Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 86: Curiga.


__ADS_3

...Chapter 86: Curiga....


..."Dashie!"...


..."Dashie!" ...


... Obrolan mereka terputus masalah koneksi....


... Nora melihat adik pacarnya yang tidak bisa mengobrol lewat video call lebih dari lima menit membuat Nora gembira....


... Hatinya yang belum menerima kebaikan dari Hoshie....


..."Biarkan gadis ini sedikit menjauh dari Hoshie" kata Nora....


... Bergerak tangan mengeluarkan mata dalam menggenggam jemarinya sendiri....


... Dashie sudah mulai mengantuk dan tidur....


... Koneksi kembali berjalan dan Hoshie menghubungi nomor ponsel Dashie lagi....


... ...


... Ponsel kembali bergetar menerima panggilan telepon dari Hoshie dibiarkan begitu saja oleh Nora tanpa harus mewakili Dashie untuk berbicara kepada Hoshie....


..."Dia selalu mengganggu" kata Nora....


... Hoshie kembali menghubungi nomor ponsel Dashie dan tetap saja tidak dipedulikan oleh orang yang sedang terjaga ini....


... Nora lanjut membaca buku lagi....


... Sedangkan melihat sekeliling ruangan dengan suhu hangat dalam suasana sepi....


... Menengok ke arah pintu....


... Ketukan pintu dari jemari seseorang membawa tiang dengan selang infus menggantung didorong ke arah pintu kamar Hoshie....


..."Kau masih bisa diganggu?" tanya Nawa....


..."Ku kira kau sedang istirahat" kata Hoshie....


... Mendekat ke arah Hoshie dengan tiang infus....


... Di sebelah kanan Hoshie persis lalu menarik kursi besi yang disediakan untuk pengunjung yang berada di dekat meja ranjang tempat Hoshie berbaring....


... Memperhatikan dengan detail setiap luka yang didapat oleh Hoshie....


..."Lukamu lumayan juga" kata Nawa....


... Tanpa kata dalam lima detik....


... Memulai percakapan lagi....


..."Bagaimana rasanya ketika dia tidak datang?" tanya Nawa....


..."Ya, begini" kata Hoshie....


..."Keputusanmu benar tidak menyuruhnya datang sejak awal" kata Nawa....


... Hoshie bahkan lupa jika dia pernah bersikap seperti itu kepada Dashie....


... Melihat sedikit sinis wajah Hoshie melihat Nawa sengaja....


..."Sorry, kakak" kata Nawa....


... Sikap seperti seorang kakak muncul dari dalam diri Hoshie....


..."Ada lagi yang ingin dikatakan?" tanya Hoshie....


... Karakter Nawa yang lain muncul....


..."Kau terlihat aneh dengan sikapmu ini" kata Nawa....


..."Untung saja aku sedang sakit lalu apa yang ingin kau katakan sebenarnya?" tanya Hoshie....


..."Kau sudah meninggalkan jejak luka di bagian penyerang mu kan?" tanya Nawa....


... Sedikit curiga kepada Nawa....


... Berbicara lirih....


..."Dia cerdas atau kenapa dia tahu tentang jejak itu?" tanya Hoshie....


... Tapi tetap terdengar oleh Nawa ketika berpendapat seperti itu tentang dirinya....


... Nawa yang sudah sedikit paham tentang seorang Hoshie....


..."Aku dengar apa yang kau bicarakan" kata Nawa....


..."Kau juga tahu tentang hal ini" kata Nawa....


... Memberi jeda waktu untuk melanjutkan kalimat yang akan dikatakan kepada Hoshie....


... Tiga detik....


..."Sudah sering didengar jika luka apapun yang kita dapat pasti akan sembuh menghilang dengan sendirinya" kata Nawa....


... Mengajak remaja di depannya agar mengobrol lebih santai....


..."Kau terlihat seperti kakakku bukan adikku" kata Hoshie....


... Jauh lebih galak dari Hoshie yang sehari-hari yang dia tahu....


..."Bukan saatnya bercanda!" kata Nawa....


... Lumayan mengagetkan jantung Hoshie....


..."Bagaimana dengan racun di tubuhmu?" tanya Nawa....


..."Racun?" tanya Hoshie....


... Perlahan Nawa beranjak pergi dari ruangan rawat Hoshie mendorong tiang infus....


... Semakin ke arah pintu masuk sekaligus pintu keluar ruangan tersebut....


... Niat untuk berteriak tapi nada tinggi yang dikeluarkan tidak bisa dicapai....


..."Darimana kau tahu ada racun di tubuhku?!" tanya Hoshie....


... Nawa tidak peduli dengan teriakan Hoshie....


... Menggerutu....


