
bab 42
.
.
.
Herra telah selesai membersihkan diri. Pelayan hotel sangat faham sekali dan sudah menyiapkan piyama tidur dikamar mandi lengkap dengan handuknya.
Herra keluar dengan piyama tidur dan handuk yang bertengger dikepalanya. rasa segar bisa ia rasakan kini.
namun langkahnya terhenti saat tidak mendapati Narendra, suaminya berada.
" dimana kak Naren ??" gumam Herra sendiri.
" apa dia dibawah ??" Herra bertanya sendiri.
tak mau ambil pusing, Herra segera duduk didepan meja rias, membersihkan wajah lalu memakai lotion.
" mungkin kak Naren bersama kak joy dibawah."herra bicara sendiri didepan cermin.
Karna rasa lelah yang begitu melanda dirinya, Herra segera membaringkan tubuhnya diranjang. senyum kecil nampak saat Herra menaiki ranjang yang berhias begitu indah.
"jika saja aku menikah dengan pria yang aku cintai dan mencintaiku. kami akan sangat bahagia tidur diatas ranjang indah ini.." ucap Herra sendiri.
Dering ponsel Herra membuat lamunan Herra terganggu. ia segera meraih ponselnya dan membuka pesan masuk.
" nomer siapa ini ??" tanya Herra sendiri, ia langsung membuka pesan singkat yang dikirim oleh nomer tak dikenal.
Mata Herra membulat saat melihat foto Narendra yang berpegangan tangan serta berhadapan dengan seorang wanita seksi. lain foto menampilkan Narendra yang memeluk wanita lagi.
tertulis sebuah pesan dibawahnya.
__ADS_1
"suamimu milikku, kau harus mau berbagi denganku.."
seakan tak percaya dengan apa yang dilihat, Herra memegangi dadanya.sesak terasa, bagi Herra. bahkan Herra sendiri tidak tau kenapa, toh mereka memang tidak saling mencintaikan ?? lalu kenapa dada Herra begitu amat sakit.
Herra menepis semua fikiran negatif yang terus hinggap begitu saja.
kembali notif pesan masuk.
"pergilah kelorong 11 jika kau ingin melihat langsung."
Herra bimbang akan kesana atau tidak. egonya meminta dia untuk melihat yang sebenarnya, tapi perasaannya berusaha menerima.
dan akhirnya Herra berlari keluar mencari dimana keberadaan lorong 11.
dan yang sebenarnya terjadi.
Narendra menatap.tajam Granda yang bersandar ditembok menggunakan pakaian seksi khas granda selama ini.
Granda yang kegirangan melihat Narendra benar datang segera berlari
baru saja tangan Granda menempel, Narendra sudah segera menepis tangan Granda. "ingat batasanmu granda !!" bentak Narendra.
" kenapa kau mudah sekali menerima anak itu ??! kau lupa kenangan indah kita ??!" protes Granda.
" kenangan itu sudah hangus bersama penghianatanmu ****** !!" tegas Narendra.
" kau jahat Naren !! mudah sekali kau bicara begitu !!" balas Granda.
" hentikan sandiwaramu granda !! bahkan aku bisa lebih jahat jika kau tetap.mengganggu hidupku dan keluargaku !!" ancam Narendra yang sudah cukup geram.
Granda meraih tangan Narendra dan memeganginya. "aku sangat mencintaimu Naren.. aku mohon.. kita ulangi lagi hubungan kita.."
Kembali dan kembali, Narendra menghentakkan tangan Granda yang memegangi tangannya.
__ADS_1
"pergi sebelum amarahku memuncak Granda !!" ucap Narendra dengan serius.
" baiklah, tapi dengar ini. aku akan mengatakan semua kebenarannya pada Ibumu Naren. jika kau menikahinya hanya karna ibumu, !!! ancam Granda balik. Granda hendak melangkah seolah yang ia katakan benar.
Narendra menarik lengan Granda dengan kasar, hingga Granda yang menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan diri.
Narendra yang reflek menarik Granda, Granda menggunakan kembali kesempatan emas itu dengan memeluk Narendra hingga Kini Granda berada dalam dekapan Narendra.
bersamaan dengan itu Herra telah tiba dilorong 11 dimana pesan singkat itu mengatakan keberadaan suaminya.
prakkk !!
Herra menutup mulutnya tak percaya dengan yang dilihat. hingga tanpa sadar ia menjatuhkan ponselnya begitu saja.
Granda menyunggingkan senyum saat semua terasa tepat waktu sesuai skenarionya.
Narendra buru-buru melepas Granda dan lengan granda lalu menoleh, Terkejutlah Narendra saat mendapati Herra berdiri dengan menutup mulut serta ponsel yang sudah terjatuh dilantai.
" Herra !!" panggil Narendra begitu was-was.
Herra tak berkata apapun. dadanya cukup sakit dan sesak hingga ia memilih berlari meninggalkan keduanya.
" Herra tunggu !!"panggil Narendra.
namun sayang seolah tak mendengar, Herra terus berlari dengan air mata yang mengalir sendiri.
" sial !! semua gara-gara kau ****** !!" bentak Narendra yang mendorong tubuh Granda hingga terjatuh.
Tak peduli pada Granda, Narendra berlari mengejar Herra yang sudah cukup jauh.
.
.
__ADS_1
.