
Chapter 13: Mengapa aku tidak jadi pacarnya?.
Keempat orang yang ada di dalam sebuah toko lilin aromaterapi menjadi diam dengan apa yang mereka lihat seseorang datang dengan luka luka yang ia miliki.
Sendok yang ada di tangan Dashie terjatuh diatas piring yang berisi carrot cake dari Jarrel.
Menimbulkan suara mengagetkan bagi semua yang terdiam dalam sebelas detik.
Membuat sebuah saran.
"Apa kita perlu memanggil seseorang?" tanya Jarrel.
Yang dia maksud adalah Ren.
Dia belum tahu bahwa Aka sudah jadian dengan Hoshie.
Tak ada air mata yang masih terlihat di kedua mata gadis yang datang baru saja dari dalam taksi.
Menghampiri.
Khawatir.
"Why?" tanya Ved.
Sedih dua kali lipat untuk Dashie melihat Ved juga perhatian kepada Aka.
Namun, segera ia sadar ini bukanlah saatnya untuk egois.
Dia ikut menghampiri Aka menyusul yang lain ikut menanyakan tentang apa yang terjadi.
Belum memberi penjelasan.
Dia kemudian mengambil tempat duduk untuk dirinya sendiri.
Kembali mereka berempat duduk di tempat duduknya lalu Callie pergi ke dapur untuk membuat teh buah hangat untuk Aka.
Ved mencoba untuk mengambil dokumen hasil medis yang ada di pelukan sahabatnya itu.
Pemiliknya tidak mengizinkan.
Mencoba iseng.
Dashie menyentuh perban yang ada di bagian kepala temannya itu.
"Kau sudah tahu ini sakit" kata Aka.
Tersenyum khawatir.
"Sorry" kata Dashie.
Perhatian.
"Dimana mobilmu tadi pakai taksi?" tanya Ved.
Callie datang dengan secangkir teh hangat buatannya.
Senyum hangat kepada Callie.
"Terima kasih. Callie" kata Aka.
Semua melihat ke arah Callie.
Callie merasa dia tidak melakukan kesalahan yang membuat gadis di depannya menjadi baik kepadanya.
Berbicara.
"Mungkin aku seperti ini tapi aku akan berusaha menjadi masa depanmu" kata Callie.
Melihat ke sekeliling.
"Apa aku berkata salah?" tanya Callie.
Aka mulai mau diajak ngobrol oleh mereka yang ada disana.
"Aku ingin menjadi sahabatmu" kata Aka.
Ved langsung menarik Aka menghadapkan wajahnya tepat di depannya.
"Kau tidak sedang bosan kan?" tanya Ved.
Melepas kedua tangan Ved.
Dia tidak ingin menyakiti hati seseorang karena kebaikan orang lain.
Menganalisa dan ingin bertanya tapi ia tidak ingin pertanyaannya akan menyebabkan orang lain disalahkan akibat salah paham.
"Malam ini kau bisa menginap dirumahku" kata Dashie.
Menimbang ulang tawaran dari Dashie.
Meyakinkan.
"Kau menginap di rumahku saja. Di rumahmu tidak ada siapapun" kata Dashie.
Memberikan satu potong carrot cake dalam satu piring kecil putih untuk Aka. Jarrel.
Setelah mengatakan ingin menjadi sahabat Callie, Aka langsung pergi begitu saja dari hadapan mereka.
Ved sudah menduga kalau Aka akan membuat kejutan baru seperti saat ini kepada mereka semua yang di dekatnya saat ini.
Ved mengambil teh milik Aka yang tidak diminum.
Membela.
"Ini teh kesukaan Ved" kata Dashie.
Meledek.
"Kau bahkan tahu teh kesukaannya" kata Callie.
Menghela nafas.
"Dia hampir selalu minum itu setiap hari" kata Dashie.
Para pengunjung toko berdatangan Callie menghampiri mereka lalu Jarrel datang membantu.
Ved juga ingin menanyakan beberapa hal kepada Dashie dan dia mengajak Dashie untuk keluar sebentar pergi jalan jalan di sekitar toko toko yang ada di pinggir jalan.
"Apa kau ingin bercerita sesuatu?" tanya Ved.
"Ved" panggil Dashie.
"Hmmm?" tanya Ved.
"Aku tidak ingin menjadi sahabat yang jahat untukmu" jawab Dashie.
Mengambil hati.
"Benar. Tidak ada yang ingin kau katakan?" tanya Ved.
Ceria.
