You Are Only Mine

You Are Only Mine
kepergok mama mertua


__ADS_3

bab 98


.


.


.


Narendra berdiri dengan lalu menatap sang papa penuh malas.


Sementara Revandra terus melayangkan tatapan ejekkan pada sang putra.


Ya, Narendra sedang berada ditempat cucian piring, dimana ia harus membersihkan semua perabot yang digunakan Herra untuk memasak. dengan setelan celemek yang menempel sempurna ditubuhnya, membuat papa Revandra kembali tertawa.


" jika sudah puas mengejekku pulanglah sana kejakarta !!!" gerutu Narendra dengan kesal.


" hey anakku, jangan marah dong.. papa kan hanya bicara yang sebenarnya.. kau sangat lucu sayang.."balas Revandra masih dengan sisa tawanya.


Narendra terus mendegus kesal, kalau bukan karna Istri tercintanya ia tidak akan mungkin mau berada didapur itu.


" papa.. sarapan dulu.. biar aku dan kak Naren yang melanjutkan beres-beresnya.." ujar Herra yang sudah disana.


" oh iya menantu.. kau benar benar menantu idaman, papa bangga padamu.." balas Revandra penuh kepuasan seraya memegangi pundak Herra.


meski merasa bingung, Herra hanya tersenyum sopan pada sang mertua.


Revandra melenggang pergi setelah mencebikkan bibir bawahnya yang diarahkan pada Narendra.


Narendra terus membuat wajah kesal lalu melanjutkan kembali mencuci perabotan

__ADS_1


Herra berjalan menghampiri suaminya. "kakak tidak iklas membantuku ??" tanya Herra saat bisa melihat wajah kesalnya Narendra.


" bukan sayang.. aku hanya kesal pada pria tua tadi.."balas Narendra setelah mematikan kran air kembali lalu menatap Herra, ia tak mau istrinya sampai salah faham.


" kakak yakin ?? wajah kakak sangat kesal..apa karna aku meminta bantuan yang berlebihan ??" kembali Herra memasang wajah sangatimut hingga membuat Narendra begitu ingin melahapnya.


" hey bukan begitu istriku..aku membantumu karna memang aku menyayangimu.. sungguh ??!! aku kesal pada pria tua tadi.. jadi jangan seperti ini ya ??" Narendra menangkupkan kedua pipi Herra dengan.dua tangannya.


netra keduanya saling beradu dengan tatapan penuh cinta. dan jika sudah begini Narendra tak bisa lagi menahan hasratnya, hanya dengan melihat saja Narendra begitu ingin menyambar bibir ranum yang ada ditubuh Herra.


seketika pula bibir mereka saling bertemu dengan begitu lembut dan penuh kemesraan. Tangan Herra yang sudah tau tempatnya segera mengalung pada leher Narendra.


keduanya bertukar slavina dengan penuh kelembutan dan saling memejamkan mata. meresapi setiap decitan Pertukaran slavina yang begitu dalam.


Tangan Narendra bergerilya tak semestinya. mereka berdua seakan sudah lupa tempat, hingga Narendra mengangkat tubuh Herra dan mendudukkannya distand meja didapur itu tanpa melepas pangutan mereka.


gundukan kecil namun nampak berisi, itulah tempat favorite Narendra kini.


Suara seksi Herra terdengar saat pangutan terlepas. herra pun terbuai dan terlupa jika mereka kini tengah didapur. dan ketika mereka tengah menikmati sentuhan itu suara mama Nada terdengar mengejutkan keduanya.


" herra.. Naren..kalian tidak ma...-" Mama Nada menghentikan perkataannya saat melihat kedua anaknya tengah bercumbu didapur.


Narendra dan Herra segera menoleh dengan terkejut. apa lagi Herra, ia sangat malu dengan posisinya kini yang duduk distand meja dengan kaos yang hampir terbuka.


" oh.. maaf..maaf.. mama tidak akan mengganggu..em..lanjutkan saja.. ayo..silahkan.." mama nada gelagapan seolah tak enak.


" mama dan papa sudah selesai sarapan.. kami keatas dulu..lanjutkan.." mam Nada buru-buru meninggalkan kedua anak manusia yang masih mematung dalam posisi saling memeluk dengan Herra yang setia mengalungkan tangannya dileher Narendra.


sadar telah dipergoki, Herra buru-buru.mendorong tubuh Narendra agar sedikit menjauh.

__ADS_1


"kakak.. apa yang kita lakukan.. ya ampun.. malunya aku.." Protes Herra seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangan


" memangnya kenapa sayang ?!! kita ini kan suami istri.. ku rasa mama pasti memahaminya, buktinya dia meminta kita meneruskannya.." balas Narendra malah membuat Herra membulatkan matanya. Herra tak habis fikir, dimana letak urat malu suaminya. bahkan ia masih terlihat biasa saja.


" ayo kita teruskan. kurasa kita perlu.mencoba disini.." Narendra mendekati Herra kembali. namun dengan cepat Herra turun dan menghindar.


" enak saja !! pekerjaan kakak.belum selesai !!? ayo selesaikan dulu, baru nanti kita lanjutkan.." ucap Herra mencoba beralasan.


" ayolah sayang.. ini sudah tanggung.. lihatlah dia sudah bangun.." timpal Narendra menunjuk benda pusakanya yang nampak.menyembul.


mata Herra mendelik saat suaminya dengan pedenya menunjuk benda berharga miliknya sendiri.


" itu urusan kakak. pokoknya kalau tidak.beres kakak tidak dapat jatah !!" Herra buru- buru pergi agar tidak sampai tergoda oleh suaminya lagi. jujur saja sentuhan memabukkan dari Narendra selalu membuat Herra lupa daratan.


" sayang !! sayang !!" panggil Narendra.


ingin menyusul namun akan sia-sia. ia malah membuat Herra marah nanti.


dengan sisa kekesalannya Narendra melanjutkan pekerjaannya mencuci perabotan.


" cih..lalu apa gunanya aku mempekerjakan 7 pelayan jika didapur saja masih harus turun tangan.. Herra.. awas saja nanti aku akan membuatmu tidak.bisa berjalan.." gerutu Narendra dengan tangan terus bekerja.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2