
bab 183
.
.
.
Herra memandang keluar jendela saat tidurnya harus terbangun karna bias sinar matahari pagi itu.
dengan duduk menghadap arah jendela, senyum terbit dari bibirnya dengan memejamkan Mata Herra meresapi sentuhan matahari yang masuk kedalam tubuhnya melalui pori-pori.
Dekapan hangat dari belakang membuat Herra membuka matanya perlahan. Herra meraih tangan yang mendekapnya dan memeganginya dengan erat.
" kau sudah bangun dari tadi ya ??" bisik Narendra
"Kak..hari ini cuaca cerah sekali ya.."ujar Herra.
" iya..karna ini sudah pukul 9 pagi.."balas Narendra.
"kapan aku bisa pulang ??" Tanya Herra lirih.
" apa pundakmu sudah membaik ??" tanya Narendra balik yang dengan isengnya memegangi pundak Herra.
" aasstt!!"
Herra langsung tersentak saat rasa nyeri langsung ia rasakan kala tangaan Narendra menyentuh pundaknya.
Narendra terkekeh dan kemudian duduk disisi Herra.
" kakak..kau jahil sekali.." protes Herra.
" kau sangat lucu jika seperti itu.."balas Narendra.
" ahh.. kakak, aku marah nanti.." timpal Herra.
__ADS_1
" baiklah..baiklah..kemarilah" Narendra membuka kedua tangannya agar Herra bersandar dalam pelukannya. Dan benar saja, Herra langsung berhambur kepelukan suami tercinta.
Kecupan hangat dikening terus saja diberikan Narendra dengan sepenuh hati.
" maafkan aku sayang..maafkan aku yang gagal melindungimu.."ucap Narendra.
"jangan bicara seperti itu..aku ihklas melakukan semuanya..aku menganggap semua ini takdir tuhan untuk kita, dokter juga bilang kita masih bisa memilikinya lagi kan ??" tutur Herra
Narendra kembali mengeratkan dekapannya. "aku sangat mencintaimu.."
" aku juga.." balas Herra.
" kakak..apa kita bisa kembali keBali saja ??memulai semuanya disana ?? bersama kak Joy ??" pinta Herra sembari menengadah kearah wajah Narendra.
" kau ingin kesana ??" tanya Narendra.
Herra pun segera mengangguk dengan cepat.
" apapun keinginanmu aku akan penuhi sayang.." kata Narendra yang menundukkan wajahnya lalu mencium bibir Herra.
Herra tersenyum bahagia. semua yang terjadi sudah diterima Herra dengan lapang dada, ia tak menyalahkan siapapun disini, semua hanya takdir yang harus memang dijalani.
Papa Revandra.terus memberi kekuatan mama Nada agar jangan terus-terusan menyalahkan dirinya.
" lihatlah Herra sudah bisa menerimanya, kau jangan membahasnya lagi dihadapan dia..supaya dia bisa memulai semuanya lagi."ucap papa Revandra.
Mama Nada hanya membuang nafas dengan kasar dan mengangguk pelan.
" kenapa tidak masuk ??" tanya Kennan yang sudah membawa beberapa makanan.
" kau lama sekali sih !!" omel Papa Revandra.
" ya maaf, antri sekali tadi.." balas kennan yang kemudian masuk lebih dulu.
" selamat pagi.. wah..kalian ini mesra sekali ya ." sapa Kennan.
__ADS_1
" pagi paman.. ma..pa.." balas Herra dengan senyum mengembang.
" bagaimana keadaanmu sayang ??" tanya mama nada yang mendekati Herra
" sudah lebih baik ma..mungkin besok sudah bisa pulang." balas Herra dengan tenang.
mama Nada terus menatap Herra, mata mama Nada sudah memerah karna teringat bagaimana Herra hendak melindunginya.
" paman bawa apa ??" tanya Herra mencoba mengalihkan perhatian mama Nada.
" Sarapan pagi nak.ayo kita sarapan bersama." ajak kennan.
" wah kebetulan sekali aku sedang lapar." balas Narendra.
" kakak.. aku ambilkan dimsum itu.." pinta Herra penuh semangat.
" nah Naren.. berikan istrimu semua Dimsumnya.." kennan menyodorkan beberapa dimsum kesukaan Herra.
Narendra pun dengan senang hati menyuapi Herra. "awas jika kau tidak habis.."
" kakak harus membantuku menghabiskannya.."Balas Herra.
Narendra hanya tertawa kecil dan ikut memakan bersama.
papa Revandra tanpa sadar mengukir senyum tipis saat melihat kedua anaknya berusaha baik-baik saja didepan sang mama.
.
.
.
ππππ
mohon maaf kakak semuanya.. emang ceritanya kayak gini, aku sedih sih kakak Reader pada nggak setuju Herra keguguran.
__ADS_1
tapi aku janji nanti bakal happy ending kok..
ini udah mulai hari bahagia, nggak ada sedih-sedih lagiπππ