Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 10: Santai sejenak.


__ADS_3

Chapter 10: Santai sejenak.


 Berniat baik.


"Apa kamu butuh rekomendasi rumah sakit yang bagus?" tanya Aka.


 Mengikuti alur.


"Boleh juga" jawab Dashie.


 Sudah paham apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya itu.


"Aku akan kenalkan beberapa direktur rumah sakit dan mengatur jadwal untuk perawatan kalian" kata Aka.


 Menanggapi dengan biasa.


"VIP?" tanya Dashie.


"Kenapa?" tanya balik Aka.


 Dashie menunjukkan obat yang ia bawa setelah hasil pemeriksaan tadi di rumah sakit dekat kantor polisi.


 Jarrel cuma bisa berekspresi apa adanya dengan sifat acuh tak acuhnya itu.


 Callie hanya berpikir bagaimana ia cepat pulang ke rumah.


 Sedangkan untuk Dashie berpikir terserah dengan apa yang dikatakan oleh Aka dengan segala nasihat niat baiknya itu. Dia sudah lelah setelah peristiwa tadi sama halnya dengan Callie ingin cepat cepat pulang kerumah.


 Sebuah harapan.


"Kalian kelak akan menjadi sahabat" kata Ved.


 Keduanya menatap Ved.


 Menjadi horor.


 Membela diri.


"Ada apa dengan kalian. Itu harapanku, kalian memang cocok" kata Ved.


 Menjadi penengah.


 Jarrel mengajukkan saran kepada Aka.


"Sudah sampai. Bagaimana denganmu kau akan tetap di sini atau aku antar pulang?" tanya Jarrel.


 Aka lebih memilih tetap tinggal di rumah Dashie.


 Karena sudah memilih setelah ini kedua pemuda ini memastikan mereka masuk kedalam rumah.


 Menunggu di depan halaman rumah.


"Mereka sudah aman. Ayo kita pergi" kata Ved.


 Jarrel dan Ved menemui petugas keamanan di sekitar komplek untuk melaporkan kejadian tadi yang terjadi kepada dua warga mereka agar bisa memberikan perlindungan lebih kepada mereka untuk mencegah hal hal yang tidak diduga.


 Setelah mereka selesai dengan laporan ini mereka kemudian kembali ke toko neneknya Jarrel.


 Dalam perjalanan ke arah toko.


"Aku tidak melihat nenekmu. Dia pergi kemana?" tanya Ved.


 Senyum sedih ada di situasi ini.


 Curiga.


"Pasti terjadi sesuatu" kata Ved.


"Dia dibunuh oleh Blakwhe" jawab Jarrel.


 Menjadi emosional.


"Bangsa kita memang … " kata Ved.


"Lalu kau tahu siapa spesifik pelakunya?" tanya Ved.


"Ini adalah kelebihan kita" kata Jarrel.


 Menegaskan.


"Kita memang satu bangsa dengan mereka tapi kita bukan mereka" kata Ved.


 Menahan emosi yang tidak bisa terkontrol oleh Ved.


 Berkata sesuai realita.


 Berhenti bersuara dengan keras lalu menghadap kawannya itu. 


 Menegaskan.


"Kita sama seperti mereka dan kita juga bisa seperti mereka. Paham!" kata Jarrel.


 Kedua mata Jarrel berkaca kaca.


 Dia sudah beberapa kali melihat banyak orang orang pergi dari hidupnya di depan matanya sendiri menyakitkan dan kali ini adalah neneknya sendiri.


 Ved berjalan pelan kedepan meninggalkan Jarrel.


 Menyusul kemudian Jarrel dari arah belakang.


 Malam gelap yang sunyi tanpa suara dengungan menyakitkan itu datang lagi lebih tepatnya belum datang lagi disekitar mereka.


 Pagi yang cerah seseorang dengan apron hitam sedang sibuk di dalam dapur. Bau wangi masakan tercium lezat oleh Dashie.


 Pukul lima pagi.


 Baru bangun tidur kemudian menyingkirkan selimut merah muda yang ada di kepala sampai separuh badan.


"Siapa yang memasak pagi pagi begini?" tanya Dashie.


 Turun dari tempat tidur.


 Membuka lemari kayu putih lalu mengambil handuk dan setelan baju merah muda. 


 Berjalan ke kamar mandi.


 Berhenti sejenak.


 Mendengar seseorang sedang mandi.


"Kau didalam?" tanya Dashie.


 Berteriak dari dalam kamar mandi.


"Ya. Tunggu!" kata Callie.


