
...Chapter 141: Pendengar yang baik....
..."Aku hanya sedang tidak ingin minum bukan berarti berhenti minum" kata Hoshie....
..."Ini mengejutkan. Ibu tetap tidak percaya" kata ibunya Hoshie....
... Dia yang mendengar kalimat itu lagi dari lisan ibunya....
..."Kebahagiaan terbesar adalah masih mendengar ibu memarahi ku" kata Hoshie....
..."Kau memang pantas dimarahi" kata ibunya Hoshie....
... Mengalihkan pembicaraan....
..."Mah" panggil Hoshie....
..."Apa. Katakan saja" kata ibunya Hoshie....
..."Tidak jadi" kata Hoshie....
... Putranya ini akan menanyakan sesuatu tapi urung ditanyakan secara langsung mengingat saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan hal yang dibilang cukup penting mengenai keluarga mereka....
... Teringat akan sesuatu yang ada di dalam kamar di rumah tempat putranya tinggal....
... Melihat reaksi yang diberikan oleh ibunya yang jauh lebih menakutkan....
... Suaranya jelas sedang sedikit ketakutan....
..."Apalagi?" tanya Hoshie....
..."Untuk apa semua perhiasan itu?" tanya Ibunya Hoshie....
... Pura-pura tidak paham apa yang sedang dibicarakan oleh ibunya....
..."Semua perhiasan di kamarmu itu" kata ibunya Hoshie....
... Dia akan segera mendapatkan banyak pertanyaan dari ibunya sendiri....
... Dia bersiap....
... Dia seperti baru saja menelan ludahnya sendiri....
... Belum ingin berkomentar lagi dengan pertanyaan yang diberikan oleh ibunya yang bersiap dengan pertanyaan yang disiapkan siap menyerbu Hoshie yang mulai menebak semua pertanyaan yang sudah disiapkan untuknya....
..."Semua perhiasan itu atas nama Dashie. Siapa gadis itu?" tanya Ibunya....
..."Kau bisa dicampakkan seorang gadis?" tanya Ibunya lagi....
... Membela diri....
..."Tidak juga" kata Hoshie....
... Dia dengan nada suara yang terdengar marah tapi tidak dengan ekspresi wajah yang menggambarkan kebahagiaan....
..."Mah" panggil Hoshie....
... Melihat ke arah lain dengan anggun dengan menatap cermin klasik yang ia pegang....
..."Syukurlah. Setidaknya, kau bisa merasakan rasanya patah hati" kata ibunya....
... Hoshie jadi agak bingung dengan sikap ibunya yang lebih membela seseorang....
... Dia memeriksa antingnya yang berwarna ungu di telinga sebelah kanan dengan tangan kanannya bercermin dengan cermin dipegang dengan tangan kiri....
..."Ibu juga sudah memeriksa transaksi baru. Kau baru saja memesan perhiasan lagi?" tanya Ibunya lagi....
... Mengangguk....
..."Ya" jawab Hoshie....
..."Untuk gadis yang sama?" tanya Ibunya....
... Mengangguk lagi dengan jawaban suara yang pelan....
..."Ya" jawab Hoshie....
... Menghela nafas panjang....
..."Ibu ingin bertemu dengannya" kata ibunya Hoshie....
..."Untuk apa?" tanya Hoshie....
..."Sepertinya, ibu penasaran dengan gadis yang membuat putra ibu jadi seperti ini" jawaban ibunya Hoshie....
... Dia jelas menolak....
..."Tidak boleh. Nanti saja, jangan sekarang" kata Hoshie....
... Selesai merapikan anting di sisi kirinya....
... Memandang putranya dengan sebuah kecurigaan....
..."Kenapa?" tanya Ibunya....
... Dia dengan pengakuan yang ditunggu oleh ibunya sejak tadi....
..."Nanti saja kalau dia sudah mau denganku" kata Hoshie....
... Dia setuju dengan keputusan yang diambil oleh anaknya itu....
... Melirik ke arah putranya lalu mengambil tas hitam dengan tali rantai berwarna gold miliknya....
..."Apa ini putra ibu?" tanya ibunya....
... Ibunya beranjak untuk pergi dari ruangan tersebut....
... Hoshie bangun dari tempat duduknya sebuah sofa putih lebih tepatnya kursi pijat modern....
..."Ibu mau kemana. Kita baru saja bertemu?" tanya Hoshie....
..."Menemui ayah" kata ibunya....
..."Ok. Aku antar sampai di depan" kata Hoshie....
... Hoshie akan mengantar ibunya yang akan pergi dari ruangan tersebut....
... Berusaha akan membantu membawakan tas yang ibunya bawa sekarang....
... Menahan tas miliknya....
..."Kau sedang apa?" tanya Ibunya itu....
..."Membantu membawakan ini" kata Hoshie....
..."Ibu bisa bawa sendiri" kata ibunya menjelaskan....
..."Baiklah" kata Hoshie....
... Keluar dari dalam ruangan....
... Lalu terlihat Ibunya berada di sebelah kirinya saat ini dengan dua bodyguard berada di belakang mereka....
... Ibunya melewati sekitar bisnis anaknya yang sedang lumayan bisa menambah uang saku putranya itu....
... Di luar tempat bermain bilyard....
