Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 30: Ada didekatku.


__ADS_3

Chapter 30: Ada didekatku.


"Ayo kita putus!" kata Ten.


 Seharusnya kata kata yang didengar oleh Dashie sama selaras dengan lagu yang di putar di sebuah toko bunga yang ada di seberang jalan sebelah kanan saat ini dia memandang Ten dan nyatanya berbeda dengan realita yang sedang berbicara di depannya sendiri.


 Lagu yang di putar di toko bunga itu terlalu manis untuk mengiringi kisah asmara yang harus berakhir begitu saja tanpa persetujuan dari kedua pihak. Orang itu baru saja pergi meninggalkan gadis ini pergi menjauh terus menjauh tidak berbalik dia tidak peduli lagi dengan gadis itu kedua bola mata berkaca kaca ingin menangis tanpa bisa berkata.


"Berbaliklah" kata Dashie.


 Menengadah  ke langit menahan air mata agar tidak jatuh menarik nafas dari  isak tangis.


 Pasangan ini tidak tahu bahwa seseorang sedang menunggu kapan waktu yang tepat agar bisa lewat di jalan yang sama tanpa perlu mendengar apa yang tidak seharusnya didengar. 


 Dia menyibukkan diri agar tidak terlihat disaat kedua orang baru saja berpisah berbalik Dashie melawan arah dari Ten saling menjauh pria berdasi deep blue orang yang sama yang juga salah satu teman Rio yang makan bersama di sebuah cafe yang melihat kecemburuan Aka bersama dengan Hoshie.


 Dashie melihat pria ini yang menjadi canggung saling menatap satu sama lain.


 


"Aku sungguh menyedihkan" kata Dashie.


 Dashie melewati pria ini tidak peduli dengan seseorang yang memperhatikannya itu.


 Pria ini sedang menunggu seseorang datang.


Orang yang pria ini tunggu telah datang menggunakan mobil hitam lalu segera turun dengan tujuan yang sama untuk pergi ke sebuah tempat di sebuah restoran untuk merayakan keberhasilan proyek baru satu tim mereka yang dikerjakan selama sebulan ini.


 Pria itu baru saja keluar dari dalam mobil lalu melihat Dashie yang menangis segera dia berlari menghampiri takut sesuatu telah terjadi padanya menyapa kemudian.


 Menghapus air mata di wajah Dashie dengan kedua telapak tangan pria ini menghibur.


"Kenapa kau menangis?" tanya Rio.


"Tidak. Tidak, aku tidak menangis" jawab Dashie.


 Temannya yang sedang menunggunya sejak lima menit tadi masih ada disana menyaksikan dua peristiwa yang berbeda terjadi di tempat yang sama.


"Aku akan mengantarmu pulang" kata Rio.


 Membuat isyarat kode kepada Rio yang berarti.


"Kau pergi sendiri dulu" kata Rio untuk temannya agar pergi ke pesta lebih awal.


 Rio mengajak Dashie untuk mengantarnya pulang tapi apa yang terjadi dia menolaknya.


"Aku ingin sendiri" kata Dashie.


 Dia juga pergi meninggalkan Rio yang berniat untuk mengantarnya pulang enggan untuk bercerita dia pergi meninggalkan tempat perpisahan itu.


 Dari arah lain Ten yang berada didalam kursi kemudi mobilnya melihat Dashie melihatnya juga diajak bicara oleh Rio yang juga tidak dikenal oleh Ten tapi sangat perhatian kepada mantan pacarnya itu.


 Gadis yang dia sayang sudah naik bus dia melihatnya pergi dan mesin mobil dinyalakan pergi berbalik arah di jalan berbeda serta tujuan berbeda.


 Sepanjang jalan yang cukup menghibur waktu di perasaan hatinya yang sedang sedih ini dia duduk mengambil kursi tempat dekat jendela di sebelah kanan.


 Pukul setengah tujuh malam tidak terlalu hening dengan banyaknya aktivitas yang berlanjut untuk diselesaikan.


 Apakah dia menangis di sepanjang perjalanan sudah pasti sesekali air matanya dihapus dengan jemari tangan kanannya sendiri.