 Mengambil kursi kecil berbahan plastik dan duduk di sisi kiri pintu kamar mandi bersandar masih dengan menutup mata menunggu Callie selesai mandi.


 Lima belas menit kemudian.


"Bangun. Aku sudah selesai mandi" kata Callie.


 Dashie membuka mata lagi.


"Ok" kata Dashie.


 Callie dengan setelan baju berwarna hitam baru selesai mandi.


 Mengeringkan rambut setelah keramas dengan handuk putih. 


Mencium bau harum masakan.


"Siapa yang memasak. Apa Aka?" tanya Callie.


 Pergi menuju ruang dapur.


 Datang di ruang dapur.


 Duduk di kursi ruang makan.


"Dia memasak semua ini" kata Callie.


 Berbalik dengan masakan terakhir.


 Menatap semua makanan yang dibuat oleh Aka.


"Apa kau merasa terkejut?" tanya Aka.


 Membaca karakteristik lawan bicara.


 Tersenyum lembut apa adanya Callie lakukan kepada Aka.


"Ya" jawab Callie.


 Aka memiliki jawaban dari gadis yang ia lihat di depannya sekarang.


"Kenapa semua orang disekitarku sangatlah cantik?" tanya Aka pada diri sendiri.


 Callie juga belum berhenti mencari kalimat yang cocok ia katakan kepada teman Dashie ini.


 Dia mempunyai sebuah ide.


 Ekspresi ceria.


"Selain cantik ternyata kau juga jago masak" kata Callie.


 Aka terlihat senang dengan pujian yang diberikan oleh Callie.


 Memberikan scramble egg buatannya untuk Callie.


 Piring hitam berisi scramble egg dan buah buahan stroberi juga blackberry.

__ADS_1


"Coba ini" kata Aka.


 Callie mencoba masakan buatan dari Aka.


 Aka menuangkan susu dari kotak susu berukuran satu liter kedalam satu gelas besar untuk Callie.


 Callie meresapi makanan buatan Aka.


 Diam dan memahami.


"Bagaimana?" tanya Aka.


 Hati dan pikiran menyatu dengan sebuah jawaban dari pertanyaan Aka.


"Kenapa seenak ini?" tanya Callie dalam hati.


 Senyum ceria.


"Lezat!" kata Callie.


 Dashie datang dengan handuk di kepala mengambil tempat duduknya di sebelah kanan Callie.


 Memberikan satu suap scramble egg untuk Dashie.


"Yummy always" kata Dashie.


 Dashie mendapatkan menu berbeda dari Callie.


 Aka memberikan tiga roti panggang dengan tomat cerry serta dua telur setengah matang juga potongan alpukat bertabur madu diatasnya.


 Diam tanpa kata.


"Seleramu sudah berubah?" tanya Aka.


"Terima kasih putri cantik" kata Dashie.


 "Ini juga untukmu" kata Aka.


 Dia memberikan satu gelas susu untuk Dashie.


 Duduk bersama dengan menu breakfast masing masing. Aka dengan menu sarapan yang sama dengan Callie.


 


 Penasaran.


"Darimana kau tahu aku menyukai sarapan ini?" tanya Dashie.


 Mengingat.


"Aku melihatnya sekilas ketika kita satu asrama dulu" kata Aka.


 Memakan buah stroberi.


"Kalian pernah satu asrama?" tanya Callie.


 Wajah polos.


"Aku ingin menjadi sahabatmu" kata Callie.


"Ya. Itu waktu semester pertama" kata Aka.


 Dashie masih lahap dengan sarapan buatan dari Aka.


"Aku tidak bisa diganggu" kata Dashie.


 Aka dengan mudahnya tertawa menanggapi keinginan dari Callie.


 Tertawa kecil menyakitkan.


"Hahahaha"


"Kau belum tahu siapa aku. Jangan menjadi sahabatku" kata Aka.


 Merasa dia tidak melakukan hal yang salah.


 Menatap mata Dashie.


 Dashie tersenyum kepada Callie sambil melanjutkan makan.


 Menjelaskan lagi maksud dari kata katanya.


"Dia saja tidak pernah mau menjadi sahabatku. Ya kan?" tanya Aka pada Dashie.


 Dashie mengangguk sambil menggigit roti panggang.


 Bell rumah berbunyi.


 Semua mendengar.


 Callie berinisiatif.


"Biar aku saja" kata Callie.


 Membuka tirai jendela dekat pintu masuk setelah dia melihat siapa yang datang kemudian Callie membukakan pintu.


 Pintu terbuka.


