Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 7: Ini perasaanku.


__ADS_3

Chapter 7: Ini perasaanku.


 Dashie seperti biasa jika ada waktu ia selalu menyempatkan bermain di toko neneknya Jarrel sesekali juga membantu neneknya membuat lilin lilin baru.


 Siapa yang sedang memegang mongolian glass di tangan mempersiapkan lilin baru yang akan dibuat untuk pesanan dari seseorang yang menghubunginya lewat ponsel.


 Callie dan Dashie seperti sedang mengikuti sebuah kursus membuat lilin.


 Menjadi murid yang patuh.


 Memperhatikan bagaimana Jarrel sedang mencairkan lilin lilin yang masih menjadi bahan setengah jadi pembuatan lilin.


"Bos" kata Dashie.


"Aku bukan Bos mu" jawab Jarrel.


"Ok. Jarrel" kata Dashie.


 Callie serius memperhatikan apa yang sedang dikerjakan bosnya itu.


 Jarrel menjawab panggilan dari Dashie.


"Ada apa. Aku sedang sibuk" kata Jarrel.


"Tidak jadi" kata Dashie.


 Memaksa Dashie untuk menjawab pertanyaan dari Jarrel.


 Mulai goyah.


"Katakan saja. Tiba tiba memberikan kode 


misterius" kata Jarrel.


"Tidak jadi" jawab Dashie.


 Pasrah.


"Terserah kau saja" kata Jarrel.


 Callie terlihat begitu antusias dengan kursus sore ini.


 Itu yang dilihat oleh mereka berdua yang tidak tahu ada sesuatu hal yang masih teringat dengan kejadian yang membuatnya membutuhkan healing.


 Dia memberikan senyum sesekali ketika mereka berdua mengajaknya bercanda.


 Menjawab apa yang ditanyakan sesuai kemampuannya untuk menjawab bertanya apa ya ingin di tanyakan semua nampak seperti biasa biasa saja namun tidak dengan isi hati dan pikiran yang masih terisi hal hal kejadian yang telah membuatnya trauma.


 Dia sebenarnya sangat takut dengan api bukan sejak dulu tapi sejak ia bertemu dengan kekasihnya yang tak waras yang selalu membuatnya hidup dalam neraka di dunia.


 Menatap api yang menyala dari sebuah liilin aromaterapi wangi harum mengisi ruangan.


 Setiap api yang ia lihat dari sumbu api lilin yang menyala dia mengingat mengingat hal itu jemari jemari tangan menggenggam erat gaun putih di sebelah lutut yang ia kenakan saat ini.


 Bagaimana ia dan api itu yang selalu menjadi ancaman di setiap saat hingga di suatu saat hari itu ia ingat bagaimana api membakar rambut panjangnya dengan tangan seseorang yang tanpa berpikir bahwa itu salah ataupun merasa kasihan. Dia tidak memiki rasa itu sama sekali untuk bisa menjadi miliknya.


 Kedua tangan di ikat di sebuah kursi kayu terdengar suara teriakan dari lisan seorang wanita yang lirih meski ia sudah berteriak keras suaranya sudah hampir habis ia keluarkan untuk meminta tolong kepada orang lain.


 Dia ada disana dengan pemantik api yang sudah menyala semakin mendekat.


 Dia sudah tepat didepan Callie.


 Mengambil aura milik Callie lagi sebanyak mungkin dan rencana itu berhasil.


 Marah.


"Kenapa kau tidak mati?" tanya Veer atau Hoshie namanya saat ini.


 Callie bergetar ketakutan.


 Veer justru menjadi sangat senang dengan rasa takut yang ia berikan kepada wanita ini.


 Pemantik itu segera di arahkan kepada rambut Callie terbakar rambut panjangnya dengan sangat cepat dan dia hanya menontonnya dengan sangat menikmati pertunjukkan yang ia ciptakan sendiri tidak peduli dengan apa yang di katakan oleh Callie yang berteriak sekeras mungkin untuk meminta tolong.


"Byurrr!"


 Satu ember air di siram ke kepala Callie.


 Tubuhnya basah tersiram air oleh Veer.


 Separuh dari rambut kepala yang ia miliki sudah  habis terbakar akibat ulah Veer.


 Callie dengan luka lebam di mulut sebelah kiri tidak menangis di hadapan orang yang membuatnya membencinya setengah mati.


 Memanggil seorang wanita.