..."Dia pura-pura tidak tahu" kata Nawa....


... Menutup pintu kamar rawat Hoshie....


... Teriakkan yang bukan teriakan memanggil Nawa lagi....


..."Hey, tunggu. Kau jangan pergi!" kata Hoshie....


... Menurunkan nada suara sendiri lebih pelan terdengar....

__ADS_1


..."Suasana hatinya sedang tidak baik" kata Hoshie....


... Di dalam ruangan tersebut benar-benar tinggal hanya ada Hoshie seorang....


... Di luar sudah bersiap sejak awal Hoshie akan dipindahkan di ruangan tersebut dua orang polisi yang bertugas menjaga keamanan pasien sesuai dengan keputusan pihak rumah sakit yang bekerja sama dengan pihak kepolisian....


... Nawa sudah kembali ke ruang rawatnya sendiri....


... Tak berapa lama datang Ayahnya Jarrel selaku pimpinan rumah sakit tempat Hoshie mendapatkan perawatan bersama beberapa dokter jaga serta para perawat juga putranya, Jarrel....


... Jarrel yang ada di sebelah persis Ayahnya dibawa paksa oleh Ayahnya terlihat tanpa pura-pura enggan ingin menyapa teman kuliahnya yang sedang diajak bicara oleh mereka....


... Putranya ingin cepat pergi dari ruangan rawat Hoshie....


..."Kami harap Anda bisa istirahat dengan nyaman. Bila ada sesuatu yang dikeluhkan lagi anda bisa memanggil staff kami untuk memeriksa kondisi Anda segera" kata Ayahnya Jarrel....


..."Terimakasih atas … " kata Hoshie....


... Setelah menyapa Hoshie yang baru saja sadar dengan luka-luka yang cukup parah dengan cepat lalu mereka memutuskan untuk pergi mengingat waktu yang semakin malam dengan tugas pekerjaan yang terus harus dikerjakan untuk memeriksa pasien lainnya akan bisa mengganggu proses penyembuhan pasien sehingga mereka memutuskan untuk pergi setelah pertemuan ini....


... Jarrel juga ikut pergi bersama para staf rumah sakit yang tadi menyapa kepada Hoshie....


... Keluar dari ruangan rawat Hoshie....


... Berbisik kepada Ayahnya Jarrel....


..."Ku rasa dia terlalu diistimewakan" kata Jarrel....


..."Tentu, dia bisa saja menuntut secara hukum setelah penyerangan itu kepada pihak rumah sakit tentang masalah keamanan disini" kata Ayahnya Jarrel....


..."Ya. Aku tahu, tapi … " kata Jarrel....


..."Meski tak ada bukti tapi kita harus tetap memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada semua pasien disini" kata Ayahnya Jarrel....


..."Sudah jangan tapi tapi lagi. Ikut Ayah!" kata Ayahnya Jarrel....


... Para staf beserta dokter dokter yang tadi ikut melihat kondisi kesehatan Hoshie mengantar pimpinan sampai didepan rumah sakit dengan kendaraan roda empat hitam pribadi beserta drivernya sudah menunggu....


... Diver pribadi mereka membukakan pintu mobil belakang sebelah kanan untuk Ayahnya Jarrel sedangkan untuk putranya masuk ke mobil melalui pintu mobil belakang sebelah kiri....


... Keduanya sudah berada didalam mobil dengan pintu sudah tertutup rapat lalu driver pribadi mereka masuk kedalam kursi kemudi....


... Mereka pergi meninggalkan rumah sakit....


... Di tempat berbeda....


... Di rumah sakit berbeda tempat Rumy dan Ved sedang dirawat dengan kondisi yang belum sadar dengan selang infus....


... Di pinggir jalan dekat pos pengamanan rumah sakit....


... Jarrel turun dari mobil ayahnya yang juga ada disana akan segera pulang mengingat hari sudah menuju ke arah tengah malam....


..."Ambil ini" kata Ayahnya Jarrel....


..."Terimakasih kasih Ayah" kata Jarrel....


... Menerima sebuah jaket tebal....


... Pintu mobil akan ditutup oleh Jarrel akan tetapi dicegah sebentar oleh Ayahnya....


..."Rel. Jangan begadang terus" kata Ayahnya....


... Dengan sikap hormat tangannya di kepala....


..."Siap!" Jawab Jarrel....


... Pintu mobil ditutup oleh Jarrel lalu mobil tidak langsung pergi meninggalkan Jarrel sebelum masuk kedalam rumah sakit....


... Jarrel terlihat memasuki halaman rumah sakit....


... Sudah hampir tengah malam sudah pasti pihak rumah sakit menolak kunjungan dari keluarga atau kerabat pasien sesuai dengan aturan yang berlaku umum untuk sebuah rumah sakit....


