
...Chapter 145: Dedaunan jatuh....
...Dia dan tas milik sahabatnya yang telah pergi....
...Dari peran yang ia ambil memberi kesan prihatin tidak mencemooh atas apa yang terjadi menimpa kepada Shanaya....
...Di depan pintu masuk rumah Shanaya....
..."Permisi. Saya Soft, saya datang kemari untuk mengantar tas putri anda yang tertinggal di sekolah" kata Soft....
...Tak ada percakapan lebih yang ia lakukan kepada ibu dari sahabatnya itu....
...Dia pergi setelah memberikan tas milik Shanaya....
...Berjalan keluar dari area rumah sahabatnya berjalan kaki melewati rumah-rumah yang ada di bagian kompleks yang ia masuki....
...Gadis remaja ini sedang berusaha tegar dan menenangkan diri agar siapapun tidak mencurigai adanya kejanggalan dari menghilangnya seseorang....
..."Bersikaplah seperti biasa Soft. Ini bukanlah sepenuhnya salahmu" kata Soft....
...Dia bahkan tidak sempat membuka pesan dan tidak menjawab telepon dari kakaknya sendiri membiarkan ponselnya sedari jam pelajaran berada di dalam saku sweater sebelah kanan merah muda dengan gambar bunga krisan yang dibordir dibagian belakang....
...Dia semakin pergi menjauh dari rumah Shanaya....
..."Sayang. Kau dimana?"...
..."Aku baru bangun tidur. Ayo kita pergi makan bersama"...
..."Sayang. Kau baik-baik saja kan?"...
..."Sayang. Jangan buat aku khawatir"...
...Semua pesan yang ia terima dari Stud....
...Dia menelepon pacarnya....
...Tidak diangkat....
...Lalu menghubungi nomornya lagi masih juga tidak diangkat oleh Soft....
...Ponselnya bergetar terus dari dalam sweater yang ia pakai tapi tetap saja dia tidak peduli yang ia pedulikan adalah bagaimana ia bisa terlepas dari masalah yang membuatnya harus berpikir lebih keras....
...Jalanan yang tidak terlalu ramai di arah keluar dari perumahan yang ia lalui dengan langkah yang tidak bersemangat ingin semua yang ada sebagai sebuah masalah untuknya bisa menjalani semua ini....
...Dia duduk bersimpuh menangis tidak bisa menahan air matanya jatuh....
...Terisak....
...Menangis air matanya tidak bisa berhenti terus membuat wajahnya memerah meninggalkan lingkar mata yang semakin lama akan jelas terbentuk dibawah mata kecilnya itu....
...Dia memandang jalan yang lurus dengan pandangan mata yang jelas di pukul empat sore....
..."Apa yang harus kulakukan?" tanya Soft....
...Menghapus air matanya sendiri lalu dengan pucat wajahnya kembali dikondisikan menjadi normal kembali....
...Dia mengambil ponselnya dari dalam saku sweaternya itu....
...Menghubungi nomor ponsel orang lain....
...Dia terlihat dari arah belakang semakin pergi dengan ponsel ditangan kanan menempel di telinga sebelah kanan....
...Dia sudah terlihat normal kembali bahkan kondisinya terlihat jauh lebih baik sesuai apa yang ia inginkan....
..."Jangan terlalu khawatir padaku. Aku akan tiba di Aron Cafe" kata Soft....
..."Hmmm. Bye bye" kata Soft....
...Dia baru saja membuat janji temu dengan pacarnya di sebuah cafe di dekat perumahan yang sedang ia datangi....
...Melihat layar ponsel....
..."Dia sudah menelpon ku hingga ke empat belas kalinya" kata Soft....
...Di sebuah galeri pameran seni....
...Ketua kelas bertugas menjadi ketua kelas hingga mereka berada diluar sekolah....
...Melihat ke sekeliling....
...Memeriksa....
...Dan akhirnya suara sedikit pelan tapi menekan menyeretnya untuk tidak bertingkah yang tidak tidak....
..."Kau sedang bermain detektif Swasta. Hentikan!" kata Yellow....
...Dia patuh seperti biasa kepada temannya itu....
...Mengangguk patuh....
..."Ya" kata ketua kelas....
...Dia sedang memperhatikan di sekitar tiga remaja putri yang sekarang ada bersama dengannya untuk melihat sebuah pameran lukisan yang saat ini baru dibuka tiga puluh menit yang lalu....