"Dia tidak akan tersenyum padaku lagi" kata Dashie.


 Kisah sedih belum berakhir dan baru saja dimulai.


 Ten pergi dengan mobilnya sendiri menuju ke suatu tempat pergi untuk memenuhi sebuah janji bertemu setelah selesai bekerja tadi dan selesai memutuskan pacarnya yang juga sedang menempuh perjalanannya sendiri.


 


 Perjalanan pulang terasa sangat lama untuk Dashie selama sepuluh menit seperti berjam berjam dia rasakan ingin cepat cepat dia pulang mengakhiri hari ini dengan segera.


 Setiap menit setiap detik dia hitung berputar jarum jam di pergelangan tangan kirinya terpasang seperti biasa kali ini dia sedang memakai jam tangan yang pernah diberikan oleh Ten sebagai hadiah ulang tahun sebelum mereka menjadi sepasang kekasih dalam hitungan jam yang membuat Dashie ingin bertanya kenapa dia bisa melakukan ini kepadanya dengan mudah tanpa perasaan sedih yang ditangkap dari ekspresi mantan pacarnya disaat mengatakan kata putus.


"Aku bahkan tidak sempat bertanya kenapa" kata Dashie.


"Dia langsung pergi dan aku diam tak berdaya disana sendirian" kata Dashie.


"Kenapa kita harus putus. Kau tidak tahu bahwa aku sangat menyukaimu" kata Dashie.


 Mengusap air matanya lagi yang baru saja keluar dari pelupuk mata.


 Di depan toko lilin aromaterapi.


 Ved menelepon Dashie seperti biasa di waktu waktu seperti ini seperti hari biasa dengan rasa khawatir dan cemas karena sahabatnya belum juga pulang.

__ADS_1


 Menunggu di depan toko lilin aromaterapi menunggunya melihat ke arah jalan kanan dan kiri mencari Dashie yang belum juga tiba setelah pulang bekerja tadi.


"Dia pasti pulang. Kau sudah seperti kakaknya saja" kata Jarrel.


"Kakaknya akan datang kemari" kata Ved.


 Ten datang lalu memarkirkan mobilnya di depan toko Jarrel.


 Keluar dari dalam mobil dengan perasaan tidak enak dia rasakan sesuatu akan terjadi.


 Pria ini menyadari hal ini akan terjadi setelah dia mendapatkan alamat dimana Jarrel tinggal dan itu adalah rumah yang dekat dengan rumah Dashie.


 Menyapa Ved.


"Hey, bro!" sapa Ten.


 Ved mengangguk kepada Ten yang sedang menunggu panggilannya kepada Dashie bisa tersambung setelah beberapa kali dia menghubungi sahabatnya ini.


 Ten mengubah wajah segera setelah melihat seseorang datang kedua orang yang sedang ada di depannya sekarang saling mendekat berjalan menghampiri.


 Jarrel memperhatikan perkembangan yang terjadi pada Ten yang sedang dalam masa pemulihan.


"Siapa yang sedang diperhatikan oleh rekanku ini?" tanya Jarrel.


 Ten memperhatikan orang yang dia sayang semakin mendekat ke arahnya.


 Sibuk dengan tablet di tangan.


 Jarrel yang bertugas mengawasi perkembangan Ten sedang menjalankan tugas.


  Dashie sudah turun dari bus mengambil arah jalan pulang yang juga satu arah dengan Ved yang saat ini sedang ada disana dengan ponsel di tangan dengan tangan kanan didekatkan pada telinga sebelah kanan.


 Ten masih dengan wajah orang lain memandang Dashie dari dua meter di belakang Ved sedang menghubungi Dashie dan gadis ini melihat itu melihat seorang gadis lain yang juga datang sedang menyapa Ved lalu segera Dashie menaruh ponselnya lagi ke dalam saku jaketnya berbalik arah pergi meninggalkan kedua orang yang terlihat sedang mengobrol.


"Dia akan pergi kemana?" tanya Ten.


 Jarrel menyapa Ten dari dalam toko dengan suara keras.


 Berteriak.


"Kau akan didepan pintu terus!" kata Jarrel.


