tak menjelaskan apapun, sepertinya memang ia masih setia untuk diam. ia hanya langsung turun meninggalkan Herra yang mematung didalam mobil
Joy menurunkan koper Herra dari bagasi mobilnya, Buru-buru Narendra meraih koper itu. "joy biar aku saja. aku bukan adik ipar yang kejam !!" ujar Narendra.
" tuan jangan seperti itu. ini kan memang tugas saya." balas Joy.
" tugasmu jika dikantor. diluar kau adalah kakak iparku.." timpal Narendra.
Joy tersenyum tipis mendengar penuturan bosnya. terasa cukup menggelitik, setidaknya pangkatnya sedikit naik menjadi kakak ipar.
didepan pintu yang baru terbuka, segera keluar 3 pelayan yang siap menyambut kedatangan majikan mereka.
Herra buru-buru keluar dan meneliti sekeliling lalu berhenti pada kakak dan suaminya.
Herra langsung mengangguk seraya berlari mendekati Suami dan kakaknya.
Narendra menggenggam jemari Herra dengan begitu kuat dan satu tangan membawa koper milik Herra.
pelayan langsung menerima koper Narendra seraya menyapa.
" selamat datang tuan dan Nona.."
__ADS_1
" bawa koper ini kekamar utama. dan dengarkan !!" ucap Narendra dengan suara lantang kepada pelayan sertta penjaga rumahnya.
" dia Herra istri saya. yang sudah pasti adalah nyonya dirumah ini. jadi kalian juga harus patuh pada dia, saya tidak mau mendengar gosip atau perkataan tak berguna disini, karna mulai sekarang saya akan tinggal disini bersama istri saya.." terang Narendra dengan lantang saat memperkenalkan Herra kepada penghuni rumahnya.
Semua nampak menunduk pertanda mengerti. "selamat datang dan semoga betah tinggal disini nona." sapa salah satu pelayan yang terlihat lebih tua dari yang lain.
" dia bik Rumi. kepala pelayan disini." ucap Narendra pada Herra.
Herra mengangguk dengan senyum manis yang diperlihatkan begitu ramah.
" tuan. saya tidak bisa mampir, karna ada beberapa hal yang harus saya selesaikan." ujar Joy.
Herra menatap sang kakak, "kakak keapartemen ??"
" iya." joy berjalan mendekati Herra seraya mengusap rambut adiknya. "ingat satu hal. kau sudah berstatus istri. mulailah bersifat dewasa."nasehat joy pada Herra.
Herra segera mengangguk. ia cukup mengerti maksud sang kakak. sementara Narendra yang mendengar menyunggingkan senyum, Joy ternyata cukup dewasa dalam menasehati adiknya.
Setelahnya, Joy langsung pergi menggunakan mobilnya.
Narendra mengajak Herra untuk masuk kedalam rumah besar itu. Kagum, hanya itu yang Herra rasakan. bahkan rumah Narendra disitu sungguh benar lebih dan lebih besar dari rumah Orangtua Narendra dijakarta.
.
__ADS_1
.
.