...Yellow dan Jeje cuma menghela nafas pendek ketika melihat temannya yang berjiwa detektif ini....
...Murid baru dari kelas Gan juga ikut dengan mereka. Namun, ia sedikit memisahkan diri dengan jarak ketiganya sekitar lima langkah dari sebelah Yellow, Jeje, dan ketua kelas....
...Murid baru sedang melihat sebuah lukisan yang bertema abstrak....
..."Kau suka lukisan abstrak?" tanya Rio....
...Melirik manis kepada pria yang mulai mengajaknya bicara....
..."Ahhh. Ini yang namanya lukisan abstrak, aku baru tahu" kata Murid baru....
...Menikmati seni hasil karya salah satu pelukis lagi....
...Tiba-tiba akrab....
..."Kau suka datang kemari?" tanya Rio....
..."Iseng" kata murid baru....
...Dia dengan senyum ramah mempesona yang selalu ia miliki....
..."Kau cukup lucu" kata Rio....
...Di dalam pikiran remaja putri ini....
..."Lumayan. Jika dijadikan pacar" kata murid baru....
...Dari arah selatan....
...Ketua kelas yang pertama kali melihat ini menarik keduanya untuk membentuk kekuatan bergabung menjadi sekutu....
__ADS_1
...Berbisik....
..."Kalian lihat pria itu?" tanya Gan....
...Ikut berbisik....
..."Ada apa dengan pria tampan itu?" tanya Jeje....
...Menarik sahabatnya lebih dekat untuk menegaskan apa yang ingin dia katakan....
..."Lupakan pria tampan ini" kata Yellow....
...Penasaran....
..."Apa. Apa yang tidak aku ketahui?" tanya Jeje....
...Berbisik....
..."Dia sudah punya pacar" kata Ketua kelas....
...Menunjukkan bukti foto pria yang sedang mendekati teman barunya itu....
...Melihat foto Rio bersama dengan Dashie yang juga ada Rumy disana....
...Belum percaya....
..."Darimana kau dapat informasi ini?" tanya Jeje....
..."Sudahlah. Itu tidak penting" kata Yellow....
...Rencana yang tiba-tiba spontan muncul dari dalam isi kepalanya....
..."Jangan sampai dia jadian sama orang itu" kata ketua kelas....
...Masih nggak peka....
..."Kalau jadian?" tanya Jeje....
..."Kita buat mereka putus" kata Yellow....
...Ketua kelas mengangguk....
..."Bagaimana kalian setuju?" tanya Yellow....
...Kompak menjawab ketiganya....
..."Ok!"....
...Ketiga siswa sekolah menengah atas ini memutuskan untuk mendengarkan isi percakapan dari keduanya kembali....
...Dia murid baru yang bisa dibilang super manis ini tampak belum banyak merespon kode asmara dari pria yang berusia lima tahun lebih dewasa darinya itu....
..."Apa kau sudah punya pacar?" tanya Rio....
..."Baru putus" jawab murid baru....
...Lampu hijau untuk Rio selangkah lebih maju untuk mendapatkan murid baru ini....
..."Apa aku termasuk kriteria pria yang kau suka?" tanya Rio....
...Murid baru yang langsung menilai bagaimana seseorang sedang mendekati tanpa ingin gagal mendapatkan....
..."Kenapa. Kau tidak mau mengatakannya kalau begitu kita pelan-pelan saja" kata Rio....
...Kesempatan bagus untuk murid baru ini....
...Dia menarik langsung Rio untuk berada di depannya untuk dinilai secara langsung....
...Rio sudah siap untuk dinilai oleh murid baru....
...Dari ujung kepala hingga kaki dinilai oleh murid baru....
...Sepuluh detik berlalu lalu melirik ke arah ketiga teman barunya yang sudah ketahuan pura-pura tidak menyimak perbincangan sejak awal....
...Rio yang lembut....
..."Boleh aku jujur?" tanya Rio....
...Memandang kedua mata orang yang sedang bicara kepadanya....
...Manis menjawab....
..."Boleh. Katakan apa?" tanya balik Murid baru....
...Dia dengan suaranya yang manly....
..."Aku. Aku sebenarnya agak grogi kalau ngomong sama cewek. Apalagi … " kata Rio....
...Ekspresi menunggu murid baru....
..."Apalagi?" tanya murid baru....
...Dia tidak jadi mengatakan apa yang ingin dikatakan kepada si murid baru yang super manis....
...Penasaran....
