You Are Only Mine

You Are Only Mine
cobaan datang bertubi-tubi.


__ADS_3

bab 120


.


.


.


Semburan air dari mobil damkar memenuhi kobaran api yang melahap rumah istana milik Narendra.


Seakan kakinya tak bertulang joy hampir saja limbung saat melihat keadaan rumah yang benar-benar hampir habis terbakar.


" kenapa bisa begini ??!!!" gumam Joy sendiri.


Nampak petugas kesehatan membawa beberapa pelayan dan anak buahnya yang menjadi korban saat terjadi penyerangan.


Melihat itu kemarahan joy seakan meledak. tangannya terkepal kuat dengan gigi yang saling mengerat.


"Kalian.benar-benar ingin hancur !!!" umpat Joy dengan tatapan penuh amarah.


beberapa anak.buah joy yang masih bertahan segera menghampiri joy yang tiba disana.


" maaf kan kami tuan. kami kecolongan." Ucap anak buah joy.


Joy hanya diam dan menatap tajam.beberapa anak buah yang dihadapannya.


seakan tau maksud bosnya, anak buah joy kembali menjelaskan.


"ternyata benar yang anda katakan. salah satu pelayan dirumah ini adalah mata-mata dari mereka. untung saja Tuan besar dan Nona sedang tidak dirumah. sebab peledak sudah berada dibeberapa titik didalam rumah ini." terang anak buah joy.


Joy tak berkata apapun. namun bisa dilihat tatapannya sangat menakutkan seakan ingin melahap siapapun yang dihadapannya.

__ADS_1


Seketika juga Joy membalikkan tubuhnya, Dan meninggalkan rumah yang sudah terbakar.


ia langsung masuk kedalam mobil dan melesatkan mobilnya membelah jalanan, sesekali tangan Joy meremas stir mobil bahkan dengan keras ia memukul stir mobil meluapkan kemarahan yang benar-benar memuncak.


"aku akan menghabisi kalian yang mencari masalah dengan kami !!" gumam Joy dengan penuh keseriusan.


.


.


Mata Herra terbuka perlahan dan yang ia lihat yang pertama adalah wajah suaminya yang masih setia duduk disisinya.


"sayang.. kau sadar .??" Narendra bangkit dari duduknya dengan wajah sendu namun penuh bahagia.


Herra masih diam dengan menatap lekat suaminya. "kak..ini dimana ??" tanya Herra saat menyadari tangannya terpasang jarum infus.


" kau dirumah sakit sayang..kau pingsan tadi saat dirumah." terang narendra sangat lembut. seraya mengecup kening Herra.


Narendra menerbitkan senyum tipis dan sesekali menciumi tangan Herra yang sejak tadi tak ia lepaskan.


lalu Sebelah tangan Narendra memegang lalu mengusap lembut perut Herra yang masih rata. "maafkan dia, dia yang membuatmu sedikit lemah begini sayang.."


Herra masih belum mengerti, "maksudnya ??"


Narendra menghujani wajah Herra dengan ciuman kehangatan. Rasa bahagia yang tertutup rasa kawatir terus saja menyelimuti hati Narendra saat ini.


Herra diam dengan pasrah, ia menunggu jawaban Narendra.


" selamat sayang.. kau akan menjadi seorang ibu.." ucap Narendra bahkan senyumnya cukup lebar.


" apa ?? A..aku ??" Herra seakan tak percaya dengan apa yang didengar.

__ADS_1


Narendra pun mengangguk dengan cepat dan kembali menghujani seluruh wajah Herra dengan ciuman.


perlahan senyum Herra pun terbit dengan tangan yang mengusap perutnya. seakan tak percaya jika ia kini tengah hamil, seolah Allah telah menjawab doa-doanya yang sangat ingin memvberi sang mertua seorang cucu.


" terima kasih ya Allah..terima kasih.. " Herra mengucapkan rasa syukurnya.


Melihat wajah bahagia Herrra, Narendra belum kuasa menjelaskan kondisi kehamilan istrinya itu.


" tapi kak, apa setiap orang hamil akan merasakan apa yang aku rasakan ?? rasanya tubuhku lemas sekali, gemetar dan pusing. bahkan kakiku seakan tak memiliki tulang.." tanya Herra lagi.


Narendra mengusap surai rambut hitam Herra. "mungkin memang seperti itu sayang.."


Herra mengangguk pertanda mengerti.


" kak, kabarilah kak Joy. minta dia kesini, katakan aku mau memberinya kejutan.." pinta Herra dengan penuh semangat


Narendra terkekeh kecil namun Bukan Narendra namanya jika menolak. dengan senang hati Narendra mengangguk lalu meraih ponsel pintarnya.


baru saja Narendra mengetik nomer, Joy menghubunginya.


" panjang umur.. lihatlah Joy menghubungiku.." ucap Narendra sembari menunjuk kan pada Herra.


Segera Narendra menempelkan benda pipih itu ketelingannya.


" Joy.. ak..-"


" Tuan. maafkan saya. rumah besar anda terbakar. rumah besar diserang mendadak tuan." lapor Joy yang sesaat melupakan sang adik.


Senyum Narendra luntur seketika. dadanya bergemuruh kembali. cobaannya datang bertubi-tubi dengan tema yang berbeda beda.


.

__ADS_1


.


__ADS_2