
bab 26
.
.
.
Siang sudah berganti malam seiring dengan tenggelamnya matahari dan munculnya Bulan yang amat indah dengan cahayanya.
Dirumah Revandra tengah menjalani ritual makan malam. Dimeja makan sudah ada semua menu makanan. Semua pun sudah duduk ditempat masing-masing, hanya tinggal Narendra saja yang belum keluar dari kamarnya.
" Dirya, kakakmu kemana ??" tanya Nada.
" mungkin dikamar ma, sejak siang tadi kakak tidak keluar kamar " balas Dirya.
" siang tadi seperti ada tamu ya ??" terka Revandra yang mulai melahap makanan dihadapannya.
Draka dan dirya saling tatap, ragu mau menjawab apa, jika mengatakan yang sebenarnya bisa saja mamanya akan syok kembali.
" teman lamaku pa.." Narendra membalas seraya menapaki anak tangga.
semua mata melihat Narendra yang turun."kau sudah rapi, mau kemana ??"tanya Revandra.
" kerumah kak Kia. maaf aku tidak bisa makan bersama mama.." ucap Narendra seraya menatap sang mama.
" kau merindukan Herra ya ??" goda Nada.
Narendra hanya tersenyum tipis. "aku pergi dulu.." Narendra langsung berlalu dari hadapan keluarganya.
Dengan mengendarai mobil favoritenya Narendra membelah keramaian jalan malam itu.
.
.
__ADS_1
Dirumah Zakia juga sama. mereka tengah akan melakukan makan malam. Herra yang ikut andil dalam memasak menu malam itu membuat Zakia cukup kagum. bahkan ia teringat dia dulu saja belum.bisa memasak saat usianya sama dengan Herra.
" kau pandai sekali memasak ya ??" puji Zakia seraya menata makanan diatas meja.
" tidak juga kak, kak Joy jauh lebih pintar memasak dariku.." balas Herra.
" benarkah ?? berarti dia itu bisa dalam segala hal ya.." Zakia mulai senang saat mengobrol dengan Herra.
" iya. maklumlah kak. kami berdua hidup bersama sejak kecil tanpa orangtua. makanya kakak terbiasa mandiri begitupun denganku."terang Herra.
" Naren memang tidak salah memilihmu.."balas Zakia.
Herra hanya tertunduk malu dengan godaan sang kakak.
" apa aku pernah salah pilih kak..??" Narendra melenggang masuk.begitu saja.
" kau ??sedang apa disini ??" Tanya Zakia dengan malas.
" tentu saja menemui calon istriku !!?" balas Narendra yang membuat Wajah Herra bersemu merah kembali.
" duduklah dulu. aku panggil kakakmu." Ucap Zakia seraya menaiki anak tangga.
" biar aku panggil Alvi ya kak..?" tawar Herra.
Zakia mengangguk menyetujui.
namun Secepat kilat Narendra menyela."tidak..tidak.. biar aku saja." Narendra langsung melangkah menuju pintu kamar keponakannya.
Sementara Zakia hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya untuk memanggil Suaminya.
brakk!!
braakk !!!
Narendra nampak.tak sabar mengetuk, ia memukul pintu dengan sangat kuat. Herra saja sampai terperajak karna terkejut mendengar suara keras dari pukulan tangan Narendra.
__ADS_1
" Alvi !! cepat keluar !! jika satu menit kau tidak keluar aku dobrak pintunya !!!" teriak Narendra dengan lantang.
Pintu langsung terbuka nampak Alvi begitu serius menanggapi. "paman !! aku sudah keluar"
Narendra menunggingkan senyum. "bagus, cepatlah !!" Narendra memutar tubuhnya menuju Meja makan.
Alvi hanya bisa mengusap dadanya. Ekpresi Narendra yang selalu datar selama ini cukup membuat Alvi senggan dan takut.
Narendra duduk disisi Herra seraya meneliti semua menu diatas meja.
" wah.. tumben kakak masak sebanyak ini.." ujar Narendra.
" saya juga tidak tau tuan.."balas Herra tanpa mau berkata jika ia lah yang menyelesaikan masakan hampir semua.
" itu calon istrimu yang memasaknya..kakakmu mana bisa masak banyak menu begitu.." ucap Rans menimpal yang entah sejak kapan sudah sampai dianak tanggam terakhir.
" benarkah ??" Narendra menatap Herra. Namun Herra yang selalu merasa malu hanya tertunduk saja.
"bersyukurlah Herra wanita yang mandiri dan bisa segalanya.." balas Zakia.
" kakak terlalu berlebihan.." ucap Herra merasa tidak enak.
" bagaimana jika ngobrolnya nanti lagi ?? aku sudah lapar .." Alvi membuka suara.
" makanlah sayang.." Zakia mulai.mengambilkan nasi dan lauk untuk Alvi.
" Dasar anak manja !!" ejek Narendra.
Alvi tak berani menjawab, ia hanya memanyunkan bibirnya hingga menimbulkan gelak tawa Yang lain.
.
.
.
__ADS_1