..."Lanjutkan. Tadi, kakak mau bicara apa?" tanya murid baru....
...Jadi salah tingkah Si Rio setelah melihat sikap gadis remaja yang baru ia kenal ini....
...Seseorang sedang tidak ingin percaya ada berada tidak jauh dari keduanya sedang melakukan pendekatan....
...Rio dibiarkan ditempat yang sama....
..."Aku terancam" kata ketua kelas....
...Di sedang berjalan mendekat ke arah ketiga remaja yang ada di bagian selatan lima langkah dari tempat Rio berdiri disana menunggu....
...Ketua kelas dibawa oleh murid baru itu lalu disandingkan langsung bersebelahan dengan Rio....
...Murid baru sedang menilai siapa yang paling keren diantara mereka berdua....
...Mereka berdua berdiri bersebelahan saling melihat satu sama lain....
...Menunjuk ke arah ke ketua kelas....
..."Dia lebih keren dari mu" kata Murid baru....
...Rio ditinggal dan Ketua kelas dibawa pergi oleh murid baru tanpa penolakan....
...Kedua teman mereka pergi menyusul pergi pasangan palsu yang sudah pergi....
...Pria keren yang malang....
...Dia termenung sendirian tidak menyangka akan dikerjai oleh seorang remaja....
__ADS_1
...Hatinya yang ikut sedih....
..."Ini bukan rencanaku. Kenapa aku ada disini?" tanya Tuan Oryn Mason....
...Oryn yang sejak awal pura-pura tidak mendengar dan melihat Rio sedang menggoda seorang remaja berseragam sekolah menengah atas....
...Oryn Mason sedang bersama seorang pria yang merupakan pelukis dari lukisan lukisan yang sedang dipajang dalam pameran galeri. Dia berbincang membahas sedikit tentang seni tak sengaja mendengar seseorang yang pernah ia kenal berada dalam situasi yang tidak disangka....
..."Ternyata dia suka yang lucu-lucu" kata Oryn....
...Rio tidak ingin melepaskan si murid baru lalu pergi untuk mengejar remaja putri barusan yang baru ia kenal itu....
...Dia mengejar berharap untuk meminta nomor ponselnya yang tadi sempat tertunda....
...Di luar tempat pameran....
..."Dia lari cepat sekali" kata Rio....
...Disana sudah tidak terlihat Si Murid baru beserta kawan-kawannya yang tadi ikut pergi menghindar dari kejaran Rio....
...Dia mengingat nama dan asal sekolah gadis yang ia incar....
..."Kita akan bertemu lagi" kata Rio....
...Sepuluh langkah menuju mobil pribadinya lalu membuka kunci mobil secara otomatis....
...Dia pergi dengan mobilnya yang terparkir tidak jauh dari halaman gedung tempat pameran lukisan diadakan....
...Oryn keluar dari dalam gedung pameran....
..."Dia sudah pergi" kata Oryn....
... Menertawakan diri sendiri....
...Tidak tahu hari ini....
...Besok atau nanti sudah tidak bisa saling menyapa lagi waktu yang bukan hanya berkurang tapi waktu telah menjawab semua pertanyaan akankah kita bertemu kembali....
...Sosok itu yang tak pernah berubah dengan dirinya yang apa adanya sebagai salah satu dari berbagai alasan mengapa seseorang menjadi pengagum rahasia....
...Waktu tidak berhenti selalu berputar sesuai arah jam....
..."Apa arti kisah ku ini?" tanya Oryn....
...Dia dengan lembut wajahnya bagai cahaya surga membuat siapapun bisa tergila-gila bukan hanya karena parasnya melainkan juga isi hatinya tak bisa membuat orang lupa....
...Oryn tidak melangkah maju terdengar langkah sepatu merah dari sepatu berhak tinggi yang digunakan oleh wanita berambut pendek bergaun hitam tanpa lengan dengan panjang selutut anggun seperti biasa....
...Wanita yang memakai lipstik merah itu menyempatkan sedikit rambut di bagian sisi kanan telinganya dengan anting drop kristal putih lalu menyapa....
..."Kau masih mengenalku. Oryn?" tanya wanita bergaun putih tersebut....
...Dia menjawab tenang dan santai....
..."Hayes?" tanya Oryn....
..."Benar. Aku Hayes" kata Hayes....
..."Lama tidak bertemu" kata Oryn....
..."Ya. Lama tidak bertemu" kata Hayes....
