
bab 59
.
.
.
Herra dan Narendra beriringan melewati koridor dibandara. dengan Narendra yang menarik koper milik Herra ditangan kiri sedangkan tangan kanan Menggenggam jemari Herra.
Waktu sudah menunjukka dimana mereka harus berangkat. Narendra menuntun herra menuju pesawat.
" wah.. aku baru pertama kali menaiki pesawat." ucap Herra yang begitu takjub dengan pesawat yang berlalu lalang.
" benarkah ?? aku akan sering mengajakmu menaikinya, sebab setiap bulan kita akan kembali kejakarta."balas Narendra.
" sebulan sekali itu terlalu cepat kak.." timpal Herra.
" asal kau senang saja." Balas Narendra yang menarik Herra kedalam dekapannya. keduanya memasuki pesawat dengan tawa kecil. sepakat memulai hubungan ternyata tak begitu menyulitkan, Narendra yang merasa cukup nyaman dengan Herra begitupun sebaliknya membuat pertemuan singkat itu menjadi sangatlah berkesan untuk mereka jalani.
.
.
Sementara diBali, joy tengah sibuk mengurus semua pekerjaan Narendra. karna ketidak adaannya Narendra mengharuskan Joy memeriksa semua berkas yang sudah menumpuk layaknya gunung himalaya. beberapa minggu ditinggalkan pemimpin Joy merasa cukup kuwalahan mengurus semuanya. belum lagi, proyek pembangunan yang sudah akan goal beberapa hari kedepan. sesekali joy menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. membenahi kaca mata yang bertengger disudut matanya juga sesekali ia lakukan.
Sekretaris Giana mengetuk pintu dan segera masuk setelah mendapat ijin dari Joy.
" maaf tuan. mitting akan segera dimulai."lapor sekretaris itu.
Joy menatap.tajam sekretarisnya yang lain dari biasanya. pakaiannya cukup seksi dengan makeup yang begitu mencolok.Giana yang ditatap malah melayangkan senyuman menggodanya. sudah sejak lama.Giana menyimpan rasa untuk Joy, namun karna terlalu takut pada Narendra, Giana selalu mengurungkan niatnya. kali ini giana sangat berusaha agar joy terpesona dengan dirinya. giana selalu berfikir joy tidak jauh berbeda dengan.bos besarnya yang menyukai wanita seksi.
__ADS_1
" apa semua sudah kau siapkan ??" tanya joy tanpa mengindahkan tatapan genit giana.
" sudah tuan. ini sudah saya bawa."balas Giana penuh semangat.
Joy segera bangkit daro tempat duduknya. lalu segera melangkah keluar, saat melewati Giana Joy berbisiik cukup keras. "buka saja bajumu jika urat malumu sudah putus. 15 menit aku memberimu waktu, jika kau tidak segera berganti baju aku akan mengirimmu kerumah sakit jiwa!!"
Giana mendelik dengan perkataan atasannya itu. " pak joy !!" Giana geram bukan main, ia menghentak hentakkan kakinya dilantai.beberapa kali, selalu saja penolakan seperti ini yang didapat.
.
.
Joy merogok saku saat pesan masuk dari Narendra yang mengatakan jika dirinya sudah berada dipesawat.
Sunggingan senyum joy terlihat jelas ia terus melanjutkan langkahnya memasuki ruang mitting.
.
.
" Kak lihatlah.. itu indah sekali.." ujar Herra yang melihat dengan sumringah.
Narendra ikut tersenyum saat melihat betapa Herra sangat bahagia.
" kau senang sekali ."
" tentu saja.." balas Herra. Narendra hanya membalas dengan senyum dan mengusap kepala Herra dengan lembut.
.
.
__ADS_1
Mitting sudah selesai, Joy segera berjalan keluar dan langsung menuju lift untuk turun. Giana yang melihat joy buru-buru segera menghampiri untuk ikut masuk kedalam lift.
" tunggu tuan !!" Cegah giana yang memasukkan kakinya agar pintu lift terbuka kembali.
meski merasa jengah, Joy membiarkan saja giana masuk dan berdiri disisinya.
" tuan mau kemana buru-buru ??" tanya Giana.
Hening, Joy tidak menjawab.
" em..apa tuan Naren belum akan kembali ??!" tanya Giana kembali
Joy tetap tidak bergeming, ia hanya mengusap layar ponsel yang berbunyi tanda pesan masuk.
" tuan.. apa.tidak bisa kau menjawab pertanyaanku ??!!" protes Giana.
Joy menatap malas Giana. "apa pertanyaanmu tentang pekerjaan ??"
" memangnya tidak boleh ya bertanya seperti itu ??!!" balas Giana dengan kesal. suaranya yang manja dikeluarkan.
tingg !!
pintu lift segera terbuka, Joy buru-buru keluar. dan berbalik mencegah giana mengikutinya. "jam kerjamu belum selesai, awas saja jika kau berani mengikutiku !!" setelah berkata demikian joy langsung melenggang pergi meninggalkan giana
Giana yanga begitu geram hanya bisa menghentak-hentakkan kakinya dilantai dengan wajah masamnya.
.
.
.
__ADS_1
.