 Hoshie datang dengan buket bunga mawar merah berukuran cukup besar.


 Sedikit terkejut.


 Kembali dengan sikap cool.


 Ramah.


"Kau. Kau mencari Dashie?" tanya Callie.


 Kedipan manis.


"Apa ada Aka disini?" tanya Hoshie.


 Merasa ada yang aneh.


"Oh. Dia ada disini, kau boleh masuk. Aku akan memanggil Aka" kata Callie.


 Suara karismatik.


"Aku menunggu disini" kata Hoshie.


 Masih merasa ada keanehan disini.


"Baiklah. Tunggu disini" kata Callie.


 Callie melangkah kembali menuju ruang makan dia merasa ada hal yang salah dengan situasi ini bahwa dia merasa akan ada seseorang yang tersakiti lebih awal bahkan sebelum memulai.


 Dia ingin membuat sebuah kebohongan bahwa itu hanya seorang sales suatu produk dari sebuah perusahaan sedang melakukan promosi door to door saja tapi itu kebohongan yang kurang masuk akal.


 Meyakinkan diri.


"Aku tidak bersalah. Aku tidak tahu apa apa rencana mereka" kata Callie.


 Meyakinkan diri lagi.


"Jangan salahkan dirimu" kata Callie.


 Duduk lagi di kursi ruang makan.


 Mencoba menjelaskan dengan hati hati.


"Seseorang sedang menunggu mu" kata Callie.


"Siapa?" tanya Dashie.


 Melihat ke arah Aka.


"Hoshie" jawab Callie.


 Suasana menjadi sedikit lebih canggung.


 Dashie meminum susu dari gelasnya.


 Aka memeriksa ponsel.


 Tidak bohong.


"Dia hanya bertanya aku dimana tapi kenapa dia datang kemari?" tanya Aka.


 Aka pergi kemudian menuju pintu masuk rumah Dashie.


 Sepuluh detik kemudian Dashie akan menyusul Aka menemui Hoshie yang ada di depan rumah.


 Callie mencegah dengan menggenggam tangan kiri sahabatnya itu.


 Mata berkaca kaca sudah terlihat di kedua mata sahabatnya namun ia tidak bisa tidak melihat dengan kedua matanya sendiri.


 Callie melepaskan tangan sahabatnya itu.


 Callie melanjutkan memakan buah stroberi dari atas piring yang masih tersisa separuh breakfast buatan dari Aka.


 Meminum susu dari dalam gelas.


 Duduk dalam lima detik kemudian pergi menyusul sahabatnya pergi melihat apa yang ingin ia buktikan.


 


 Dari tirai yang terbuka dari atas kamar Dashie, dia melihat sendiri apa yang seharusnya tidak ia tahu.


 Buket bunga mawar yang ada di tangan Hoshie sudah berpindah tangan pada Aka.


 Dia melihatnya sendiri keduanya dengan senyum bahagia. Hoshie peluk Aka dengan penuh cinta ia berikan.

__ADS_1


 Melepas pelukan dari Aka kemudian Hoshie  mencium kening gadis yang selama ini mengidolakan dirinya.


 Meyakinkan Aka lagi.


"Benar kau mau menjadi pacarku?" tanya Hoshie.


 Sangat senang.


 Memeluk Hoshie lagi.


"Aku sudah bilang. Ya, aku mau menjadi pacarmu" jawab Aka.


 Callie melihat Aka masuk membawa buket bunga itu ke dalam rumah.


 Hoshie menunggu didepan rumah lalu kemudian melihat ke lantai atas kamar Dashie segera Dashie menutup tirai jendela kamar lalu duduk di tempat tidurnya.


 Callie memiliki sebuah ide.


 Dia pergi turun ke bawah. 


 Aka dengan perasaan gembira mencari keduanya.


 Mencegah Aka bertemu dengan Dashie.


"Dimana Dashie?" tanya Aka.


 Natural acting.


"Dia sedang menerima telepon dari Ved" jawab Callie.


 Dari atas Dashie mendengar apa yang dikatakan oleh Callie kepada Aka sebagai alasan agar mereka tidak bertemu sementara.


 Dashie menghubungi Ved.


 Ved mengangkat panggilan telepon dari Dashie.


 Tak ada suara yang dikatakan oleh Dashie.


 Baru bangun tidur masih berbaring diatas tempat tidur bersebelahan dengan Rio.


"Dashie?" tanya Ved.


"Dashie?" tanya Ved lagi.


 Duduk kemudian bersandar di tempat tidur menyentuh wajahnya sendiri dengan tangan kanan agar jauh lebih sadar.


