
bab 143
.
.
.
Entah mengapa, Qiara langsung beranjak dan meninggalkan dirya begitu saja. jujur ia sangatlah terkejut dengan ungkapan perasaan Dirya.
Dirya tak mengejar ataupun mencegah, ia membiarkan Qiara merenungi semuanya. biar bagaimanapun, Qiara masih berstatus istri dari orang.
" aku harus membantu Qiara lepas dari pria itu." gumam Dirya yang kemudian ikut beranjak untuk keluar dari kantin rumah sakit dan kembali kekantor.
.
.
.
Pesawat pribadi Papa Revandra sudah mendarat sempurna dibandara.
semua juga sudah siap turun, Narendra sudah stay mendorong kursi roda Herra.
Entah mengapa Herra merasa gemetar disekujur tubuhnya, namun ia berusaha menahannya.
perlahan pintu terbuka, dan segera berlarian masuk para pengawal sang papa yang membawa koper milik Herra Narendra dan juga Mayra.
nampak datang menyambut Romi dan Yohan dengan mobil yang sudah disiapkan.
__ADS_1
" selamat datang tuan.." sapa.Romi dengan hormat.
" Semua aman kan Rom ??" tanya Papa Revandra.
" aman tuan. hanya saja..-" ucapan Romi terhenti saat dari satu mobil terbuka dan menampakkan sosok yang membuat Papa Revandra tercengang dan menelan ludah secara kasar. " ya ampun..kenapa dia selalu tau.." gumam papa Revandra sendiri.
Mama Nada keluar dengan kaca mata yang bertengger indah dimatanya. ia berjalan perlahan menuju keluarganya yang baru tiba.
Dari belakang, Zakia dan Rans mengikuti Mama Nada.
" mama.." sapa Narendra yang langsung memeluk sang mama.
pelukan tak dibalas oleh mama Nada. wajahnya yang datar seolah mengatakan jika mama Nada tengah marah atau kesal.
perlahan Narendra membuka pelukannya, ragu-ragu Narendra menatap sang mama yang menatap dirinya tajam. merasa diintimidasi, Narendra hanya bisa mengusap tengkuk lehernya dengan senyum penuh ketakutan.
Seketika mata Mama Nada beralih pada menantunya yang nampak sangat pucat dan berada dikursi roda.
berbeda dengan menatap Papa Revandra dan juga Narendra, mama Nada tersenyum lebar saat membalas sapaan menantunya.
"sayang.. kau baik-baik saja ?? lihatlah kau sampai pucat begini..maafkan Narendra yang membuatmu seperti inj ya.." tutur mama nada dengan kelembutannya.
"mama jangan bicara seperti itu. tapi..mama tau dari mana kalau aku..-"
" mama tau semua sayang.. selamat ya, kau akan menjadi wanita yang sempurna," timpal mama Nada seraya melirik tajam dua pria yang amat ketakutan itu.
" mama.. sebaiknya kita segera pulang. Herra nampak kelelahan.." saran Zakia yang juga sangat takut, karna pasti sang papa akan memarahinya karna Zakia tidak bisa menjaga rahasia kepergian papa Revandra.
" kau benar.." balas mama Nada. "ayo sayang.." ajak mama Nada yang langsung memanggil pengawal agar mendorong herra menuju mobil yang ditumpanginya.
__ADS_1
" em..ma.. biar aku saja.." cegah Narendra.
" kau bersama papamu saja !!! anak dan bapak tidak ada bedanya !!!" gerutu mama Nada yang langsung meninggalkan kedua pria yang melongo saling tatap itu. sembari melihat kepergian mobil nyonya dirumah mereka. Herra yang sudah merasakan tubuhnya semakin lemah, hanya bisa diam. ia sangat tau mama mertuanya pasti marah karna tidak diberitau apapun. Semua herra yakini karna kasih sayang sang mama Mertua yang begitu besar kepada keluarganya.
Darren dan Mayra hanya terkekeh kala melihat seorang ketua mafia yang begitu takut saat istrinya tengah marah seperti itu.
" sialan, ponselku kenapa harus mati, ingin sekali aku merekam wajah Vandra yang menjijikkan itu.." umpat Darren.
" jangan membuat masalah !!" timpal Mayra. "kakak !!! Naren..!! ayo masuk.. kalian mau pulang tidak ???!!" panggil Mayra yang sudah didalam mobil.
" kau harus membantu papa bicara dengan mamamu ?!" ucap Papa Revandra seraya melangkah menuju mobil.
" aku saja kena marah mama, masa harus membantu papa ??!!" protes Narendra.
" aku bisa gila jika mamamu tidak mau bicara padaku bodoh !! kau kan anaknya, tidak mungkin mamamu akan marah lama denganmu !!!" terang Papa Revandra seraya masuk kedalam mobil.
" tetap saja aku kan ikut menyembunyikan masalahku pada mama.. papa tidak lihat tadi, bahkan tatapan mama saja bisa menelanku hidup-hidup.." balas Narendra.
Kedua pria itu mendegus kesal dengan menatap keluar jendela masing-masing.
" Vandra.. sampai kapan kau akan menjadi suami takut istri.." ejek Darren yang sedang menyetir.
" diam !!!"bentak Narendra dan papa Revandra bersamaan.
Mayra pun menutupi seringainya saat melihat dua pria bapak dan anak dibelakang tengah dilanda kegelisahan.
.
.
__ADS_1