... Dengan aturan yang sudah diketahui ini, Jarrel mencari cara agar bisa masuk menemui sahabatnya yang sedang mendapatkan penanganan medis....


... Menonaktifkan CCTV dari berbagai sudut halaman rumah sakit yang berada disekitar Jarrel berada dalam limit detik....


... Jarrel menghilang....


... Teknologi keamanan bernama CCTV tadi kembali berfungsi seperti sebelumnya berjalan dengan baik....


... Jarrel berada dibalik dinding bersembunyi dari orang-orang yang ada disekitar kamar bangsal dilihatnya ada seseorang yang ia kenal dan ia adalah Xie. Kakak Dashie yang duduk terlihat sedang tidur bersebelahan dengan Ren yang sedang melihat layar ponsel di tangan....


... Jarrel dalam mode terlihat muncul dari balik dinding dalam jeda berbeda Ren melihat ke arah sahabatnya yang baru datang setelah bertarung dengan pekerjaan....


... Menyapa tanpa suara melihat situasi sekitar lumayan banyak selain Xie yang tertidur di depan ruang rawat pasien lain....


... Jarrel tiba di depan ruang rawat Ved....


... Dia tidak mungkin masuk kedalam ruangan terlebih dahulu dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk menjenguk seorang pasien....


... Pergi ke arah jendela pintu melihat kedalam untuk melihat perkembangan kondisi Ved....


..."Dia berakhir disini" kata Jarrel....


... Jarrel juga melihat seorang gadis remaja sedang mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dialami oleh Ved....


... Melihat mempertajam indera penglihatan untuk melihat gadis remaja yang ia maksud barusan....


... Berdiskusi dengan diri sendiri....


..."Sepertinya aku pernah melihat gadis itu. Tapi dimana?" tanya Jarrel....


..."Dia kan teman dari remaja laki-laki yang bernama Nawa itu" kata Jarrel....


... Tentang Ved....


..."Aku ingat tugas ini juga tugasnya" kata Jarrel....


..."Mengapa tidak terpikirkan olehku!" tanya Jarrel....


... Mengingat nasihat apa yang dikatakan oleh Ayahnya tadi di depan rumah sakit ...


..."Jangan begadang terus" kata Jarrel mengulang nasihat ini....


..."Aku butuh istirahat" kata Jarrel....


... Berbalik mencari tempat duduk yang masih tersisa untuknya digunakan sebagai tempat bersandar istirahat dan tempat itu hanya ada disebelah kiri Xie yang sudah terlihat tertidur pulas dengan kedua tangan menyilang di atas perut tertutup jaket bomber hijau army....


... Mengambil cepat tempat duduk yang tersisa untuk Jarrel sendiri....


... Duduk Jarrel disana lalu memakai jaket yang diberikan Ayahnya sebagai selimut yang menyelimuti pemuda yang berpakaian formal setelan jas hitam ini....


... Ren melirik ke arah kiri melihat Jarrel yang langsung memejamkan mata agar cepat bisa tidur....


... Ponselnya dimasukkan kedalam tas selempang lalu Ren ikut duduk tertidur di baris kursi yang sama bersama kedua orang di sisi kirinya itu....


... Dia memperlihatkan sisi mengerikan dibalik senyumnya itu sebagai pengiring tidur....


... Xie selalu mengigau ketika tidur membuat keributan di waktu beberapa menit baru saja Jarrel tertidur....


..."Ya Tuhan" kata Jarrel....

__ADS_1


... Tengok kiri....


..."Sorry" kata Xie....


... Tengok kanan....


... Ingin marah tapi tidak mungkin apalagi orang disebelahnya usianya lebih dewasa darinya juga kondisi tubuhnya yang ingin segera istirahat tidak sempat untuk hanya sekedar marah basa-basi....


... Tidak menghiraukan Xie dan kembali melanjutkan untuk tidur....


... Nora yang sudah berapa puluh kali mengirim pesan tidak sama sekali dibalas sejak sore menumpuk di dalam ponsel ditambah lagi setiap ponselnya bergetar karena panggilan dari pacarnya tidak diangkat dibiarkan saja....


... Ponsel dipenuhi dengan jejak panggilan dan pesan belum terbaca dari pacarnya yang pasti sedang berusaha terbiasa lagi dengan kekambuhan Xie....


... Senyum-senyum sendiri saat baru membaca pesan-pesan dari Nora satu persatu....


..."Sudah malam. Tidurlah" kata Jarrel....


..."Eh. Kau belum tidur" kata Xie....


... Datang sebagai ujian untuk Jarrel....


..."Apa aku telah mengganggumu?" tanya Xie....