 Melihat ponsel yang masih terhubung dengan ponsel Dashie.


 Satu menit lebih dua detik panggilan telepon dari Dashie terputus.


 Matahari mulai terang masuk kedalam kamar Jarrel di lantai dua toko.


 Mendapat pesan dari Dashie.


"Aku salah tekan" kata Dashie.


 Membalas pesan.


"Ya" kata Ved.


 Ved pergi ke kamar mandi dengan membawa handuk putih dari sisi luar ruang kamar mandi.


 Sedangkan untuk Dashie disana masih harus dengan cepat menerima dan mengendalikan diri dengan situasi ini.


 Aka meminta izin kepada Callie untuk pergi lebih awal.


 Mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih sudah mengizinkan ku tinggal disini" kata Aka.


 Callie mengangguk.


 Senyum lembut seperti biasa Callie mengantar Aka sampai depan pintu masuk rumah terlihat disana masih menunggu Hoshie untuk Aka yang membawa buket bunga mawar dari Hoshie.


 Hoshie membukakan pintu mobil merah miliknya mempersilahkan Aka masuk duduk di kursi depan sebelah kanan di sebelah kursi mengemudi.


 Menutup mobil lalu berjalan Hoshie pergi menuju pintu masuk kemudi mobil membuka lalu dia masuk kemudian menutup pintu mobil.


 Kesal juga enek melihat kisah seperti ini.


"Akhirnya , mereka pergi" kata Callie.


 Duduk di kursi ukir kayu tanpa busa di depan jendela rumah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


 Dia kemudian ingat harus bekerja segera lalu  bangun dari kursi pergi masuk kedalam rumah  untuk mengambil tas selempang bertali semi kulit miliknya.


"Aku pergi!" kata Callie.


 Berteriak.


"Tunggu!" kata Dashie.


 Callie menunggu Dashie.


 Pergi bersama menuju tempat kerja. 


 "CLOSE" 


 Toko masih ditutup itulah kenyataan yang mereka dapat.


 Menunggu di depan toko.


 Seorang kurir paket datang.


 Berteriak keras.


"Paket!"


 Sekali lagi.


"Paket!"


 Penghuni rumah keluar dari dalam toko.


 Masih tidak memakai baju dengan celana pendek Jarrel baru bangun tidur.


 Kedua gadis di depannya langsung berbalik badan setelah melihat pemandangan di pagi pagi seperti ini.


 Jarrel belum sadar.


"Terima kasih" kata Jarrel.


 Menerima paket.


 Tersadar kemudian.


 Langsung pergi masuk kedalam rumah menutup pintu.


 Membuka sedikit.


"Tunggu sebentar!" kata Jarrel.


 Ved baru selesai mandi dia berjalan menuju jendela kamar untuk membuka tirai.


  


 Melihat ke arah bawah.


 Dia melihat ada dua orang yang ia kenal lalu mengambil kaos hitam bertuliskan "MINIMAL" di depan kaos yang ia pakai.


"Aku lapar mau cari makanan" kata Ved.


 Dia turun ke bawah untuk menemui Dashie dan Callie.


 Membuka pintu toko.


 Menyapa keduanya.


"Pagi!" kata Ved.


 Menarik mereka pergi dari depan toko.


 Kedua tangan mereka ditarik lalu Ved berada ditengah tengah mereka berjalan.


 Menolak.


"Ikut saja. Kita cari sesuatu" kata Ved.


 Dalam perjalanan menuju sebuah kedai, Ved mendapat sebuah pesan dari Aka.


 Terkejut dan tidak percaya.


 Dia terhenti dari langkahnya sesaat kemudian melanjutkan langkahnya pergi ke sebuah kedai lagi.


"Kita bisa pergi jalan jalan. Kau mau kemana?" tanya Ved.


 Ceria.


"Kita pergi kemana?" tanya Dashie.


"Beramai ramai" kata Ved. 


"Ok. Kau juga ikut, aku juga akan ajak Jarrel" kata Ved.


 Dashie seperti mengalami ilusi itu lagi dia berada di suatu tempat dan dia berada dalam kegelisahan datang dengan langkah kaki berpijak di bebatuan bebatuan kecil ada disana.


 Darah darah juga terlihat jatuh berantakan di antara bebatuan jelas bukan sebuah ilusi menyentuh sebagian darah yang ada menempel dengan jemari tangan memeriksa darah segar yang ada di kedua jari.


 Terkejut.


"Ini nyata" kata Dashie.

__ADS_1


 Dua orang memanggil namanya.


 


__ADS_2