You Are Only Mine

You Are Only Mine
apa salahnya


__ADS_3

bab 135


.


.


.


Atas perintah dari papa Revandra kini Narendra dan Herra benar satu ruangan. bahkan mereka berdua juga berada dalam satu ranjang. meski keduanya masih dengan selang infus masing-masing.


herra yang tak bisa jauh dari Narendra terus memeluk perut suaminya dengan menjadikan pundak Narendra sebagai bantal.


belaian lembut dari Narendra amat menenangkan bagi herra.


" kenapa papa tidak kemari ??" tanya Herra.


" papa menemui kakakmu.."balas Narendra.


" kak Joy.. bahkan aku belum menjenguknya setelah ia sadar.." ujar Herra.


" nanti jika kau sudah lebih baik. kita keruangannya.."balas Narendra seraya menghujani kepala Herra dengan kecupan.


" maafkan aku.."gumam Herra namun masih bisa didengar Narendra.


" kenapa kau minta maaf ?? kau tidak salah apapun sayang.." timpal Narendra dengan cepat.


" aku terlalu lemah. hingga membuat banyak orang kawatir..." tutur Herra.

__ADS_1


Narendra mencium kembali pucuk kepala Istri tercintanya. "semua orang menyayangimu, bukan karna keadaanmu yang lemah, tapi karna memang hal itu biasa wajar terjadi pada ibu hamil muda..mungkin memang bawaan calon anak kita yang sedikit ingin diperhatikan..kau jangan berfikir macam-macam.."terang Narendra.


" bibi may ingin mengajakku kejakarta. dia bilang bisa mengurusku jika disana." terang Herra. semua itu cukup membuat diri nya kawatir.


Narendra membenarkan posisinya untuk bersandar. diikuti Herra yang kemudian menatap lekat suaminya.


" kau mau ??" tanya Narendra.


" tentu saja tidak !! bagimana nanti denganmu, aku tidak mau meninggalkan kau sendiri disini !!?" balas Herra dengan wajah memelasnya.


Narendra menarik kembali Herra dalam pelukannya.


"Tapi sepertinya itu bukan ide yang buruk sayang..disana ada kak Zakia, ada Cand, ada bibi mayra. mereka semua dokter yang bisa menjagamu..dan dia.." ucap Narendra sembari mengusap perut Herra yang masih rata.


Herra mendorong sedikit tubuh Narendra saat mendengar suaminya berkata demikian.


" hey bukan begitu...maksudku.."Narendra berusaha menjelaskan.


Herra sudah terlihat marah dengan asumsinya sendiri.


" Sayang..dengarkan aku.."Narendra memegangi kedua pundak Herra agar menatap dirinya. "aku tidak memaksamu untuk kejakarta. tapi aku akan sedikit kerja keras disini guna membangun pabrikku lagi..dan lagi, Rumah kita sudah rata dengan tanah,otomatis kita akan tinggal diapartemen. Kerugian yang aku dapatkan membuatku harus lembur setiap hari untuk membangunnya. aku takut kau terabaikan jika disini.."Terang Narendra mencoba menjelaskan.


" Jadi kau sudah berniat mengabaikanku ??!! bahkan kita belum menjalaninya, tapi kenapa kau sudah bilang begitu !!!?" tuduh Herra yang masih tetap kesal dan marah.


" aduh sayang bukan begitu.. bagaimana caraku menjelaskan ??!!" Narendra nampak frustasi. entah bawaan bayi atau bagaimana, istrinya cukup susah diajak bicara.


" kalau kau berkata begitu, sampai besok juga menantuku akan marah Naren.." Suara papa Revandra terdengar memasuki ruangan rawat kedua anak manusia itu, diikuti Mayra, Darren dan Candrika.

__ADS_1


" papa..." sapa Herra yang cukup malu saat sang mertua berkata demikian.


" lalu bagaimana keputusan kalian ??" tanya Papa Revandra.


Herra dan Narendra saling tatap. Herra amat kawatir dengan apa yang akan terjadi nanti.


" pa..Biarkan Herra disini saja. aku akan berusaha menjaganya dengan baik.." terang Narendra.


" tapi Naren..kondisi Herra butuh pantauan ahli medis.. apa kau akan mencari dokter disini ?? kau percaya orang asing ??" Rentetan pertanyaan dilayangkan Mayra.


" tapi bibi.. aku tidak bisa jauh dari kak Naren.." balas Herra membuka suara.


papa Revandra menutupi seringainya saat terjadi perdebatan disana.


" baiklah. kita kejakarta bersama-sama. Narendra dan Herra, kalian berdua pindah kejakarta bersama." terang papa Revandra memberi solusi.


Semua menatap kearah papa Revandra. begitupun dengan Mayra dan Darren. bahkan sejak tadi adik iparnya itu tidak mengatakan akan memberi solusi seperti itu.


" papa jangan bercanda.. lalu bagaimana kantorku yang disini ??" Tanya Narendra.


" apa salahnya. biarkan Joy yang mengurus. kau rintis kembali pabrikmu, tapi tidak disini, dijakarta. semua alat-alatmu ada disana. paman Romi dan paman Yohan sudah memindahkannya sebelum pabrikmu terbakar." terang papa Revandra dengan tenang.


Narendra dan Herra dibuat tercengang dengan penuturan sang papa. kejutan tak terduga lagi yang papa mereka berikan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2