"Callie" 


 Memanggil seorang pria.


"Callie


 Callie tersadar.


 Dashie dan Jarrel baru saja memanggilnya secara bergantian.


 Memberikan senyum lembut.


"Ya" kata Callie.


  Callie menyimpan kenangan itu lagi untuk dirinya sendiri.


 Tidak untuk Jarrel disini dia secara diam diam memperhatikan kondisi Psikis yang muncul secara sadar seperti saat ini ia lihat pada Callie membuatnya ingin mengetahui lebih dalam apa saja yang pernah ia alami dan bagaimana dia bisa lolos dari berbagai usaha untuk melenyapkan nyawanya.


 Menunggu lilin lilin menjadi cair.


"Kejadian itu membuat orang yang kita cari nuncul secara terang terangan tanpa takut ada kami yang sedang mencari mereka" kata Jarrel.


"Dia nampak biasa sama halnya seperti wanita disebelahnya itu" kata Jarrel lagi.


 Jarrel mengingat aksi kejar kejaran antara Callie dan Hoshie serta Ved.


 Callie dengan dirinya yang sekarang normal normal saja seperti seseorang yang tidak pernah mengalami trauma berat sebelumnya.


 Melanjutkan membuat lilin.


 Kembali kepada Ved yang ada diantara kedua adik kakak yang sedang dengan sibuk dengan pekerjaan mereka. 


 Dia yang selalu datar dan dingin menjadi hangat kepada seseorang yang sudah ia anggap menjadi adiknya sendiri seperti ia anggap Aka sebagai adiknya.


"Andai saja dia bisa kembali pasti semua akan berbeda" kata kakaknya Aka.


"Kau sedang sedih karena kakakku" kata Ved.


 Menjadi sedih.


"Sejak kapan tidak" kata Kakaknya Aka.

__ADS_1


 Memberi saran.


"Hidup harus terus berlanjut. Lupakan kakakku" kata Ved.


 Sebuah saran yang terlalu sedih untuk didengar oleh seorang pria yang terkenal tidak pernah menangis oleh orang lain akan luluh dengan satu orang nama yang masih ia tunggu hingga saat ini.


 Kata kata penuh harap.


"Dia pasti akan kembali" kata Kakaknya Aka.


 


 Berbicara rasional.


"Jika dia kembali mungkin dia tidak akan kembali" kata Ved 


 Mereka berdua yang sedang saling terbuka tapi Aka disana sedari tadi menahan segalanya menjadi lebih menjaga perasaan sad moment ini.


 Aka menghapus air mata tanpa suara ia berlinang air mata. 


 Mengajak bercanda.


"Bagaimana kalau dia sudah menikah dengan orang lain?" tanya Ved.


 Menjawab dengan percaya diri.


"Tidak mungkin. Dia sangat mencintaiku" kata Kakaknya Aka.


 Menyadarkan lagi.


"Mungkin kau jauh lebih tampan dariku tapi di dunia ini banyak orang tampan selain dirimu!" kata Ved.


 Aka tertawa kecil mendengar Ved yang mulai ngegas berbicara.


 Terlalu percaya diri.


"Aku makhluk Tuhan paling tampan di dunia" kata Kakaknya Aka.


 Merasa sangat aneh kenapa ada orang yang terlalu setia kepada seorang wanita meski wanita itu adalah kakaknya sendiri yang belum juga kembali.


 Memberi saran rasional lagi.


"Berkencanlah dengan wanita lain. Jangan menunggu kakakku lagi" kata Ved.


"Berhenti membuatku tidak bisa melupakannya" kata Kakaknya Aka.


 Kemudian, dia pergi tidak mau lagi berdebat lagi dengan Ved.


 Ved melihat pacar kakaknya yang setia menunggu hingga kini pergi melihatnya dari arah belakang.


 Kepada Aka.


 Ved juga tidak tahu dengan Aka yang menangis ketika mengingat kakaknya Ved yang belum kembali.


"Seharusnya aku yang sedih. Kenapa harus kalian?" tanya Ved.


"Dia yang merawatku ketika aku masih kecil" kata Aka.


"Dia juga merawatku tapi aku biasa saja" kata Ved.


 Membentak.


"Pembohong!" kata Aka.


 Terkejut.


 Aka juga pergi dari sisi Ved yang tidak akan berhenti menggodanya selama dia mau.


