
bab 113
.
.
.
Sore hari Narendra turun kebawah guna membawakan makanana untuk Herra yang terbaring tak berdaya karna pergulatan mereka yang diulang hingga beberapa kali.
" bik.." panggil Narendra.
kepala pelayan langsung mendekati tuannya " ada apa tuan ??"
" siapkan makanan untuk dibawa kekamar. Herra sedikit tidak enak badan."perintah Narendra.
" baik tuan. nona sakit ?? pasti karna dari pagi tidak makan.." balas Bik Rima.
" dari pagi ??!! kenapa bibi tidak bilang !!" omel Narendra dengan wajah kawatir.
" tuan dan nona tadi langsung kekamar, kami mana berani mengganggu."balas Bik Rima dengan menunduk.
Narendra cukup kawatir bahkan merasa kawatir, karna sejak siang ia terus mengajak Herra bergulat menguras energi.
Tak lama pelayan sudah siap dengan senampan penuh menu makanan, dan siap dibawa.
" biar saya saja."Narendra mengambil nampan besar berisi makanan yang dibawa pelayan.
Tanpa peduli pada pelayan ia langsung membawanya melangkah pergi menapaki anak tangga agar segera tiba dikamar.
didalam Herra terlelap dengan wajah kelelahan. Saat Narendra masuk pun Herra masih nampak enggan membuka matanya.
__ADS_1
Narendra pun meletakkan nampan diatas meja nakas dan duduk disisi Herra yang terbaring.
"sayang..bangunlah..ayo makan dulu.." panggil narendra dengan suara lembutnya.
Herra nampak mengeliat. dengan malas ia menyipitkan mata membukanya.
" kakak..aku lelah sekali.." ujar Herra suaranya terdengar serak. Narendra cukup merasa bersalah saat mendapati istrinya begitu kelelahan akibat melayani dirinya
" maaf ya sayang..aku membuatmu seperti ini..aku tidak akan mengulangi yang berlebihan seperti tadi.." Balas Narendra seraya mengusap lembut kepala Herra, tak lupa ia mengecup kening Herra.
Herra hanya berdengung dan mengangguk mengiyakan.
" sekarang aku suapi ya ?? hari ini dan besok aku akan menjadi pelayanmu.." kata Narendra dengan penuh semangat.
Herra tersenyum seraya menatap suaminya. ia kemudian membenahi diri dengan duduk bersandar seraya membenahi selimut agar menutupi tubuhnya yang memang masih polos.
" apa kakak yang memasaknya ??" tanya Herra.
" tentu saja ??" Herra masih ragu.
"tentu saja tidak sayang.. kau kelaparan, masak harus makan masakanku yang berantakan rasanya.."balas Narendra.
Herra mengerucutkan bibirnya. cacing diperutnya memang sudah berbunyi pertanda ia tengah lapar.
" ayo buka mulutmu.." Narendra mulai menyendokkan makanan.
" tapi aku mau mandi dulu " ujar Herra dengan suara manjanya.
" jika kau tinggal mandi makanannya akan dingin.." timpal Narendra.
" tubuhku lengket..hanya sebetar.. bantu aku berdiri.. tubuhku lemah sekali kak.."Pinta Herra masih dengan suara serak namun terdengar sangat manja.
__ADS_1
Narendra kemudian meletakkan piring diatas meja lagi. lalu berdiri dan dengan sigap membuka selimut yang dipakai Herra.
" kakak..!!" pekik Herra yang berusaha menutup tubuh polosnya
" kenapa ??" Narendra menatap lekat istrinya.
" aku kan tidak memakai apapun. kenapa dibuka begini..!!!" protes Herra.
Narendra terkekeh dan langsung meraup tubuh Herra dalam gendongannya. "aku kan sudah melihat semuanya. bahkan merasakanya juga.." bisik Narendra pada Telinga Herra.
wajah Herra bersemu merah lalu menyandarkannya didada bidang suaminya.
Dengan dibantu Narendra Herra membersihkan tubuhnya, sesekali Narendra tersenyum saat melihat sisa ulahnya tadi di leher dan dada Herra banyak kissmark yang diukir indah olehnya sendiri.
Narendra tertawa geli hingga mengundang perhatian Herra.
" kenapa tertawa ??" tanya Herra.
" tidak apa.. aku rasa kau harus mengganti ukuran bra mu sayang.." goda Narendra.
Herra mengarahkan air pada Narendra karna sudah mengejeknya.
" sayang.. aku sudah mandi.. !" Narendra berusaha menghindar.
" biarkan saja..rasakan ini.." Herra terus mengarahkan air pada Narendra. tak ingin kalah Narendra ikut masuk kedalam bak mandi lalu bermain air bersama istrinya. tawa lepas penuh bahagia memenuhi kamar mandi sore itu.
.
.
.
__ADS_1