
bab 16
.
.
.
Acara sarapan pagi itu berlangsung cukup canggung. Joy sesekali memperhatikan bosnya yang makan amat lahap meski hanya sepiring nasi goreng.
"dia lapar atau doyan.." batin Joy.
sementara Herra hanya sesekali saja menatap sang kakak dan Narendra.
" emm.. maaf, aku sudah selesai mau bersih-bersih dulu.." pamit Herra dengan sopan.
" apa makanmu sudah selesai ??" tanya Narendra mendahului pertanyaan joy.
" sudah tuan. saya permisi.."Herra hendak melangkah namun dicegah kembali oleh Naredra.
" tunggu sebentar, aku mau bicara."
" dengan Herra atau dengan saya tuan ??" tanya Joy memperjelas.
" tentu saja dengan kalian berdua.!!" balas Narendra.
wajah yang nampak begitu gusar dan bingung terlihat pada Narendra.
Herra kemudian terduduk kembali, baik Herra maupun Joy menunggu Narendra bersuara.
Narendra sendiri kebingungan harus memulai dari mana, tapi kehendak sang mama pagi tadi terus saja membelenggu dirinya, apa lagi pesan singkat dari sang kakak yang mengatakan jika jantung mama Nada sudah cukup parah, Narendra benar-benat pusing dibuatnya.
__ADS_1
" tuan.. bisa tidak dipercepat. saya harus kesekolah. hari ini pengumuman kelulusan saya.." ujar zherra memberanikan diri.
narendra menghela nafasnya yang panjang lalu menatap dua kakak.beradik dihadapannya.
" Joy. aku langsung saja. sepertinya aku harus menikahi adikmu." ucap Narendra
Joy dan Herra saling tatap dengan mata membulat sempurna. telinga mereka rusak atau memang tuannya sedang mengigau, tapi nampak terlihat sehat.
" Maksudnya apa tuan ??" tanya Joy.
Narendra memejamkan matanya, sumpah demi apapun sungguh ini tidak lah benar.
" Tuan.." panggil Joy.
" lupakan saja. aku mau pulang." ujar Narendra yang langsung berdiri dan melangkah pergi.
Sementara Joy dan Herra tak mencegah langkah Narendra, mereka berdua malah saling pandang dan merasa keheranan.
.
.
Hingga tiba dirumah, Wajah kesal Narendra masih terhias sempurna.
Nada, sang mama yang tengah menyiram tanaman segera menyambut sang putra yang baru tiba.
" loh..kok sudah pulang.. mana Herra ??" tanya Nada.
" Herra sekolah ma. tidak enak lama-lama disana." jawab Narendra dengan singkat.
" kenapa tidak enak.. bukannya kalian pacaran ??" suara Zakia terdengar dari arah dalam.
__ADS_1
" kakak sedang apa disini ?? sudah tidak praktek ??" Narendra begitu malas namun tetap bertanya.
" adikmu saja sudah mulai praktek dirumah sakit. aku sudah mau pensiun. hey, jangan mengalihkan pembicaraan, kapan kau menikah ?? mama menunggu itu ??!" Zakia melayangkan pertanyaan dengan melipat kedua tangannya.
" kak.. hentikan menyuruhku menikah !!! Mama membicarakan pernikahan pasti juga karna kakak kan yang mencuci otaknya ??!! bahkan memikirkannya saja aku belum !!!" Protes Narendra mengeluarkan uneg-unegnya, dengan suara sedikit tinggi.
" sembarangan ??!! enak saja kau menuduh ya ??!! semua itu memang keinginan mama Narendra !!!" Zakia nampak tak terima ia berkacak pinggang dengan suara ikut meninggi.
" keinginan mama apanya ??!! buktinya yang selalu marah dan menanyakan itu kakak kan ??!! tolong biarkan aku menentukan jodoh, jangan paksa untuk cepat menikah ??!! bisa tidak ??!!" Entah mengapa percakapan kakak beradik itu malah menjadi pertikaian adu mulut.
"sudah..sudah !! Naren, Zakia.. hentikan.." Nada mencoba menengahi.
" mama jangan membelanya terus !! lihatlah, dia selalu seenaknya seperti itu ?!! apa dia tidak bisa berfikir jika usianya sudah tua ??!! cih !! " ucap Zakia masih dengan sisa kekesalannya.
Narendra hendak menjawab namun Nada mendesis seraya memegangi dadanya
" aahhsstt !!!"
" mama " ucap Narendra dan Zakia bersamaan.
Keduanya langsung mendekati sang mama yang bisa terlihat semakin merasakan sakit.
" aakkhh !!!"
" ma..mama kenapa ??" tanya Narendra begitu panik.
" Ini semua karna kau sialan !!!" omel Zakia
" kakak hentikan ocehanmu !!" Bentak Narendra. yang langsung menggendong Nada dan memasukkannya kedalam mobil, meski masih saling kesal, keduanya tetap bersama-sama membawa nada kerumah sakit.
.
__ADS_1
.
.