You Are Only Mine

You Are Only Mine
Kalian semua adalah nyawa papa


__ADS_3

bab 132


.


.


.


" papa panggilkan Candrika ya ?? supaya kau diperiksa.." ujar papa Revandra Seraya hendak berdiri.


Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Narendra meraih tubuh sang papa dan memeluknya dengan erat.


" maafkan Naren pa..maafkan Naren.." ucap Narendra dengan sepenuh hati.


papa Revandra mengusap punggung putranya, "kau tidak salah nak.. maafkan papa yang datang terlambat.."


Narendra membuka pelukannya. "aku hanya tidak mau kalian kawatir.."


Revandra mengangguk. "papa tau itu..bahkan mamamu tidak papa beritau masalah yang tengah kau hadapi."


"apa luka ini tidak sakit ??" tanya Narendra seraya menatap perban yang ada dipundak kanan sang papa.

__ADS_1


Revandra tersenyum serayaa memegangi pundak putranya. "seharusnya kau sudah tau papa sejak dulu sering mendapatkan luka kecil seperti ini..lihat yang kiri dan juga kaki kanan papa.."papa Revandra menunjuk pundaknya yang sebelah kiri. "pundak papa yang kiri dan kaki kanan patah saat menuruti keinginan kakakmu Zakia, mungkin kau lupa, karna dulu kau masih kecil. butuh 1 bulan lebih untuk papa menutupinya dari mamamu....lalu ini.."papa Revandra menunjuk bekas luka yang sudah lama disisi perut sebelah kanan. "ini papa dapatkan saat menyelamatkan mamamu dan kau saat kau masih dalam kandungan mamamu.."terang Papa Revandra dengan tenang.


" kau tau. kalian semua adalah nyawa papa. tidak ada yang boleh menyakiti kalian semua selama papa masih bernafas. luka ditubuh ini tidak ada apa-apanya jika dibanding saat papa melihat mamamu, kau dan saudaramu terluka atau bahkan teraniaya." tambah papa Revandra sembari menatap putra pertamanya yang begitu lekat menatap dirinya.


" maafkan papa yang tidak jujur padamu..selama ini anggota papa selalu mengawasimu, bisnis dan kehidupanmu disini selalu papa awasi. makanya saat kau mendapat masalah besar seperti ini, papa tidak mungkin bisa diam saja. kau memang hebat anakku, kau berhasil menjadi seorang pengusaha tanpa campur tangan papa..bahkan saat ini kau sudah memiliki seorang istri dan akan menjadi orangtua. tapi bagi papa dan mama, kau tetap Narendra kami, Narendra kecil kami yang sampai kapanpun harus kami lindungi bahkan jika memang nyawa kami menjadi taruhannya, kami akan lakukan..." terang papa Revandra. matanya bahkan sudah berkaca-kaca. namun sebisa mungkin air mata itu jangan sampai jatuh dihadapan putranya.


Tak ada yang bisa diucapkan oleh Narendra saat ini. Bangga dan sangat bersyukur, hanya itu yang ada dalam hatinya, memiliki orangtua yang begitu menyayanginya. Kembali Narendra memeluk sang papa dengan erat. seolah mengatakan Ia pun sangat menyayangi papanya itu. Papa Revandra memejamkan mata menekan rasa dihatinya, Berusaha menahan air mata yang hampir luruh karna rasa haru yang menerpa.


.


.


" ayolah ma.. makan dulu.. papa besok sudah kembali.." bujuk Zakia. saat mendengar sang mama tidak mau turun untuk makan dan minum obat


" ma..papa sedang ada pekerjaan..besok juga kembali.. jika mama tidak makan, papa akan memarahiku nanti.." ujar Zakia.


" pekerjaan apa ?? kenapa tidak ijin mama dulu ??!!" protes mama Nada. bukan marah yang mama Nada rasakan untuk suaminya, rasa kawatir yang begitu menyelimuti hatinya. pergi tanpa pamit dan tanpa mengabari. Mama Nada sudah bisa menebak, telah terjadi masalah serius, entah apa bahkan mama Nada belum bisa menebaknya.


" ma.. ayolah.." Zakia amat frustasi. ia bukan wanita penyabar yang bisa membujuk dengan hati tenang. bahkan ia memutar otak mencari cara. "ma..aku akan mengajakmu jalan-jalan makan sefood kesukaanmu, mumpung papa tidak ada.. bagaimana ??" bujuk Zakia.


tak lama Rans dan alvi masuk kekamar Mama Nada.

__ADS_1


" oma.." sapa Alvi yang langsung mencium tangan omanya dan duduk disisi mama Nada.


" sayang.. bagaimana hasil ujianmu ?? kau lulus kan ??" Mama Nada tak mengindahkan ucapan putrinya.


Zakia kesal bukan main. hal itu justru membuat Rans tertawa kecil. istrinya memang bukan tipe wanita yang bisa sabar. jika bukan mamanya, Rans sangat yakin Zakia akan mengancam dengan senjata.


" tentu saja oma..nilaiku lumayan bagus.. ya, meski tidak juara.." terang Alvi.


" tidak apa-apa sayang..oma tidak pernah menuntutmu untuk menjadi juara, belajarlah sungguh-sungguh, agar kau bisa menjalani Pendidikan SMA dengan baik, itu sudah cukup.." balas mama Nada dengan penuh kelembutan.


Alvi mengangguk pertanda mengerti. ia pun memeluk tubuh omanya dengan bahagia. Oma Nada yang sangat menyayanginya meski kini Alvi sudah menginjak usia remaja.


" kalian keluarlah !! aku masih ingin bersama cucuku.." perintah mama Nada pada Rans dan zakia.


" baiklah ma..kami keluar dulu.." pamit Rans dengan segera.


" tapi ma.. mama belum makan dan minum obat !!!" protes Zakia. namun sayang, tangannya sudah ditarik paksa oleh Rans.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2