...Dari arah belakang Oryn seseorang memanggil nama wanita yang baru saja menyapa memulai obrolan itu. Jika dihitung, Oryn dan Hayes sudah empat tahun tidak bertemu kini dipertemukan dalam momen pria ini sudah memiliki orang lain begitu juga dengan sebaliknya wanita yang sedang menyapa seseorang yang terlihat bukan hanya sebatas teman dekat tapi lebih dari itu perhatian yang bisa mengartikan mereka berdua sudah menjadi sepasang kekasih....
...Perkenalan sedang terjadi keduanya saling memperkenalkan diri bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih sesuai dugaan dari Tuan Oryn Mason....
...Keramahan dan keakraban yang mereka tunjukkan apa adanya tanpa sebuah skenario yang sudah terencana mengalir begitu saja....
...Isi hati dan pikirannya....
..."Aku harus cepat pergi dari tempat ini" kata Oryn....
..."Aku tidak mau semuanya hancur berantakan" kata Oryn....
...Menyadarkan diri dari sebuah kisah semu yang sudah lama berakhir....
..."Aku dan Ghazi sudah saling mencintai. Ini hanya kisah lama" kata Oryn....
...Obrolan mereka bertiga berkahir di pukul enam kurang delapan belas menit....
...Mereka berpisah dengan Oryn yang pergi dari depan gedung tempat pameran seni sedang berlangsung sedangkan Hayes pergi bersama dengan rekan bisnis sekaligus kekasihnya yang juga seorang pelukis yang bekerja sama dengan Oryn untuk menyelenggarakan pameran seni lukis yang dibuka mulai pukul lima sore kurang sepuluh menit tadi....
...Oryn sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan sendiri menuju tempat lain yang juga masih berhubungan dengan pekerjaan....
...Dia dengan perasaannya yang sudah lama terkubur....
..."Orang akan salah paham jika aku terus memikirkannya" kata Oryn....
...Melihat foto dirinya bersama dengan Ghazi yang terpajang di bagian depan mobil di dekat kemudi....
...Jalan untuk pejalan kaki di sisi kiri arah Oryn mengemudikan mobilnya. Dia mendengar secara samar-samar dari yang ia dengar dan akhirnya ia melihat ada salah satu dari bangsa Blacwhe yang sedang sembarang menggunakan kekuatannya untuk kepentingan bermain-main....
..."Dia bisa menjadi korban ku" kata Murid baru....
...Oryn mendengar suara dari gadis yang memakai seragam sekolah menengah atas seorang gadis yang tadi diajak berkenalan oleh Rio....
...Melewati rombongan remaja....
...Dia dan kata-kata yang menusuk menyakitkan telinga gadis remaja yang baru beberapa detik dilewati olehnya....
..."Apa kau sudah bosan hidup. Lakukan saja tanggung sendiri akibatnya" kata Oryn....
...Dia tetap waspada dari balik wajah yang tak berubah ekspresi yang ia tunjukkan kepada orang-orang disekelilingnya saat ini....
...Di sekeliling gadis itu dan hanya ia yang bisa melihat bahwa serpihan es tajam berterbangan di udara siap untuk menyerang yang masih dikendalikan oleh salah satu bangsa Xoco masih dikendalikan dari jarak jauh yang tidak diketahui siapa bangsa Xoco yang telah memberi peringatan kepada murid baru itu....
..."Siapa yang melakukan ini?" tanya Murid baru....
...Mengetahui tidak mudah untuk mencari bangsa Xoco yang baru saja memberikan peringatan awal padanya langsung belum pergi hingga saat ini serpihan es tajam mengikuti....
..."Kenapa aku tidak boleh mengambil aura pria tadi?" tanya Murid baru....
..."Dia siapa sehingga bangsa Xoco mau melindungi?" tanya Murid baru....
...Serpihan itu tidak mau berhenti untuk mengikutinya kemana ia pergi hingga ia menyerah....
..."Ok. Aku tidak akan melukai pria itu" kata murid baru....
...Beberapa detik kemudian serpihan es itu langsung menghilang dengan cepat lenyap di udara tanpa menimbulkan jejak....
...Menebak....
..."Wahhh. Aku berhadapan dengan bangsa Xoco yang cukup hebat" kata murid baru....
..."Dia membuatku takut" kata murid baru ini....
__ADS_1
...Dedaunan jatuh dari pepohonan yang mereka lewati sekarang....
...Si murid baru yang sedang beradaptasi dengan gaya interaksi ketiga teman barunya itu....