 Ten masuk ke dalam toko dengan membawa beberapa berkas tentang dirinya untuk dilaporkan kepada Jarrel.


 Gadis ini bukan tidak tahu tapi dia memang sedang tidak ingin diajak bicara.


 Memanggil lagi.


"Dashie!" kata Aka.


 Mobil masih berjalan pelan.


"Dashie!" kata Aka lagi.


 Gemas karena sapaannya tidak di gubris lalu Aka memerintahkan agar mobil berhenti kemudian ia turun dari kursi mobil belakang membuka pintu lalu menutupnya lagi mengejar orang yang sedari tadi dia panggil tapi tidak mau berbalik menengok siapa yang dia panggil.


"Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat" kata Aka.


 Wajah datar.


"Aku hanya ingin pulang kerumahku" kata Dashie.


 Dia tetap dengan dirinya yang ingin pulang dan beristirahat dirumah menolak ajakan dari temannya tersebut untuk pergi ke suatu tempat.


 Aka ada dibelakang Dashie yang pergi menuju jalan lain memutar ke arah jalan lain menuju arah jalan rumah.


 Aka kembali masuk kedalam mobil dan pergi dengan tujuannya sendiri kemana dia akan pergi.


 Malam ini langit sangat cerah cerah sekali gadis ini menengadah ke langit terang malam ini lalu bagaimana kabarnya saat ini dengan apa yang ada didalam hati gadis yang sedang menengadah ke langit itu yang sudah tidak menangis lagi.


 Dashie tidak tahu bahwa sejak dia dan Ten membuat janji akan bertemu sampai saat ini pria di sebelahnya masih sedang mengikutinya tanpa henti dia sesekali meraih tangan gadis yang dulu pernah dekat dengan nya itu. Ya, benar dia adalah Hoshie yang tiba tiba saja menjadi iba kepada Dashie.


"Kau sesedih ini lalu bagaimana dengan apa yang ku lakukan … " kata Hoshie.


"Siapa bilang kau biasa biasa saja" kata Hoshie.


"Aku hanya tidak percaya diri saja" kata Hoshie.


"Kau pasti tidak mau denganku" kata Hoshie lagi.


 Dia mengikuti Dashie melewati bangunan bangunan satu persatu berjalan masih stabil dengan pelan dia melangkah pergi mendekat ke arah pulang dan Hoshie masih mengikuti gadis disebelah kanannya.


 Sampai didepan rumah Dashie.

__ADS_1


 Pintu rumah dibuka pemilik rumah membuka masuk lalu Hoshie ikut masuk kedalam menyelinap di bawah lengan kanan gadis ini dengan cepat sebelum pintu juga sebelum pemiliknya benar benar menutup pintu rumah.


 Akuarium ikan koi milik Dashie pecah jatuh ke lantai.


 Kaget juga tidak kaget tapi juga kaget terpaku.


"Kenapa bisa jatuh sendiri ke lantai?" tanya Dashie.


 Dashie langsung mengambil dua pasang ikan koi kecil yang tergelepar di lantai berwarna gold kemerahan dengan kedua telapak tangan.


 Dari sisi kiri gadis ini seorang pria bernama Hoshie sedang memegang dahi sebelah kanannya yang berdarah akibat menabrak aquarium berbahan kaca menutup dan menahan darah yang mengalir menutup lukanya sendiri dan sembuh sendiri lalu itu harapan dari pemuda ini nyatanya tidak berhasil menyembuhkan diri sendiri.


 Hoshie duduk bersandar di sofa ruang tamu Dashie menahan rasa sakit luka di dahinya yang tidak mau sembuh sendiri memperhatikan sebegitu perhatiannya gadis yang sedang diikutinya itu panik dengan kedua hewan air peliharaannya manis dari Hoshie dengan tanda tanda berbeda responnya untuk Dashie.


"Mereka ikan ikan dariku. Seharusnya dia buang saja" kata Hoshie.


"Dia malah terus pelihara" kata Hoshie.


