
bab 125
.
.
.
Herra terus menatap keluar jendela. meski masih bersandar ditempat tidur, Herra bisa melihat keindahan luar melalui jendela kaca yang ada disana.
Tatapan kosong dengan penuh kesedihan bisa terlihat. mengingat masalah yang tengah dihadapi suaminya.
Candrika yang memang diperintahkan Narendra untuk menjaga Herra masuk keruang rawat perlahan dengan senyum terhias diwajahnya.
" kau belum tidur kak ??" sapa Candrika.
Herra segera menoleh dan membalas senyum Candrika dengan kedipan mata yang beraturan.
" kau benar ada disini ya ?? apa ini perintah kak Naren ??" tanya Herra.
Candrika tertawa kecil. "tentu saja tidak kak..kebetulan dari rumah sakitku diJakarta diundang seminar disini, dan tidak sengaja aku melihat kak Naren saat kakak dibawa kesini." terang Candrika yang duduk disisi Herra.
Herra pun mengangguk seraya tertunduk pertanda mengerti. ia berusaha mengatur nafas yang sejak tadi cukup sesak saat Herra menahan tangis yang sangat ingin keluar.
" apa kau tau masalah apa yang dihadapi kak Naren ??" tanya Herra.
" masalah ?? kak naren ?? dia tidak mengatakan apapun padaku kak.." jawab Candrika.
kembali Herra mengangguk pelan. dan sedikit mendesis saat perutnya terasa kram.
" kak.. jangan terlalu berfikir berat. jikapun kak Naren punya masalah aku sangat yakin kak Naren bisa mengatasinya. apalagi ada asisten joy disisinya. kakak juga harus memikirkan yang diperut kakak. kasihan dia, dia masih cukup lemah untuk saat ini." nasehat Candrika.
Herra tak bersuara ia hanya mengangguk membenarkan ucapan Candrika lagi.
Ketukan pintu membuyarkan keharuan antara Candrika dan Herra. keduanya nampak saling tatap. candrika keheranan siapa yang berkunjung malam begini. bahkan jam besuk sudah usai, dan pemeriksaan sudah selesai semua.
" kenapa kau Candrika ??" tanya Herra yang tidak faham
" aneh kak, ini sudah tengah malam. siapa yang datang berkunjung..??!!" jawab Candrika.
__ADS_1
" mungkin suster Cand.." balas Herra.
" itu tidak mungkin. jam pemeriksaan juga sudah dilakukan kan ??!"
" lalu ??" Herra keheranan.
perlahan pintu terbuka. sontak Candrika dan Herra kembali saling tatap dengan kekawatiran dihati.
dan..
" kalian ??!!!"
Candrika amat terkejut dengan kedatangan dua orang yang sama sekali tak difikirkan olehnya.
.
.
.
Domm !!
domm !!!
domm !!!
Melihat posisi mereka bisa menerobos benteng, segera Joy memberi kode agar semua anak buahnya masuk untuk menyerang.
Narendra berjalan lebih dulu dengan pistol ditangannya. diikuti beberap anak buahnya.
dorr..
dorr..
dorr..
dorr..
anggota Flood melawan seketika saat serangan mendadak itu.
__ADS_1
pria dengan tato disekujur tubuhnya yang biasa disebut Betrand pemimpin anggota Flood menggebrak meja murka saat mendengar laporan dari Anak buahnya yang mengatakan pintu gerbangnya diledakkan.
braakk !!
" siapa yang berani menyerang markasku !!!" teriak Bettrand dengan keras.
" kau takut mafia ??!!" suara lantang terdengar dari arah pintu.
entah sejak kapan Narendra sudah bisa menerobos pertahanan Anak buah Betrand.
Bentrand menatap Narendra dengan tatapan tak suka.
" kau !!!"
" ayo lawan aku bajingan !!! jangan hanya bisa menyerang saat aku tidak ada saja !! pengecut !! nama besar anggotamu sudah tercoreng !!" ucap Narendra.
Anak buah Betrand berusaha mengelilingi Memberi perlindungan. Salah satu yang nampak kekar maju terlebih dulu bersiap melawan Narendra.
" lawanmu aku pria jelek !!??" suara Joy terdengar. yang langsung berdiri didepan Narendra.
seketika pula pria berbadan kekar itu menyerang joy dengan bertubi-tubi.
Betrand menyeringai dengan ejekan dilayangkan pada Narendra.
" seharusnya kau berfikir dua kali saat masuk kesini pengusaha !!"
" katakan itu jika kau sudah melawanku mafia !!" balas Narendra yang langsung hendak melawan. namun dengan cepat pula beberapa pria berbadan kekar kembali muncul entah dari mana mengelilingi Narendra.
" lewati mereka dulu jika kau ingin menjangkauku pengusaha " ejek Betrand yang kembali duduk dan menikmati minumannya.
Narendra mengepalkan kuat tangannya dengan tatapan sangat waspada ia Siap menghadapi pria-pria yang tubuhnya sangat kekar itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.