You Are Only Mine

You Are Only Mine
pesta


__ADS_3

bab 9


.


.


.


seakan tau jika adik asistennya masih nampak ketakutan, Narendra tak keberatan menjadi sopir malam itu. semua atas kemauan Narendra sendiri. Herra juga tengah bersandar pada dada sang kakak. jika saja Narendra tidak tau Joy memiliki seorang adik, Narendra pasti akan mengira Joy tengaj berpacaran dengan anak AbG.


" tuan. jika tidak keberatan, kami berhenti disini saja. tuan bisa melanjutkan perjalanan kerumah nyonya besar." ujar Joy yang merasa tidak enak.


" kau bicara apa, kau harus ikut kesana."balas Narendra dengan santai.


" kalau begitu bagaimana jika saya yang menyetir lagi..??" tawar Joy.


" lalu bagaimana dengan adikmu ?? apa kau rela dia aku peluk seperti itu ??" balas Narendra sembari melirik dari kaca spion.


Herra langsung mengakat wajahnya saat Bos kakaknya berkata demikian.


Joy pun tak kalah terkejut, Ia menelan ludahnya beberapa kali sembari menatap Herra.


" tenanglah Joy, aku bukan pria brengsek. Kita kebutik dan berganti baju. mamaku akan marah jika melihat banyak noda darah dikemejaku."ujar Narendra


" terima kasih tuan." balas Joy.


Joy menyuruh adiknya agar mengucapkan terima kasih juga.


Herra yang sejak.tadi dipelototi sang kakak segera berdehem dan berkata."Tuan, terima kasih sudah menolong saya."


" huh !! iya. ini tidak gratis." jawab Narendra seraya berseringai.


" maksud tuan ??" tanya Joy yang begitu menyayangi adiknya ia cukup kawatir.

__ADS_1


" santailah joy..kita ganti saja dulu. ayo ??" ajak Narendra yang segera turun terlebih dulu.


terlalu memikirkan hal negatif, Joy sampai tak sadar jika mereka sudah sampai dibutik milik nyonya besarnya.


Narendra yang baru datang langsung digiring keruang ganti, begitupun dengan joy dan Herra, keduanya hanya bisa menurut karna memang joy sangat tau waktu pesta ulangtahun Nyonya besarnya pasti sudah dimulai.


.


.


Sementara dirumah besar Revandra sudah dipenuhi tamu-tamu dari berbagai kalangan, baik keluarga, Kolega kerja sikembar serta Rans, dan rekan medis Zakia.


Mike bersama Nurra, Abigal bersama Samantha, Darren bersama mayra, Rans juga ikut bersibuk ria bersama istrinya, semua berkumpul disana. Para anak-anak mereka sebagian juga sudah ikut hadir malam itu. dan sebagian ada yang belum datang.


semua nampak tersenyum bahagia, saat memberikan ucapan selamat untuk Nada.


meski usia sudah tidak muda lagi, namun Nada tetap.nampak terlihat.cantik meski hanya menggunakan riasan tipis dan gaun putih tulang sebagai favoritenya, dengan Revandra yang senantiasa disisinya.


" Nad.. aku tidak menyangka jika kita bertambah tua saja."ujar Nurra setelah berpelukan dengan Nada.


" sadarlah Nur, kita tinggal menunggu cucu..Candrika mana ??" tanya Nada


" dia datang nanti. tadi sih dia sedang dirumah sakit. bagaimana aku.bisa punya cucu Nad, anakku saja hanya mencintai pekerjaannya !!" gerutu Nurra


" sayang jangan bicara begitu.."ucap Mike.


" hah.. kau sudah mau menggendong cucu ya ??" goda Revandra.


" kakak.. awas saja ya nanti.." omel Nurra.


" jangan bicara begitu. cucuku saja masih bertahan satu." goda Nada.


kedua wanita paruh baya itu tertawa bersama.

__ADS_1


" Oma.." panggilan itu terdengar ditelinga Nada dan balasan senyum terbit dari bibir Nada saat melihat cucu pertamanya yang sudah beranjak dewasa menghampirinya.


" Alvi..kau tampan sekali sayang.." puji Nurra


" terima kasih Oma bibi."balas Alvian.


" mana mamamu ?" tanya Nada.


" lah.. aku kesini itu untuk mencari mama oma, papa mencari mama sejak tadi.."terang Alvi.


" mamamu itu apa tidak sadar jika sudah tua ya !!" gerutu Revandra.


" baiklah. aku cari mama dulu ya..Oma selamat ulangtahun.." Alvi memeluk Omanya dengan begitu erat.


" terima kasih sayang.. temukan mamamu secepatnya. mungkin dia sedang mengatur acara dengan kedua paman kembarmu." balas Nada.


Alvi mengangguk dan segera pergi dari hadapan Para orangtua itu.


" andai saja usia cucumu dengan anakku seimbang, pasti aku sudah menjodohkannya.."ujar Nurra.


"jangan sembarangan.. cucuku baru mau SMP nurr.." timpal Nada.


semua tertawa bersama. meski begitu hati Nada masih menyimpan kesedihan. sesekali netranya melirik keluar rumah berharap apa yang ditunggu datang.


..."apa kau juga tidak akan datang lagi Nak.." batin Nada penuh harap....


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2