"Ada" kata Ved.
Emosi sedikit.
"Aku bilang tidak ada" kata Dashie.
Sibuk lagi dengan menghitung penghasilan bulan ini dari tempat usaha bengkelnya.
Kembali menatap Dashie.
"Bisa bicara diluar?" tanya Ved.
"Kemana?" tanya Dashie.
Ved berpikir bahwa tidak mungkin mengajaknya untuk jalan jauh dari toko ini sehingga ia membuat ajakan pergi kesuatu tempat yang tidak jauh untuk mereka bisa saling mengobrol.
"Tidak jadi" kata Ved.
Ragu untuk mengatakan bahwa dia peduli dengan apa yang terjadi dengan Dashie juga Hoshie.
Dia sedih jika harus membahas ini dengan gadis yang sedang patah hati.
Dia juga tidak ingin langsung mengatakan isi hatinya dengan terburu buru.
Berpikir ulang.
"Dia akan menganggapku sedang memanfaatkan situasi" kata Ved.
"Atau mungkin aku bukan tipe idealnya" kata Ved.
Pikirannya menjadi complicated.
Mencuri kesempatan untuk menatap Dashie.
Berbeda dengan isi hati dan pikiran Dashie yang masih berusaha untuk tegar dengan apa yang ia alami sejak pagi hingga kini penuh sesak dengan rasa sedih dengan logika yang menekan memaksa agar berpikir jernih.
Namun, dibalik sikapnya yang tegar dan seperti tidak terjadi apa apa tersimpan rasa sedih bukan hanya sedih tapi juga malu.
"Bagaimana orang lain menilaiku?" tanya Dashie.
"Mereka pasti akan meremehkanku" kata Dashie
"Meski kita berdua tidak pernah jadian tapi apakah ini tidak keterlaluan?" tanya Dashie.
Jarrel duduk di kursi semula.
Datang satu pengunjung remaja perempuan.
Callie melihat ke arah Dashie.
Jarrel memperhatikan lebih jauh lagi menatap gadis yang selalu diajak bertengkar.
__ADS_1
Gadis itu tetap tidak berkutik ketika seorang pangeran tampan dengan perhatian ada disana terus belum berhenti menatapnya.
Kata kata menekan nada suaranya.
"Sudah dua menit kau menatap wajahnya!" kata Ved.
Menjawab santai.
"Aku tahu" kata Jarrel.
Berhenti menatap wajah Dashie.
Jarrel ingin rasanya ikut campur mencari alasan kenapa Dashie lebih sering melamun setelah pulang kerja.
Akhirnya, dia sibuk lagi dengan pekerjaan yang akan selesai sedikit lagi dari layar monitor notebook.
Dashie dengan segala isi pikiran yang membuat ia menjadi lumayan stres.
Melihat Jarrel di sisi kanan dan di sisi kiri ada Ved.
"Bagaimana dengan tanggapan dari kedua orang disebelahku?" tanya Dashie.
Menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Ini benar benar memalukan" kata Dashie.
Dashie tanpa bicara apapun lalu pergi dari mereka yang sibuk dengan pekerjaan.
Menghela nafas semua setelah Dashie pergi.
Lirikan tajam.
Sama sama tidak peka.
"Kenapa?" tanya Ved.
Menyerah.
"Terserah kau saja" kata Jarrel.
Pengunjung toko bertambah ramai.
Dua menit kemudian.
Ved keluar sebentar setelah pekerjaannya selesai.
Berteriak tidak cukup keras.
"Kemana?" tanya Jarrel.
"Sebentar saja" kata Ved.
Menghubungi nomor ponsel Dashie.
Tidak mengangkat panggilan dari Ved.
Membaca mantra.
"Jajuja jajiju"
Semua terlihat memastikan kemana Dashie pergi.
Menemukan.
"Dia ke arah rumah" kata Ved.
Ved mengejar ke arah pulang Dashie pergi.
Dia berlari dan untungnya masih sempat mengajak bicara Dashie.
Di waktu yang sama Dashie berbalik dan masuk kedalam dimensi ilusi aneh lagi.
Semua dengan diri mereka masing masing Dashie melihat dari kejauhan dari arah berbeda akan memotong arah keduanya berhadapan. Senjata itu tajam runcing panjang seperti besi bukan belati datang dari arah kanan Dashie berhadapan dengan Ved.
Ved masih berlari.
Lima puluh meter.
Jarak antara mereka dengan senjata itu.