 Apa yang dikatakan oleh Aka memang benar apa adanya. Orang yang selalu dengan mood ceria dimanapun berada ini akan menangis jika mengingat kakaknya yang belum kembali seperti saat ini.


 Angin pantai datang cukup kencang menerpa air mata pemuda ini yang jongkok menunduk menutup wajahnya sendiri menangis sendirian disana.


"Maafkan aku" kata Ved.


"Sungguh aku minta maaf" kata Ved.


"Maafkan aku tidak bisa menjaganya" kata Ved.


 Siapa wanita yang menjadi kakaknya Ved dan belum juga kembali tanpa sebuah kabar sudah sangat lama.


 Apa yang harus ditunggu untuk  orang orang yang setiap hari berdoa mengharapkan bahwa suatu hari nanti dia akan kembali.


 Semua itu mustahil terjadi semua tidaklah sia sia tentang doa mereka namun Ved tahu bahwa dia benar benar tidak akan kembali karena hari itu di pagi hari yang cerah itu dia dengan kedua mata kepalanya sendiri ketika akan berangkat sekolah melihat wajah terakhirnya sedang sekarat memohon agar bisa diselamatkan oleh adiknya sendiri sedangkan adiknya sendiri tahu bahwa dia akan benar benar pergi.


 Dia memaksa diri agar tidak menangis di hadapan kakaknya sendiri wajah polos itu dipaksa menjadi kejam dengan kenyataan dunia kejam ini. Kenangan lama itu selalu menjadi sebuah penyesalan untuk dirinya selama seumur hidup.


 Dari dalam ruang lantai pertama hotel kakaknya Aka melihat Ved yang sudah diketahui sedang menangis disana.


"Apa aku sudah berkata kasar padamu?" tanya Jarrel.


 Heran.


"Sedari tadi kau sibuk membuat lilin" kata Dashie.


 Callie memberi tisu wajah dari meja kerja mereka untuk Dashie.


 Memeriksa pipinya yang basah terkena air matanya sendiri.


 Mengusap pipinya dengan tisu yang diberikan dari Callie.


"Kenapa aku menangis?" tanya Dashie.


 Perhatian.


"Apa ada yang sakit?" tanya Callie.


"Kita pergi ke dokter. Aku akan mengantarmu" kata Callie.


"Aku tidak tahu kenapa aku belum berhenti menangis" kata Dashie.


 Dashie tiba tiba saja berada dalam dimensi lain yang bukanlah tempatnya saat ini berada. Dia berada di dimensi dimana Ved sedang menangis sendiri menunduk jongkok di depan pantai.


 Di antara kabut kabut ada disana Dashie mencoba mendekat menemui seseorang yang ia anggap sebagai Ved.


 Jemari tangan kanan akan menyentuh pundak kiri pemuda yang sudah menjadi sahabatnya itu.


 Memanggil.


"Ved" panggil Dashie.


 Dia pergi kembali ke dimensinya saat ini.


 Merasakan sebuah dimensi yang ia anggap seperti sebuah mimpi atau ilusi singkat dia masih perlu beradaptasi dengan kondisi yang membuat dirinya terjebak dalam sebuah kebingungan.


"Ved" kata Dashie.


 Sedangkan suara panggilan dari seseorang ia dengar dengan jelas ia dengar baru saja seseorang memanggil namanya.

__ADS_1


 Dia tidak berbalik namun ia menunggu suara itu ada datang bukan hanya sebuah suara.


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Ved.


 Melihat wajah pantai lagi.


"Dia tidak ada disini tapi kenapa suaranya ada disini" kata Ved.


 Mencoba menebak.


"Apa aku jatuh cinta padanya?" tanya kepada diri sendiri.


 Heran.


"Tapi, aku sedang memikirkan kakakku bukan dia" kata Ved.


 Dia tidak mau kehilangan seseorang yang ia sayangi lagi seperti dahulu seperti meninggalnya kakaknya yang menjadi sebuah trauma.


 Bangun pergi dari sana dia pergi berlari sangat kencang menuju motornya yang terparkir di dekat hotel.


 Mengambil motor sport merah memakai helm hitam lalu menyalakan mesin motor lalu pergi cepat berkendara menuju tempat dimana Dashie saat ini ada.


 Di rumah besar dan tenang seseorang juga sudah siap untuk pergi ke suatu tempat yang sama untuk Ved datangi. 


