
bab 131
.
.
.
"aaakkkhhhh !!!!"
teriak papa Revandra saat Mayra mengeluarkan timah yang bersarang dipundaknya.
" diamlah Vandra !!! menjijikkan sekali suaramu itu !!!" protes Darren yang sejak tadi juga berada disana.
" kau yang diam !!! ini sakit bodoh !! Mayra, apa kau tidak bisa pelan sedikit ??!!" Omel Papa Revandra sembari meringis kesakitan.
" kakak jangan berlebihan begitu !! bahkan dulu saja kau bisa mengeluarkannya sendiri kan !!" balas Mayra yang segera menutup luka tembak dipundak Revandra.
" itu dulu !! mataku sudah tidak setajam dulu may !!!" terang Revandra.
"itu salahmu !! aku kan sudah menawarkan diri membantu, kau malah sok pahlawan menolak !!" cibir Darren.
"kau kan aku perintahkan melindungi menantuku ??!! lalu bagaimana kalian berhasil tidak ??!" Tanya papa Revandra.
" kapan kami pernah gagal ??!! semua beres.." jawab Darren sembari menikmati kopi yang ia pesan sejak tadi.
Mayra sudah selesai membalut luka bekas tembakan pada tubuh Revandra. ia pun ikut duduk disisi Darren.
__ADS_1
" syukurlah. setidaknya calon cucuku sudah aman."ucap Revandra.
"mereka kami sekap dimarkas daruratmu. romi mengabariku dan memintaku membawa mereka kesana." terang Mayra.
Papa Revandra pun segera mengangguk pertanda mengerti.
ceklek...
baik mayra Revandra dan Darren bersamaan menatap kearah pintu yang terbuka tanpa diketuk dulu.
"Naren..Herra.. kalian kenapa kesini ??!!" tanya papa Revandra dengan kawatir.
ya, Narendra dan Herra lah yang masuk keruangan dimana papa mereka tengah ditangani oleh mayra sendiri. dengan Herra yang masih setia dikursi roda dan Narendra yang mendorong kursi roda Herra.
papa Revandra segera turun dari brankar menghampiri kedua putra putrinya.
" apa kau sudah lebih baik ??" tanya Papa Revandra sembari meneliti beberapa luka bekas sayatan belati pada tubuh Narendra yang tertutup piyama.
entah mengapa hati Narendra seakan terasa sesak melihat tubuh sang papa.
melihat kedua anaknya memperhatikan tubuhnya, Revandra baru tersadar. "may, ambilkan kemejaku.." pinta Revandra.
" papa terluka ??" tanya Herra suaranya terdengar lemah.
Revandra langsung melayangkan senyum tipis. "luka kecil menantuku..sudah biasa papa dapatkan dulu..kau jangan sedih begitu" balas Papa revandra dengan cepat. ia berusaha menenangkan menantunya yang nampak sedih saat melihat dirinya.
Revandra menerima kemeja yang disodorkan Mayra dan segera mengenakannya.
__ADS_1
Berusaha terlihat biasa dengan mengulas senyum kepada kedua sosok yang amat ia sayangi, Revandra nampak giguk. apa lagi tatapan Narendra yang amat lekat terarah padanya.
menyadari hal itu, Mayra mencoba mencairkan suasana.
"Herra sayang.. ayo kita keruanganmu..sudah waktunya kau diperiksa.." ucap Mayra penuh kelembutan.
" tapi..bik.."Ucapan Herra terhenti saat Mayra mengangguk dengan senyum keramahannya.
Tak bisa lagi menolak, Herra hanya bisa mengangguk. ia tau maksud bibi nya itu.
Segera Mayra memutar kursi roda Herra dan membawanya keluar.
Darren juga segera bangkit dari duduknya. "em..aku cari makanan dulu. kalian berbicaralah.." Ujar Darren yang langsung keluar.
Revandra menatap tajam kakak iparnya itu. namun nampaknya darren tak menggubrisnya.
Narendra tetap menatap lekat sang papa. Tanpa mengindahkan semua yang sudah tak berada disana.
" Naren.. kau harus istirahat. luka sayatan itu tidak bisa kau abaikan.." ujar Papa Revandra.
" kemarilah.. duduk disini.." ajak papa Revandra sembari membantu putra pertamanya yang masih lemah. Narendra pun menurut dan duduk disofa dengan sang papa disisinya.
"bagaimana keadaanmu ?? sayatannya masih terasa perih ?? perutmu bagaimana ?? kram tidak ???" pertanyaan demi pertanyaan dilayangkan papa Revandra dengan ekspresi penuh kekawatiran.
Narendra masih nampak bungkam. rasa bersalah semakin menggunung dalam hatinya. Selama ini Narendra tak pernah mengindahkan ucapan sang papa. namun nyatanya kasih sayang sang papa tetap sama meski kini ia sudah dewasa dan selalu melindunginya dalam bahaya.
.
__ADS_1
.
.