
bab 70
.
.
Malam pun tiba, cahaya rembulan serta Bintang yang bertebaran dilangit malam itu menambah suasana bahagia hati Narendra. ia cukup lega setelah menyatakan perasaannya. ia sudah tidak malu melakukan lebih terhadap Herra dan memanggil Herra dengan sebutan sayang dan istriku.
Herra yang selalu malu-malu membuat Narendra bertambah gemas dan begitu menyukai itu. namun malam ini entah karna terlalu memikirkan pekerjaan atau karna apa, Narendra tak begitu peduli pada Herra, dan masih fokus terus didepan laptop kerja.
Seperti biasa, Herra mengantar kopi keruang kerja Narendra.
perlahan Herra meletakkan secangkir kopi itu dihadapan Narendra. "minum dulu kak.."
" iya." jawab Narendra singkat.
" kakak lembur lagi ??" tanya Herra
" Iya.." jawab Narendra yang masih fokus dilayar laptop dihadapannya.
Nampak sekali keseriusan disana, Herra setia menunggu disisi Narendra dengan menopang dagu.
" tidurlah dulu, aku masih banyak pekerjaan." ujar Narendra. masih tak memperdulikan Herra.
Herra nampak sedikit kecewa. sejak tadi setelah makan Narendra amat begitu mengacuhkan dirinya. tak ingin terlalu larut dalam fikiran negatif, Herra segera beranjak, berharap Narendra akan segera menyelesaikan pekerjaannya.
" jangan tidur terlalu malam." pesan Herra sebelum melangkah keluar.
__ADS_1
" heemm.." Narendra hanya menjawab seperti itu
Herra pun segera keluar dan menutup pintu perlahan.
Didepan pintu Herra memegangi dadanya. "kenapa rasanya tidak enak diacuhkan..ah..Herra.. suamimu sedang bekerja, bukan mengacuhkanmu.."celoteh Herra sendiri yang kemudian melangkah menuju kamarnya.
Didalam kamar, Herra berguling tak jelas. biasa tidur dengan dipeluk Narendra membuatnya merasa tidak nyaman saat Dada kenyamanannya belum.juga masuk kedalam kamar.
Sesekali bahkan Herra melirik jarum jam dan amat berharap Suaminya segera kembali kekamar. biasanya meski banyak sekali pekerjaan, Narendra akan menyempatkan menemani Herra tidur.
" huh..kenapa otakku berfikir negatif terus.." gumam Herra seraya menutup seluruh tubuhnya dengan Selimut.
" apa karna aku belum.membalas perasaannya ??" Tanya Herra pada dirinya sendiri dengan membuka selimut secara cepat.
" aaahhh !!! aku harus bagaimana ??!!kalau kak Naren bosan padaku bagaimana ?? dia tidak sabaran sekali sih !!!?" Herra nampak begitu frustasi dengan menghentakkan kaki diranjang.
" tidak.. tidak.boleh kesana lagi..Herra..come on..kau harus menunggunya disini saja..jadilah bijak.. please..."Herra berbicara dengan dirinya sendiri.
Dan kemudian Herra membanting dirinya kembali diranjang lalu tengkurap menutup kepalanya dengan bantal.
.
.
Malam telah berganti pagi, Sinar mentari sudah memasuki kamar Herrra. apa lagi saat Bik Rima sudah membukakan horden jendela.
Herra nampak mengeliat saat matanya terkena cahaya matahari yang tembus melalui kaca jendelanya.
__ADS_1
" nona..bangunlah.. sudah siang.. apa tidak kuliah non ??!!" panggil bik Rima
" aku bangun kesiangan ya Bik ??" tanya Herra seraya duduk sembari mengucak matanya.
" tidak juga non." balas Bik Rima.
setelah kesadaran Herra pulih, ia baru teringat suaminya sudah tidak disisinya. Bik Rima yang hendak keluar dicegah oleh Herra dengan cepat.
" ehh...bik, Kak.Naren mana ??"
" tuan sudah berangkat kekantor pagi buta tadi non. bahkan tuan juga tidak sarapan tadi soalnya buru-buru." terang Bik Rima.
" kekantor ??kenapa pagi sekali ??!!" tanya Herra kembali.
" saya juga tidak tau non. tuan hanya pesan, nanti nona kuliahnya bersama sopir saja." jawab Bik Rima.
" baiklah bik.. terima kasih.." ujar Herra bernada lemah sekali.
" air panas sudah saya siapkan non.. sarapan juga sudah siap.." ucap Bik Rima sebelum keluar.
Herra mengangguk pelan. seraya bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.
hari ini ia nampak tak bersemangat. cerahnya pagi itu ternyata tak membuat suasana hati Herra membaik. malah semakin redup saja.
.
.
__ADS_1
.