
bab 156
.
.
.
Mobil Papa Revandra telah tiba dirumah besar miliknya, beberapa lampu nampak sudah padam karna memang saat itu waktu sudah hampir pagi. semua turun, termasuk juga Romi dan Yohan yang menjemput tuan mereka.
" ini rumah yang sangat besar dan luas." puji dokter Micle, dokter spesialis yang dibawa khusus dari Amerika yag juga trermasuk teman dekat Kennan.
" terima kasih dokter. mari silahkan masuk.." ajak Papa Revandra. penjaga pun membawakan beberapa koper milik dokter Micle saat semua masuk bergantian.
Pelayan didalam pun menyambut dengan penuh hormat,
" aku langsung kekamarku !!"ucap Darren.
Papa Revandra hanya menggeleng pelan
" dokter Micle silahkan istirahat dulu. pelayan saya akan mengantar anda kekamar." papa Revandra mempersilahkan.
" terima kasih banyak tuan." balas dokter Micle, yang segera mengekor dibelakang pelayan.
" Nada sudah tidur ya ?? bisakan aku...-"
" besok saja !!!" sambar papa Revandra saat sang kakak ipar belum selesai bicara.
__ADS_1
" istirahatlah pak tua, kau bilang mengajakku duel kan ??" ujar Papa Revandra seraya menaiki tangga.
" adik ipar gila !!" gerutu Kennan yang memilih memutar tubuhnya menuju kamar yang biasa ia tempati.
sementara papa Revandra perlahan membuka pintu kamarnya. ia tak mau sampai menganggu istirahat sang istri. namun manik matanya merasakan silau saat lampu dikamar masih menyala dengan terangnya.
Mata Papa revandra menyapu kesekeliling namun tak didapati istri tercintanya. bahkan diranjang pun Mama Nada juga tidak ada.
Nampak gorden pintu menuju balkon terbuka, barulah papa revandra bisa tersenyum tipis dan bernafas lega. ia melangkah dengan cepat untuk menyusul sang istri yang selalu duduk santai dibalkon kamarnya.
Dan benar adanya, mama Nada tertidur dengan bersandar dikursi santai miliknya.
"kenapa kau keras kepala sekali sayang.." gumam Papa Revandra yang segera mengangkat tubuh mama Nada untuk dipindahkan ketempat tidur.
Perlahan papa revandra meletakkan tubuh mama Nada diranjang. baru saja papa Revandra menempatkan selimut, Tangan mama Nada meraih tubuh papa Revandra hingga papa Revandra teejerambah dalam pelukan mama Nada.
" maafkan aku..aku akan memecat pilot Eangleblood karna membuatmu lama menunggu" balas Papa revandra yang kini menatap lekat wajah istri tercintanya setelah membenamkan ciuman kerinduan dibibir mama Nada. mama Nada di buat tersenyum dengan ucapan suaminya
meski usia mereka sudah tidak muda lagi, namun papa Revandra tak pernah berubah dalam memperhatikan dan menyayangi mama herra.
.
.
Sinar mentari belum menampakkan dirinya, namun Narendra sudah disibukkan dengan membantu Herra yang kembali memuntahkan semua isi perutnya. Sama seperti sebelumnya, Herra akan terus muntah jika isi perutnya belum kosong.
Zakia yang memang sangat intens menjaga Herra langsung cekatan menanganinya. bahkan zakia standbye diRumah sakit tanpa pernah pulang.
__ADS_1
Seakan sudah tidak bisa berkata ataupun merintih, Herra sudah terbiasa dengan rasa sakit yang luar biasa pada perutnya.
Melihat hal itu Zakia sangat merasa Iba. sekuat itu keinginan Herra mempertahankan janin mereka.
Narendra terus menunggu diluar saat Herra tengah ditangani.
Dari lorong nampak sang mama yang berlari kecil diikuti papa Revandra Sikembar dan seseorang yang sangat dirindukannya.
Narendra bisa mengenali dengan betul siapa pria itu.
" sayang.. Herra sakit lagi ??" tanya mama Nada penuh kawatir.
Narendra mengangguk pelan.
Kennan mendekat dan memeluk keponakan kesayangannya itu. "kuatkan hatimu anakku..paman datang membawa dokter yang bisa menyembuhkan istrimu.."
"benarkah itu ??" tanya Narendra yang seolah sangat berharap.
" papamu mendatangi paman dan mengatakan semua keluhan istrimu."terang Kennan.
Narendra menatap sang papa yang mengangguk mengiyakan. lagi-lagi sang papa lagi yang menjadi penolong dalam kebuntuan fikirkannya.
.
.
.
__ADS_1