..."Katakan saja kau juga rindu padanya!" kata Jarrel....


... Entah siapa yang memberitahukan Jarrel bahwa saat ini Xie sedang merindukan Nora....


... Jarrel hanya ingin menyampaikan isi hati Nora....


... Hanya ingin bertanya saja tanpa maksud lain....


..."Apa aku terlihat seperti itu?" tanya Xie....


... Dengan sisa tenaga didalam diri menjawab pertanyaan dari kakak sahabatnya itu....


..."Hentikan permainan itu. Katakan saja kau rindu jika kau rindu" kata Jarrel....


... Menebak....


..."Kau jauh lebih berpengalaman dari ku" kata Xie....


..."Tidak juga. Aku hanya pernah melihat pacarmu sangat kesal karena kau sulit dihubungi" kata Jarrel....


... Cukup untuknya berkata dan dia memutuskan untuk tertidur dengan lelap tanpa kata lagi yang ingin diucapkan sedangkan untuk Xie setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Jarrel tidak langsung membalas atau menghubungi balik pacarnya. Dia tetap seperti ini dengan karakter miliknya....


... Untuk orang yang mengambil identitas milik orang lain sebagai pemilik aslinya yaitu Ren sudah lelah mendengar obrolan mereka berdua yang ditunggu berakhir akhirnya berakhir juga....


... Entah mengapa ia tidak bisa mengeluarkan senjata dari telapak tangannya saat ini berpikir ulang setelah pertarungan bersama dengan Hoshie....


..."Dia sudah mengunci kekuatan ku" kata Ren....


..."Hoshie brengsek!" kata Ren....


..."Ini pasti ulahnya" kata Ren....


... Hoshie sedang bersenang hati dengan tindakan fatal hasil dari penyerangan lawannya beberapa jam yang lalu....


... Dia dengan sekuat tenaga melihat lagi rencana bisnis yang baru dibangun yang terpaksa ditunda sementara waktu. Dari desain letak dimana semua kebutuhan dalam bisnis bilyard....


..."Bilyard bilyard ku" kata Hoshie....


..."Mereka pasti sudah merindukan ku" kata Hoshie....


... Mendapat panggilan dari luar negeri....


... Ibunya menelepon....


..."Iya. Mah" kata Hoshie....


..."Kau kemanakan uang mu?" tanya Ibunya....


... Tidak mungkin bercerita bahwa dia sedang berada dirumah sakit....


..."Biasa, party" jawab Hoshie....


... Suara teriakan kemarahan dari ibunya....


..."Party lagi. Kudengar kau juga membuka bisnis bilyard" kata Ibunya....


..."Ya" kata Hoshie....


..."Terserah kau saja. Lalu bagaimana dengan kesehatanmu?" tanya Ibunya lagi....


... Penuh semangat....


..."I always healthy" kata Hoshie....


..."Bagaimana dengan Mamah?" tanya Hoshie....


..."Sudah pasti sehat kalau tidak mana mungkin bisa memarahimu" kata ibunya Hoshie....


... Padahal untuk Hoshie bicara saja seluruh badan terasa sakit....


... Untuk seorang Hoshie yang tetap menjadi sebagai putra ibunya sedang dimarahi dengan alasan yang tidak berbeda juga dengan alasan seperti biasa dengan masalah keuangan....


..."Kudengar kau juga memesan banyak jenis perhiasan. Semua itu untuk siapa?" tanya Ibunya....


... Jawaban yang membuat ibunya bertambah marah lagi....


..."Biasa untuk pacar-pacarku" jawab Hoshie....


... Tentu marah tapi Hoshie tetap putra kesayangannya....


..."Sudahlah!" kata ibunya Hoshie....


..."Kau jaga dirimu. Jangan sampai sakit" kata ibunya....


... Obrolan diakhiri oleh ibunya....


... Melihat layar ponsel yang menunjukan pukul setengah satu malam....


... Dia kembali tidak bisa tidur....


... Melihat lagi fotonya bersama dengan Dashie....


... Memprediksi untuk hari kedepan....


..."Kemungkinan. Dia pasti akan sulit dihubungi oleh ku" kata Hoshie....


..."Bisa juga mereka sekarang sedang bertengkar" kata Hoshie....


... Dia belum mendapatkan kabar dari siapapun bahwa Dashie dan Rio sudah putus dengan status mereka sekarang sebagai mantan kekasih....


..."Tak ada postingan terbaru dari Dashie ataupun Rio" kata Hoshie....


... Hoshie sedang melihat beranda akun sosial media keduanya....


... Curiga....


..."Benarkah mereka jadian?" tanya Hoshie....

__ADS_1


... ...


... ...


__ADS_2