Senjata itu datang menyusup halus diantara udara seperti sudah sangat diperhitungkan akan menembus raga seseorang.
Memprediksi.
Kemungkinan yang ia lihat.
"Jika dia terus berlari ke arahku maka dia akan segera mati" kata Dashie.
Panik setengah mati.
"Tidak" kata Dashie.
"Tidak. Itu tidak boleh terjadi" kata Dashie.
Mencari sebuah solusi agar itu tidak terjadi kepada Ved.
Berpikir.
Berteriak.
"Stop!" kata Dashie.
Ved belum mau berhenti berjalan ke arah Dashie.
Semakin panik.
Dia tetap berjalan terus mengarah ke arah Dashie.
Mendapat sebuah ide gila.
Berteriak.
"Diam. Maka aku akan menciummu!" kata Dashie.
Ved sedikit terkejut.
Berhenti sejenak.
"Kau sakit?" tanya Ved.
Berjalan lagi mengarah ke arah Dashie.
Sedangkan senjata itu semakin dekat mengarah pada arah yang akan dilewati oleh Ved.
Semakin panik.
Ide lebih ekstrim lagi muncul.
Berteriak.
"Stop. Maka aku mau jadi pacarmu!" kata Dashie.
Kaget.
Ved berhenti menghentikan langkah.
Pemuda ini melihat sendiri kilatan putih senjata tajam datang lewat didepannya.
Senjata itu benar benar melewati Ved di depannya dengan sangat cepat dalam satu langkah lagi jika dia tidak berhenti maka sudah nyawanya menghilang senjata itu menembus jantungnya tepat dari arah kiri ia berdiri saat ini.
Ved langsung sadar bahwa salah satu dari bangsanya sedang mengincar seseorang.
"Bisa saja dia mengincarku atau mungkin orang yang ada disana" kata Ved.
Senjata itu segera dihancurkan oleh Ved.
Dia menatap senjata itu.
Senjata itu langsung hancur di udara tepat satu langkah baru saja melewati Ved.
Dashie keluar dari ilusi ini.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya Dashie.
Ved ada di depannya dengan jarak yang sama ketika ia ada di dalam ilusi itu.
Saling menatap satu sama lain.
Ved berpikir bahwa Dashie melihat kejadian tadi.
Memastikan.
"Kau tadi melihat itu?" tanya Ved.
Ragu dengan dirinya sendiri.
"Melihat apa?" tanya Dashie balik.
Membaca situasi kebingungan ini.
"Tidak melihat apapun?" tanya Ved.
Masih dalam kebingungan.
"Kau bicara apa sih?" tanya Dashie.
Setelah memastikan bahwa Dashie tidak melihat senjata yang baru saja melewati Ved yang hampir saja mengambil nyawanya, Ved melanjutkan berjalan mendekat ke arah gadis di depannya itu.
Berjalan beriringan berdua.
Ved ada di sisi kiri sedangkan untuk Dashie ada di sisi kanan.
Penasaran.
"Apa kau serius mengatakan hal itu?" tanya Ved.
Dashie tidak paham apa maksud dari pertanyaan sahabatnya itu kemudian dia menatap Ved.
__ADS_1
Dua detik.
Kemudian, berjalan beriringan lagi.
Dia juga tidak tahu harus mengatakan apa dan bercerita apa kepada Ved tentang apa yang baru saja ia lihat yang akan melukai raga Ved.
Mungkin jika ia menganggap itu nyata tapi belum tentu nyata untuk Ved.
Apa yang ia lihat dan rasakan membuatnya menjadi bingung serta takut bercerita kepada orang lain terlebih jika ia bercerita kepada orang yang tidak tepat hal ini akan berakibat buruk untuk dirinya sendiri atau juga kepada orang lain.
Mengejutkan.
"Kau tidak mau menjadi pacarku?" tanya Ved.
"Sejak kapan kau sakit?" tanya Dashie.
Santai.
"Kau bilang mau menjadi pacarku tadi" kata Ved.
"Kapan aku bilang begitu?" tanya Dashie.
Mengharap.
"Tadi" jawab Ved.
Merasa memaksa dan akhirnya mengalah.
"Ya. Aku sedang sakit. Sorry" kata Ved.
Suasana jauh lebih santai lagi.
Berjalan lagi beriringan menuju arah rumah Dashie.
Menegaskan dan belum menyerah.
"Tadi kau juga mau menciumku" kata Ved.
Masih dalam kondisi bingung dengan ilusi tadi dengan pertanyaan yang dikatakan oleh Ved saat ini.
