
bab 223
.
.
.
Hingga malam tiba,Andika masih setia dihadapan ponselnya didepan meja kerjanya.
entah mengapa ia begitu berharap jika Dayra tiba-tiba menghubunginya dan mejawab perasaannya.
"apa dia belum sampai ??" gumam Andika sendiri.
Hingga pukul 03.00 dini hari Andika tetap setia dihadapan ponselnya.
sampai tanpa sadar ia tertidur dengan menggunakan tangan sebagai alas kepalanya.
Pagi hari mama Sonia begitu heran, sebab tak biasanya Andika bangun hingga sedikit siang. dimeja makan bahkan belum juga ada.
" Kemana anakmu ?? apa dia tidak pulang pa ??" tanya Sonia pada papa Romi.
" setauku dia pulang. coba bangunkan."perintah papa Romi.
" tumben sekali anak itu." gumam mama Sonia yang segera menapaki satu persatu anak tangga.
kamar Andika memang bersebelahan dengan ruang kerjanya. saat melewati ruang kerja Putranya mama Sonia sedikit heran, tak biasanya Ruang kerja putranya terbuka begitu.
" apa dia didalam ??" tanya Mama sonia pada dirinya sendiri.
segera mama sonia masuk dan benar saja. Andika masih terlelap dengan tangan sebagai alas kepala.
" kenapa kau mirip sekali dengan papamu sih !! begitu mencintai pekerjaan !!" gerutu mama sonia yang buru-buru mendekati putranya. jika sampai terlambat kekantor, Andika tidak akan mau sarapan.
" An..bangun.. sudah siang !!" mama sonia mencoba membangunkan dengan pelan.
__ADS_1
"an..bangun nak..kau mau bekerja atau tidak ??!!"mama sonia menambah volume suaranya.
" ah.. iya.. mana ma ??" Andika buru-buru bangun.
" mana ?? mana apanya ??" tanya mama sonia kebingungan.
Andika mengusap matanya, ia benar-benar sudah gila, sebab yang Andika dengar adalah panggilan mama yang mengatakan jika Dayra sudah menghubunginya.
"maaf ma.. aku terlalu..-"
" An. mama tau kau ingin profesional, tapi tetap ingat kesehatanmu. jika setiap malam kau lembur begini bagaimana nanti kesehatanmu, mama tidak mau apa yanh terjadi dengan papamu juga kau alami."tutur mama sonia.
" iya ma.. maaf.." balas Andika yang tidak mau berdebat.
" ya sudah. segera bersih-bersih. mama.tunggu dibawah ya.."ucap mama sonia yang segera keluar.
Andika membuang nafas dengan mensyugarkan rambutnya kebelakang. "aku benar-benar gila karna kau Dayra.."gumam Andika yang segera beranjak dari duduknya.
.
.
" kenapa kau yang memasak ?? apa pelayan terlambat bangun ??" tanya Ken.
" tentu saja tidak. aku hanya ingin memasak saja. paman cobalah, ini menu baruku.." Dayra mempersilahkan.
Kennan dengan perlahan menikmati makanannya.
sementara Dayra yang sejak tadi memang otaknya juga melayang entah kemana masih setia melamun dihadapan makanan.
Ken yang melihat tersenyum dan meletakkan garpu yang ia gunakan.
"apa kau sakit ??" tanya Ken.
" ah.. tidak..kenapa paman bertanya begitu ??" tanya Dayra balik.
__ADS_1
"kau terlihat tak berselera makan. apa kau ingin tinggal diIndonesia bersama kedua orangtuamu ??" tanya Ken lagi.
" paman bicara apa..aku tidak berfikir begitu.. aku senang disini kok..sudah ya, ayo makan.." Dayra buru-buru memasukkam makanan kedalam mulutnya. agar pamannya tidak lagi bertanya.
.
.
.
Kebahagiaan yang dirasakan pasangan Herra dan Narendra harus terus diuji dengan banyaknya permintaan Nyidam Herra. pagi itu bahkan Herra harus menangis tersedu karna Narendra tidak mau membelikannya martabak.
bukan tidak mau sebenarnya, melainkan dipagi buta seperti itu mana ada yang jualan martabak.
namun seakan tak mau mendengar penjelasan apapun, Herra terus tersedu menangis.
"sayang.. berhenti menangis dong.. aku bukannya tidak mau, tapi apa jam segini sudah ada yang jual ??" bujuk Narendra.
" belum juga mencari sudah bilang tidak ada !! memang dasar kakak tidak mau membelikannya !!" balas Herra dalam tangisannya.
" baiklah.. baiklah aku akan mencarikannya, tapi kau harus sabar ya, aku akan sedikit lama.."akhirnya Narendra tak punya alasan lagi dan mengalah.
" janji ??" Herra mengajak suaminya berjanji kelingking. dan Narendra pun dengan setia menerimanya. "janji sayang.."
Dan dengan begitu Herra langsung tersenyum. " peluk.." pinta Herra.
" baiklah.. kemari aku akan memelukmu.." Narendra membuka kedua tangannya dan Herra pun segera berhambur memeluk suaminya dengan erat.
Drama seperti itulah yang sering terjadi jika pagi hari atau bahkan dimalam.hari.
.
.
.
__ADS_1