You Are Only Mine

You Are Only Mine
saya tau


__ADS_3

bab 153


.


.


.


Herra menahan sakit sampai berkeringat. ia sungguh benar-benar nekat tak mau mengatakan jika perutnya kembali sakit, meski kini Hanya tinggal Narendra saja yang disana.


" sayang..kau berkeringat terus, apa Ac kamarnya kurang dingin ??" tanya Narendra dengan kekawatirannya.


Meski cukup menyiksa Herra segera tersenyum. "mungkin iya kak. coba naikkan saja suhunya."


Narendra segera meriah tombol remot kontrol Ac dan menambah pengaturan suhunya.


" em..kak. bisa belikan aku buah Anggur. aku sangat menginginkannya." pinta Herra dengan suara lemah.


" anggur ?? baiklah sayang.. aku belikan ya.." Narendra penuh semangat segera meraih kunci mobil dan tak lupa mengecup kening Herra. "sabar sebentar ya, aku akan carikan yang bagus untukmu.." Ujar Narendra seraya melayangkan senyum.


Herra pun mengangguk, dan Narendra segera keluar dari kamar itu.


Seketika, Herra meringis kesakitan sumpah demi apapun, itu sangatlah sakit bagi dirinya.


Ditengah lorong tak sengaja Narendra bertemu suster yang selalu bersama Zakia.

__ADS_1


" kau suster Qiara kan ??" tanya Narendra


" iya tuan. ada yang bisa saya bantu ??" balas Qiara


" tolong jaga istri saya sebentar. saya mau membeli anggur. dia bilang mau makan anggur. nanti aku akan hubungi Kak zakia jika dia mencarimu." pinta Narendra.


" baik tuan. saya akan kesana." bala Qiara dengan penuh sopan.


" terima kasih." Ujar Narendra yang segera bergegas menuju pintu keluar.


Qiara melanjutkan langkahnya menuju ruang rawat VVIP dimana Herra dirawat.


baru saja qiara hendak mengetuk pintu kamar rawat Herra, Samar-samar Qiara bisa mendengar rintihan dari dalam. kepanikan muncul hingga sehingga suster Qiara langsung masuk begitu saja.


" Nona.. nona sakit lagi perutnya ??" tanya Qiara penuh kekawatiran lalu kemudian berjalan cepat mendekati Herra.


sontak Herra menoleh kesumber suara, mata Herra sampai memerah dengan rasa sakit yang amat sangat.


" saya panggilkan dokter sebentar ya.." ucap Qiara yang bisa melihat jika Pasiennya tengah tidak baik-baik saja..


namun buru-buru herra mencegahnya. " sus jangan !!"


Qiara berbalik "tapi nona. akan berbahaya jika sampai dibiarkan ??!"


" aku mohon.. sus.." ucap Herra yang tak punya tenaga untuk berkata.

__ADS_1


Melihat wajah sendu nan pucat Herra, sister Qiara akhirnya urung keluar. ia pun memilih duduk disisi pembaringan Herra, menatap.nanar wanita muda yang terbaring tak berdaya hanya demi mempertahankan kehamilannya. Rasa kagum sekelebat muncul dibenak Qiara saat menyadari Herra selalu menolak mengiklaskan janinnya. malah rela mempertaruhkan nyawanya.


" anda benar-benar wanita yang luar biasa nona.." ujar Qiara.


seulas senyum terhias diwajah Pucat Qiara. beberapa kali ia mengatur nafas agar menetralkan rasa sakit yang terus ia rasakan.


" tapi nona. apa anda tidak kasihan dengan tuan Narendra jika anda seperti ini ?? saya bisa melihat tuan sangat mencintai nona, jika anda berkorban demi janin anda supaya bisa hidup, bagaimana nanti keadaan tuan Narendra, dia pasti akan sangat terpukul," tutur Qiara mencoba menjelaskan.


Herra memejamkan mata dengan air mata yang mengalir begitu saja. "saya tau itu , dia anugerah yang sangat saya dambakan..semoga rasa kehilangan saya akan terganti dengan hadirnya calon anak kami nanti.." balas Herra dengan lirih.


Qiara memberanikan diri menggenggam jemari Herra. "anda benar-benar luar biasa nona.. saya sangat kagum dengan anda. keteguhan anda sangatlah tinggi, semoga ada keajaiban untuk anda dan janin anda nona.."


" terima kasih sus..saya juga berdoa semoga Suster segera menemukan kebahagiaan yang seperti saya rasakan." balas Herra dengan mengulas senyum.


Qiara mengangguk mengiyakan. "saya beri obat penahan rasa sakit dulu nona ??"


" silahkan sus." balas Herra.


Qiara dengan cekatan menyuntikkan cairan berwarna kedalam infus Herra.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2