
bab 97
.
.
.
Pagi buta, Herra bangun lebih awal. bahkan Narendra masih terlelap dalam dunia mimpinya. Herra berniat membuatkan sarapan spesial untuk mertuanya.
Dengan penuh semangat, Herra menuruni tangga dengan bertelanjang kaki sembari menggulung rambutnya diatas agar tidak mengganggu acaraa memasaknya.
" nona sudah bangun ??" sapa bik Rima.
" iya bik. aku mau masak buat mama dan papa.." balas Herra penuh semangat.
" baiklah. mau bibi bantu ??" tawar Bik Rima.
" Bibi selesaikan saja pekerjaan bibi dulu. Herra bisa kok sendiri." ucap Herra.
Bik Rima tersenyum lalu mengangguk pertanda mengerti.
.
.
Tujuan Herra yang pertama adalah Kulkas besar didapur. ia memilah beberapa sayuran untuk dibuat beraneka menu masakan.
Dengan jemari lentiknya Herra memulai meracik masakan.
"nona saya bantu.." sapa seorang pelayan.
" oh.. kau sudah tidak sedang bekerja ??" tanya Herra.
" tidak nona. saya disuruh Bik Rima membantu Nona." balas pelayan itu.
"baiklah. kemarilah" Herra begitu akrab dengan pelayan dirumah itu.
keduanya terlibat percakapan bahkan sesekali bercanda tanpa sungkan.
" Mila, ambilkan kecap asin dilaci atas ya !!?" pinta Herra tanpa.menoleh.
__ADS_1
botol kecap nampak diserahkan pada herra dan segera Herra menerimanya.
cupp !!
Herra terkejut bukan main. ia langsung memutar tubuhnya dan senyum diwajah tampan Narendralah yang ia lihat.
" kakak..kenapa mengejutkanku ??" protes Herra dengan senyum bahagia.
Narendra memeluk Pinggang herra hingga menempel ditubuhnya.
" kak, aku sedang memasak !!?"
" lalu ??" Balas Narendra dengan santai.
" malu dilihat pelayan yang lain.." ujar Herra.
" mana ?? tidak ada pelayan disini ??!!" Narendra menatap sekeliling diikuti Herra, Herra tak melihat Meli, pelayan yang tadi membantunya.
Melihat kondisi yang seperti itu, timbul ide diotak Herra.
" baiklah.. kakak sudah bangun, bantu aku ya membuat sarapan buat mama dan papa.."
alis Narendra langsung bertaut, bahkan bibirnya langsung mengerucut.
" nanti.." Herra melepas tangan Narendra dan langsung menarik Narendra kedepan beberapa bahan yang harus disiapkan.
Segera Herra meraih pisau dan menempatkannya ditangan Narendra.
" kakak potong seperti ini ya.. ayo cepatlah.." Herra memerintah dengan santai.
" sayang.. aku ini seorang CEO. kau menyuruhku memotong apa ini ??!!" protes Narendra.
" kau CEO dikantor. dirumah kau kan suamiku.. dan aku rasa kau tidak akan kawatir jika membantuku kan ??!!" terang Herra.
Narendra merutuki dirinya yang menghampiri istrinya.
cupp..
Herra mengecup pipi Narendra serta memberi semangat. "semangat sayang.."
Senyum terpaksa dilayangkan Narendra. dan dengan kakunya Narendra memulai memotong satu persatu dengan perlahan.
__ADS_1
Herra terkekeh melihat suaminya yang begitu lucu jika dilihat.
.
.
" selamat pagi sayang.. wah.. kau memasak pagi ini ??" sapa Mama Nada yang baru turun bersama Papa Revandra.
" iya ma.. ayo duduk ma.. pa," Herra dengan telaten melayani kedua mertuanya.
Mama Nada nampak begitu bahagia melihat betapa perhatiannya menantunya itu.
"Naren mana Her ??" tanya Revandra pada Herra.
prangg !!
semua terkejut dengan suara mengejutkan itu.
" apa itu ??" tanya Mama Nada.
Herra hendak berlari menuju dapur, namun ditahan sang papa mertua.
" biar papa saja."
" tapi pa ???--"
Revandra mengangguk dengan menatap tajam Herra. Herra tak berani membantah dan membiarkan papa mertuanya menuju dapur.
" sialan kenapa harus jatuh sih ??!!" umpat Narendra sendiri, seraya mengambil kotak yang terjatuh.
" makanya buatkan mulut agar dia.bicara .." ejek Revandra.
Narendra langsung menengadah dimana sang papa berdiri dengan memegangi kotak yang ia jatuhkan.
senyum ejekan dilayangkan papa revandra. "duh.. rajinnya anak papa.. bahkan kau cocok sekali anakku menggunakan celemek itu..ha..ha..ha..ha.. " tawa Papa Revandra pecah memenuhi dapur.
Narendra mendegus kesal ternyata benar kata sang papa kemarin. mulai hari ini ialah yang akan menjadi gunjingan.
.
.
__ADS_1
.