
bab 124
.
.
.
Narendra mengendarai mobil sendiri dengan kecepatan tinggi. dengan dibelakang diikuti beberapa mobil anak buah mereka. dan juga Joy yang setia mengawal adik iparnya itu.
Dalam hati Joy sangatlah kawatir dengan apa yang akan terjadi nanti. Ia sangat tau kekejaman mafia yang sudah begitu terkenal itu, dibanding dengan mereka sama sekali tak ada apa-apanya. anggota joy hanyalah sebuah kumpulan anak buah biasa meski mereka juga dilatih bela diri dan bermain senjata apapun, namun mereka semua selalu menggunakan hati dalam melakukan segala sesuatu.
sementara Narendra terus menancapkan pedal gasnya seraya menatap monitor dihadapannya yang menunjukkan dimana markas yang akan ia serang berada. "aku akan menghabisi kalian keparat !!" umpat Narendra dengan menekan suaranya.
tatapan tajam dengan penuh amarah masih terlihat jelas dimata Narendra saat ini.
Terus bergantian. mobil-mobil dari anggota Narendra membelah kesunyian jalanan yang mereka lalui. memang markas mafia itu cukup jauh dari kota.
Hingga Saat mata Narendra melihat sebuah mercusuar yang menyala ia pun langsung mematikan lampu mobil dan berhenti diikuti mobil-mobil dibelakang mereka.
Bisa terlihat sebuah istana megah milik anggota mafia flood yang dikelilingi pagar besi yang menjulang tinggi bahkan penjaga yang bersenjata lengkap berdiri tegap layaknya sebuah benteng pertahanan.
"jalankan sesuai rencana..!!" perintah Narendra.
semua langsung berpencar kesegala arah, namun joy masih berdiri disisi narendra.
" kenapa kau masih disini ??!!"tanya Narendra saat berbalik dan mendapati joy mematung disisinya.
" maaf tuan saya harus menjaga anda." jawab Joy dengan singkat.
__ADS_1
" aku bisa menjaga diri Joy. kita harus menyerang mereka kesegala arah." terang Narendra.
" maaf saya tidak bisa menurut. disini saya berdiri sebagai kakak ipar tuan bukan sekretaris." balas Joy kembali.
Narendra pun tersenyum dan menepuk pundak kakak iparnya itu.
" baiklah. ayo.." ajak Narendra. keduanya menyusun senjata lengkap dan menyelipkan didalam jaket kulit yang mereka kenakan.
keduanya beriringan masuk dengan penuh waspada.
.
.
.
" iya. bahkan aku yang melihat tuan Narendra pergi tadi." balas Giana.
" pergi kemana dia ??" tanya wanita itu lagi.
" masalah itu mana aku tau.." jawab Giana cepat seraya melipat kedua tangannya.
" kita gunakan kesempatan ini.." ucap wanita itu.
" kau mau apa ??" tanya Giana.
wanita itu tersenyum misterius seraya membisikkan sesuatu pada Giana.
" what ??!!" Giana amat terkejut.
__ADS_1
" apa kau mau aku robek mulutmu ??!!! menjijikkan !!" gertak wanita itu.
" jangan katakan kau akan mengajakku ya ?? aku tidak mau !!!" Giana segera menolak.
"oh.. baiklah. itu mudah saja jika kau tidak mau !! aku bisa membunuh kedua orangtuamu sekarang juga.." ancam wanita itu dengan santai dab duduk dikursi kayu yang ada disana.
" dari mana kau tau aku punya orangtua ??!!" pekik Giana dengan kesal.
wanita itu menatap giana dengan tajam."bahkan skandalmu yang menjadi seorang pelacur saja aku tau Giana Aminarti.."
Giana terkejut bukan kepalang. bahkan nama asli Giana saja wanita itu tau. Tangan Giana terkepal dengan kuat.
" jadi kau mau ikut dengan misiku atau...-"
" baiklah !! baiklah !!!" Giana akhirnya mengalah. meski ia wanita yang tidak memiliki kasih sayang, tapi tetap saja ia tidak mau orangtuanya sampai menjadi korban.
" bravo Giana..keputusan yang tepat !!" balas wanita itu dengan bertepuk tangan dan langsung bangkit dari tempat duduknya.
" aku tunggu kau dirumah sakit pukul 02.00." ucap wanita itu sebelum melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Giana yang menatap penuh kekesalan.
" sialan.. wanita itu menjeratku !!! awas saja jika dia macam-macam !!" gumam Giana dengan tatapan tajam.
.
.
.
.
__ADS_1