Berhenti.
Melihat lagi satu sama lain.
"Apa aku sakit?" tanya Dashie.
Berkata apa adanya.
"Aku juga bertanya seperti itu padamu tadi" kata Ved.
Kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Untuk Ved juga mengajukkan semua pertanyaan itu kepada Dashie bukan sekedar pertanyaan pertanyaan iseng melainkan dia juga merasa itu perlu sesuai keadaan sekarang.
Sudah sampai di depan rumah Dashie.
Masih penasaran dan juga tentunya berharap.
Tiba tiba menjadi manja.
"Sungguh kau lupa mengatakan itu semua?" tanya Ved.
"Apa?" tanya Dashie.
"Ya sudah" kata Ved.
Dashie jongkok sebentar.
Ved menunduk ke bawah melihat Dashie.
"Ada apa?" tanya Ved.
Mengambil sesuatu dari kaki Ved.
"Ada jangkrik di kakimu" jawab Dashie.
Ved langsung lari ketakutan pergi menjauh dari Dashie terus masuk kedalam gang melewati rumah Dashie.
Dashie menunggu satu menit dan orang yang ia tunggu tidak kembali.
Membuka kunci rumah dan pintu rumah terbuka.
Datang seseorang.
Memanggil.
"Dashie" panggil Hoshie.
Berbalik.
"Hoshie" kata Dashie.
Menjadi canggung.
Memberikan pertanyaan.
"Kau sendirian kemari?" tanya Dashie.
"Ya" kata Hoshie.
Melihat ke sekitar tidak ada siapapun selain Hoshie.
Merasa ada yang aneh dengan situasi ini.
Saling menatap.
Hoshie mendekat kepada Dashie.
Gadis ini mundur satu langkah kebelakang.
Dari arah masuk gang muncul seseorang yang Dashie tunggu.
Dia berjalan tanpa suara dan terus memperhatikan gestur tubuh keduanya dari arah ia berjalan.
Dia melihat seseorang sedang mendekat ke arah sahabatnya itu dan ide konyolnya muncul lagi.
Berjalan makin dekat.
Merangkul pundak Hoshie sebelah kanan.
"Hello. Brother!" kata Ved.
Ved memberikan kode dengan jari tangan sebelah kiri yang merangkul pundak Hoshie menyuruh Dashie untuk cepat masuk kedalam rumah.
Hoshie ditarik menjauh dari hadapan Dashie dibawa pergi oleh Ved.
Dashie pergi masuk kedalam rumah sambil menatap keduanya.
Hoshie juga melihat Dashie.
Dashie masuk kedalam rumah dan langsung menutup pintu lalu menguncinya dari dalam rumah.
Cemas.
"Mereka tidak akan berkelahi kan?" tanya Dashie.
"Aku percaya Ved bisa mengatasi ini" kata Dashie.
Kemudian, beberapa pesan ia kirimkan kepada sahabatnya yang ada di tempat kerja.
Di tempat kerja Callie.
Dia terlihat sedang berbicara dengan para pengunjung toko.
Seorang wanita duduk didepan meja yang sama dengan Jarrel yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Rasa rindu.
"Kenapa baru datang?" tanya Jarrel.
Meledek.
"Dia sangat cantik. Kau akan menyuruh ibu melamarnya?" tanya ibunya Jarrel.
Menjawab santai.
"Jangan mengalihkan pertanyaanku" kata Jarrel.
"Iya. Iya, ibu salah" kata ibunya Jarrel.
Jarrel diam lagi.
Menghela nafas.
"Baiklah. Aku menyerah, ibu akan tinggal disini" kata Ibunya Jarrel.
Ved masih merangkul temannya yang terlihat biasa biasa saja ketika seseorang mencegahnya untuk mendekati seorang gadis.
Bagi Ved hal ini tidaklah wajar untuk seorang Hoshie mungkin juga sebagian orang lain jika sedang mendekati seseorang dan dicegah oleh orang lain seperti ini.
Dia menunggu bagaimana respon temannya itu.
"Kau mabuk?" tanya Ved.
"Sedikit" jawab Hoshie.
Bau minuman sangat kuat tercium dari tubuh orang yang dibantunya berjalan ini.
Meski mabuk dari dalam pikirannya hanya satu yaitu bagaimana ia cepat mendapatkan aura milik Dashie.
Mengoceh tidak jelas.
"Mengapa aku tidak jadi pacarnya?" tanya Hoshie.
__ADS_1