
bab 15
.
.
.
Sinar mentari mulai meninggi seiringi dengan jarum jam yang mulai berjalan. Herra terlihat sudah menyiapkan sarapan pagi untuk sang kakak dengan penuh semangat.
Rambut yang digulung diatas serta kaos oblong dan celana pendek biasa bahkan Herra belum menggunakan make up sama sekali, namun Kecantikannya yang alami memang patut dikagumi siapapun.
Senandung kecil dari mulut mungil Herra sayup-sayup terdengar bagi siapa saja yang disana.
" tumben kakak belum bangun ??" tanya Herra sendiri seraya melirik jarum jam yang menunjukkan pukul 06.30.
Piring serta segelas susu kesukaan sang kakak sudah ia siapkan. "nah, sudah.. sekarang tinggal bangunin kakak.." ujar zherra sendiri lagi. ia melangkah menuju kamar Joy namun bel pintu tiba-tiba berbunyi.
"siapa datang pagi-pagi begini ??" gumam Herra menerka-nerka.
Bunyi bel terus terdengar. Herra buru-buru melepas celemek yang menempel ditubuhnya dan berlari membukakan pintu.
ceklek..
Herra nampak terkejut dengan orang yang datang itu. Narendra berdiri tegap didepan pintu dengan setelan santai, wajah tak berekspresi favorite Narendralah yang terlihat saat Herra menatapnya.
__ADS_1
" tu..tuan.. ada apa ke..sini ??" tanya Herra secara spontan
" Joy mana ??" Narendra balik bertanya.
"oh..ee..kakak..kakak masih tidur Tuan.." gelagapan Herra menjawabnya. Ya, selama ini Herra bahkan tidak pernah tau dan dekat dengan bos kakaknya itu, hingga membuat Herra begitu takut dan canggung. apalagi semalam mereka berdrama didepan orangtua Narendra, Herra amat takut jika ia melakukan kesalahan.
" tumben sekali dia masih tidur." ujar Narendra lirih.
" mungkin kakak capek tuan. maaf.."Herra menundukkan kepalanya berusaha sopan.
" apa kau tidak mempersilahkan aku masuk ??" tanya Narendra.
" ohh..iya..iya.. maaf..maaf.. Mari silahkan.." Herra mundur agar Narendra bisa masuk namun karna Herra kurang berhati-hati, Herra terjegal kakinya sendiri hingga menyebabkan dirinya akan terjerambah kebelakang.
" aahh !!" pekik Herra.
Bertabrakannya Dada herra dengan Narendra membuat Herra amat begitu terkejut tak karuan. begitupun dengan Narendra. sangat terasa Buah yang masih nampak kecil itu menempel diarea tubuh Narendra. sebab Herra memang tidak menggunakan Bra. tubuhnya hanya terbalut kaos oblong saja.
"apa-apaan anak ini.. kenapa tidak menggunakan dalaman.." Batin Narendra.
Kedua orang itu saling tatap hingga beberapa saat. Herra bahkan tak berkedip kala tatapan Narendra begitu menusuk dan dalam.
" Eheem !!!"
Deheman dari Joy yang baru keluar dari kamar membuat kedua anak manusia yang sama-sama terpaku itu tersadar. Herra cepat-cepat melepaskan diri dari Narendra.
__ADS_1
Berbeda dengan Herra yang nampak begitu malu dan salah tingkah, Narendra justru terlihat biasa saja.
" kau tersedak ?? " tanya Narendra dengan santai. joy tak habis fikir dengan bosnya itu, kenapa tidak peka dengan dehemannya tadi.
Joy melangkah mendekati adik dan bosnya.
" tuan ada apa kesini ??" tanya Joy balik.
" aku..aku..mau sarapan. disini." jawab Narendra begitu kaku. Herra langsung mengakat wajahnya yant tertunduk sejak tadi. sedangkan Joy melongo dengan ucapan Bosnya itu.
apa kepala bosnya terbentur atau bagaimana,
" ada apa kalian menatapku ?? apa tidak boleh ??" ujar Narendra.
Joy mengerjapkan matanya beberapa kali. "maaf tuan. tapi adik saya belum..-"
" Eh..kak, aku sudah buat nasi goreng kesukaanmu.." timpal Herra.
" Herra, Tuan tidak pernah makan nasi goreng.." balas Narendra.
" kau mengejekku Joy !!?" Ralat Narendra. dengan pede nya Narendra berjalan kearah meja makan dan duduk dengan santai.
Herra dan Joy saling tatap sama-sama heran dan bingung harus bagaimana.
Narendra seolah tak melihat dua kakak beradik yang memperhatikannya. Sumpah demi apapun, Narendra sangat malu dan jatuh sekali drajatnya, semua karna sang mama yang memaksa dirinya untuk kerumah Herra. mama Nada sungguh sangat bersemangat dengan hubungan pura-pura Narendra dan Herra. entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Narendra sendiri pusing memikirkannya.
__ADS_1
.
.