 Hoshie masih ditempat yang sama tidak pindah masih melihat gadis yang mau sukarela direpotkan dengan kedua pasang ikan di dalam benda seperti gelas berukuran besar seukuran gelas  baru dari dalam salah satu kamar rumah.


 Menaruh beberapa dengan teliti natural pantai pasir putih ikut juga sebagai dekorasi di dalam akuarium baru menambahkan air jernih dalam akuarium menunggu sampai air kembali jernih sedangkan kedua pasang ikan koi tadi masih berenang bernafas lagi di dalam sebuah tempat seperti tabung gelas kaca.


 Dashie menunggu sambil mendengarkan musik di ruang tamu ponselnya dinyalakan lagu kesukaan meninggalkan ponsel di meja ruang tamu bersama dengan kedua pasang ikan koi sedangkan Dashie pergi ke kamarnya sendiri untuk mandi setelah beraktifitas sendirian.


 Hoshie mengikuti gadis ini.


"Astaga!" kata Hoshie.


 Terpental kesakitan sendirian gadis itu menutup pintu kamar.


 Hoshie langsung terpental jauh ke tembok tidak bisa masuk kedalam kamar Dashie bahkan untuk melewati pintu kamar gadis yang sedang dia ikuti sedari tadi.


"Kenapa rumahnya lebih menakutkan?" tanya Hoshie.


 Hoshie merasakan rasa terbakar di bahu sebelah kirinya setelah akan melewati pintu kamar Dashie.


 Luka memerah biru seperti habis dipukul benda keras dilihat oleh Hoshie yang sedang membuka sweater beige yang dia pakai kembali lalu menutupnya.


 Pergi ke ruang tamu lagi menunggu duduk disana diatas sofa dengan sesekali bermain ikan koi yang ada diatas meja dengan jari jari tangan.


 Sepuluh menit kemudian di ruang tamu rumah.


 Hoshie masih dengan mantra yang dibaca sebelumnya duduk di sebelah kanan Dashie yang sedang memasukkan dua pasang ikan kedalam aquarium baru berisi air jernih di atas meja.


 Pemuda ini iseng ingin menyentuh lagi ikan ikan yang sekarang ada di dalam aquarium dan apa yang terjadi selanjutnya raga pemuda ini menembus kaca aquarium yang akan sentuh dengan kelima jari tangan kanan.


 Heran sendiri.


"Ada apa ini?" tanya Hoshie kepada diri sendiri.


 Mengulang lagi menyentuh benda benda lain disekitar selain aquarium yang baru saja ia akan sentuh.


 Berusaha meraih ponsel Dashie.


"Ada apa dengan ku?" tanya Hoshie.


 Menjadi panik untuk seorang Hoshie yang tidak melakukan aktifitas seperti biasanya masih dalam mantra tidak terlihat.


 Curiga kepada Dashie.


"Apa dia benar benar salah satu dari mereka?" tanya Hoshie.


 Hoshie akan meraih tangan Dashie lalu terkaget sendiri menjauh masih duduk di sofa ruang tamu rumah tersebut.


"Aku seperti tersengat listrik lagi" kata Hoshie.


 Jauh lebih kaget lagi setelah hampir saja menyentuh tangan kanan Dashie.


"Kenapa sebagian tanganku menghilang?" tanya Hoshie.


 Bagian dari telapak tangan Hoshie yang tadi seperti tersetrum listrik ketika hampir saja menyentuh tangan kanan Dashie sudah mulai terlihat menghilang tersisa bayangan yang tidak mengalami kejutan seperti listrik tadi dari tangan gadis di sebelah kanannya yang kini sedang bersandar di sofa.


 Gadis yang sedang bersandar di sofanya sendiri sedang menikmati aroma lilin aromaterapi yang baru saja dinyalakan tujuh detik yang lalu yang berbeda dengan Hoshie yang menjadi panik dengan apa yang baru saja terjadi padanya dan baru saja dimulai itu.


 Panik sudah jelas untuk Hoshie.


"Apa aku sudah mati?" tanya pemuda ini.


 Memeriksa denyut nadinya sendiri.


"Aku belum mati" kata Hoshie.


 Gadis di sebelahnya itu sedang menikmati secangkir teh cava chamomile buatan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2