 Dia malah sedang menelepon orang yang ia sudah niatkan untuk membuat janji bertemu sore menuju malam ini.


"Kau ingin aku belikan apa?" tanya Hoshie.


"Kalau bawa lebih banyak lagi. Bagaimana?" tanya Dashie 


 Cepat peka.


"Sorry. Aku lupa, aku akan bawa makanan lebih banyak lagi" kata Hoshie.


"Ok. Tunggu aku" kata Hoshie.


 Hoshie menghubungi Dashie dengan sudah memesan banyak makanan minuman sebelum menanyakan apa yang akan dia minta untuk dibawa ke tempat dimana Dashie ada disana.


 Jiwa malaikatnya bicara.


"Terkadang dia terlalu patuh meski itu memesan makanan" kata Hoshie.


 Dia sudah memesan makanan kesukaan dari cewek gebetan barunya itu.


 Siapakah yang akan datang lebih awal dari keduanya sedangkan rumah Hoshie hanya berjarak waktu sepuluh menit dengan kecepatan sedang dan makanan yang ia pesan sudah siap untuk diambil yang juga berada disebelah persis rumahnya di sebuah cafe yang terlihat sedang ramai ramainya sore ini.


 Hoshie keluar dari rumah membawa kunci mobil lalu pergi berjalan cepat mengeluarkan mobil dari dalam garasi.


 Mobil terparkir di depan cafe.


 Karyawan cafe keluar dari cafe kemudian memberikan pesanan yang sudah dipesan oleh Hoshie.


 Hoshie memberikan uang tip untuk karyawan wanita cafe tersebut.


"Terima kasih Kak Hoshie" kata karyawan wanita itu.


 Dia melambaikan tangan kepadanya sambil melempar senyum cool seperti biasa.


 Hoshie pergi dari sana menuju tempat tujuan setelah mendapatkan makanan yang sudah ia pesan.


 Lima belas menit untuk Ved waktu yang ia butuhkan untuk sampai di tempat Dashie saat ini sedang merangkai bunga bunga harum kering.


 Memetik bunga bunga daisy.


 Jarrel ada di dalam toko duduk di depan jendela bagian dalam.


 Ved datang memarkirkan motor lalu segera melepas helmnya kemudian melempar helmnya kepada Jarrel.


 Menangkap helm dari Ved.


"Ved. Ada apa?" tanya Jarrel.


  Mendengar Jarrel menyapa seseorang lalu dia berbalik menghadap ke arah pintu masuk.


 Hoshie juga datang di belakang Ved kemudian.


 Ved langsung memeluk wanita yang sedang memakai gaun merah muda dengan berbahan sifon berbunga sebagai motifnya.


 Jarrel melihat sebuah masalah akan muncul segera.


 Callie menatap Jarrel tentang situasi ini.


 Dashie melihat jelas ada Hoshie datang.


 Dashie akan melepas pelukan sahabatnya itu dari dirinya segera.


 Ved sedang memohon.


"Jangan pergi" kata Ved.


 Waktu yang sangat tepat untuk Ved.


"Tapi … " kata Dashie.


"Jangan pergi. Aku hanya memilikimu" kata Ved.


 Dashie masih belum bisa melepas pelukan dari sahabatnya, Ved.


 Dia terdengar sedang menahan air mata berbicara kepada wanita yang sedang ia peluk.


 Callie dan Jarrel sudah was was dengan situasi ini dengan kelanjutan kisah cinta segitiga ini.


"Aku tidak bisa bernafas" kata Dashie.


 Ved melepas pelukannya segera.


 Cemas dan akhirnya meminta maaf.


"Sorry. Kau menjadi sulit bernafas" kata Ved.


 Dashie melihat ke arah belakang Ved.


"Aku sudah baik baik saja tapi … " kata Dashie.


 Ved kemudian menggenggam kedua tangan Dashie dengan lembut berbalik ikut melihat apa yang dilihat oleh Dashie.


 Tidak terkejut, Ved menganggap bahwa ini adalah sebuah momen keberuntungan baginya yang tidak bisa tergantikan.


 Menebak.


"Kalian akan berkelahi?" tanya Jarrel.


 Sikap cool dan ramah Hoshie menanggapi apa yang baru saja ia lihat membuatnya menjadi lebih percaya diri.


 


 Memandang Dashie dengan tatapan manis.

__ADS_1


"Apa kau akan mengusirku pergi?" tanya Hoshie.


__ADS_2