You Are Only Mine

You Are Only Mine
maaf sudah merepotkan


__ADS_3

bab 144


.


.


.


perjalanan herra sudah selesai saat mobil sudah memasuki halaman luas rumah mertuanya.


" Herra. selama kau hamil kau tinggal bersama mama ya ?? kondisimu membuat mama sangat kawatir sayang.." ujar mama Nada.


Herra membalas dengan senyuman, meski kepalanya terasa semakin berdeyut, dengan segenap kekuatan yang ada, Herra berusaha tetap tersadar.


" maaf ma, sudah merepotkan."


" kau bicara apa.. mama tidak pernah merasa direpotkan. mama juga sangat bersyukur akhirnya berkat kau, Narendra mau kembali kejakarta."tutur mama Nada.


Zakia membukakan pintu untuk sang mama sementara Rans segera mengeluarkan kursi roda dari bagasi mobil dengan dibantu para penjaga yang menyambut kedatangan nyonya besar mereka.


Tak lama mobil Darren juga sudah memasuki halaman rumah besar Revandra dan berhenti tepat dibelakang mobil Mama Nada.


Semua buru-buru turun termasuk Narendra yang hendak menolong istrinya yang turun dari mobil.


sementara papa Revandra juga sigap berlari membantu istrinya turun dari mobil.


tatapan tajam masih dilayangkan mama Nada meski ia pun menerima bantuan papa Revandra. sebuah senyum yang dibuat semanis mungkin oleh papa Revandra terus terhias diwajahnya agar paling tidak kemarahan mama Nada sedikit reda.


" Nad. aku dan Darren langsung pulang ya ??" pamit Mayra yang baru turun dari mobil.


" kalian tidak mampir minum atau makan camilan dulu ??" tawar Mama Nada.


" tidak. aku capek. besok kami akan kesini.." balas Darren.


Mama Nada mengangguk setuju. "hati-hati kak.."

__ADS_1


Mayra dan Darren segera melesat meninggalkan rumah besar adiknya.


Saat hendak masuk, mama Nada segera melepas tangan papa Revandra yang sejak tadi membantunya.


" ma..-"


" diamlah jika tidak ingin menbuatku tambah marah !!" ralat mama Nada seraya menyusul Herra dan Narendra sudah lebih dulu membawa Herra masuk kedalam rumah.


" ck !! alamat didiamin kalau kayak gini !!" gerutu papa Revandra.


Zakia mendekati sang papa dengan senyum ejekannya. saat dihadapan sang mama papanya memang berubah total. "papa. mau aku beritau cara yang ampuh menakluhkan hati mama ??"


Papa Revandra menautkan alisnya sembari menatap putri pertamanya itu. " apa ?? kau mau menambah hukuman papa ??!!"


" papa sudahlah.. papa kan tau mama itu tidak bisa dibohongi orangnya. selama papa pergi mama tidak mau makan, jika sakitnya kambuh bagaimana ??!!" cerocos Zakia yang tidak mau disalahkan.


" baiklah. apa saranmu ??!!" balas papa Revandra yang memang tidak mungkin menyalahkan putri kesayangannya.


" kemarilah aku bisiki.." ujar zakia dengan senyumnya.


" diamlah pa.." bisik Zakia.


entah karna sudah buntu atau bagaimana, Papa Revandra segera mendekati Zakia. dan dengan semangat Zakia membisikkan kata demi kata yang membuat eksrepsi Papa Revandra berubah ubah.


" apa itu tidak aneh ??" tanya Papa Revandra.


" tentu saja tidak. survey membuktikan cara itu ampuh untuk membuat pasangan yang marah menjadi tidak marah lagi.." jawab zakia dengan cepat.


" tapi..-"


" papa !!! Herra pingsan !!" panggilan dari dalam terdengar dari luar. kepanikan mulai terjadi saat Herra sudah tak sadarkan diri ketika hendak dibaringkan ketempat tidur.


" menantuku .." papa Revandra segera berlari kedalam diikuti Rans dan zakia.


" ada apa ma ??" tanya Papa Revandra.

__ADS_1


" Herra pingsan. dikamar pa.." jawab mama Nada dengan wajah penuh kawatir.


" sayang Zakia.. tolong adikmu nak.."pinta mama Nada.


" pa, ambilkan peralatan medisku dimobil ya.." Zakia meminta Rans untuk mengambilkan alat-alat medis miliknya.


Rans pun mengangguk dan berlari menuju mobil.


sementara Zakia berlari kekamar dimana Herra dan narendra berada diikuti papa Revandra dan mama Nada yang menangis.


" tenanglah sayang.. menantu kita pasti baik-baik saja.." papa Revandra merengkuh pundak istrinya guna memberi ketenangan.


Didalam Narendra tak kalah kalut. ia bahkan tak melepas tubuh Herra yang ditopang sejak tadi.


" sayang.. bangunlah !! aku mohon..jangan mbuatku takut.." ucap Narendra dengan terus berusaha menyadarkan Herra.


wajah Herra amat pucat pasi, hingga membuat siapa saja ketakutan saat melihatnya.


" Naren.." panggil Zakia.


" kakak.. tolong istriku.. kau kan dokter Obgyn dulu..tolong istriku kak.." pinta Narendra dengan amat menyedihkan.


" tenanglah. baringkan dia. biar kakak periksa. minta sopir menyiapkan mobil jika kondisi Herra tidak memungkinkan drawat dirumah kita bawa kerumah sakit kakak." terang Zakia.


patuh Narendra membaringkan Herra perlahan. dan dengan cekatan Zakia memulai pemeriksaan setelah Rans memberikan tas berisi beberapa alat medis miliknya.


Semua nampak.berdoa dengan harapan yang begitu besar.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2