... Hoshie baru tahu kalau ayahnya datang untuk menjemput ibunya....
... Dia jadi agak bersiap diri dengan hadiah yang tidak ia duga diberikan oleh Ayahnya....
... Berbisik....
..."Mah. Kenapa tidak bilang dia ada disini?" tanya Hoshie....
... Ikutan berbisik....
__ADS_1
..."Kau ini. Dia juga ayahmu" kata Ibunya....
..."Dia tidak akan memukulku kan" kata Hoshie....
... Dia yang sudah tidak pulang beberapa bulan ke rumah....
... Ayahnya masih di dalam kursi belakang mobil di sebelah kanan ketika ia mengantar ibunya untuk menemui ayahnya....
... Dia tetap sama tidak menyapa putranya dengan hangat memberi kesan untuk ditakuti oleh putranya itu....
... Hoshie membukakan pintu mobil untuk ibunya di kursi belakang sebelah kiri mobil hitam yang ayahnya gunakan....
... Hoshie memberikan sapaan salam perpisahan kepada kedua orang tuanya dengan sedikit mengangguk kepalanya kebawah sambil senyum hormat tidak tertinggal....
... Keduanya pergi dengan bodyguard mereka yang juga menjalankan kemudi mobil....
..."Tumben sekali. Dia tidak memarahi ku" kata Hoshie....
... Melihat kedua orang tuanya yang semakin jauh....
... Mobil yang mereka tumpangi sudah tidak terlihat lagi lalu Hoshie berbalik ke arah depan tempat usahanya untuk masuk kembali menjalankan bisnis yang sedang berjalan itu....
... Dia melihat waktu dilayar ponselnya....
... Masih pukul sepuluh malam lebih sepuluh menit....
... Berhenti melihat layar ponsel lalu berjalan menaiki anak tangga lalu melihat layar ponselnya lagi mencari salah satu kontak nomor ponsel yang akan ia telefon....
... Menemukan nomor ponsel yang ia cari....
... Dia sambil berjalan masuk kedalam tempat bermain bilyard....
..."Apakah orang itu sudah tidur?" tanya Hoshie....
... Menelepon seseorang....
..."Kau dimana?" tanya Hoshie....
..."Tumben sekali kau meneleponku" kata Stud....
..."Ini terpaksa. Kau ada waktu?" tanya Hoshie....
..."Tidak ada. Ada sesuatu yang penting?" tanya Stud....
..."Kau harus ada waktu. Ini sangat penting" kata Hoshie....
... Stud merasa tidak ingin mendengar sifat seseorang yang bersikap memaksa dirinya bahkan mereka juga sudah sadar tidak pernah akrab sama sekali....
... Obrolan keduanya diakhiri secara sepihak oleh orang yang baru saja ditelfon oleh Hoshie....
... Ditelpfon balik oleh Hoshie....
... Menunggu beberapa detik....
... Panggilan teleponnya tidak ditanggapi oleh Stud....
..."Kenapa lagi?" tanya Stud....
... Hoshie ragu untuk mengatakan alasan ia ingin bertemu dengan seseorang yang tidak pernah akrab dengannya....
..."Memohonlah padaku. Jika dipikir aku juga lebih tua dari mu" kata Stud....
... Menunggu untuk Hoshie untuk bicara tapi ia tidak mendengar teman akan akrabnya ini bicara....
..."Aku akan menelponmu lagi" kata Hoshie....
... Stud yang memang sedang tidak ada waktu disaat teman baru akrabnya ini menelepon dan mengajaknya untuk membicarakan sesuatu....
... Tidak ada orang didalam ruangan itu selain dari Hoshie....
... Dia berhenti setelah satu langkah melewati pintu masuk ruangan tersebut....
... Gerak matanya melihat ke segala arah didepannya saat ini menyeluruh disetiap sudut....
... Tak ada tanda-tanda dari salah satu bangsa Blacwhe atau Xoco datang disana tapi ini tidaklah mungkin dengan apa yang ia ketahui tentang keberadaan dari salah satu dari mereka....
... Dia muncul kembali didepan Hoshie....
..."Ya. Kau tak pernah salah menebak jika ini aku" kata Seymour....
... To the point....
..."Apa yang kau inginkan?" tanya Hoshie....
..."Tidak ada" jawab Seymour....
... Dia melihat mantan kekasihnya dengan tatapan tidak marah dia hanya ingin wanita ini segera pergi dari ruangan itu....
..."Katakan saja" kata Hoshie....
... Di rumah sakit....
... Dia dengan tanpa emosi melihat sorot mata dari respon mantan kekasihnya menilai ketika ia datang di tempat persembunyian....
... Mendekat kepada Hoshie....
... Jemari tangan yang menyentuh tiap helai rambut kepala mantan kekasihnya itu....
..."Apa yang sedang kau pikirkan tentang ku?" tanya Seymour....
..."Kau sudah selesai?" tanya Hoshie....
... Menatap mata Hoshie dengan tanpa niat jahat....
... Menghentikan jemari tangannya untuk menyentuh bagian kepala orang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya sendiri....
..."Ok" kata Seymour....
... Dia tidak ingin bertengkar dengan seseorang yang pernah mengisi hatinya dulu....
... Seymour duduk di sofa panjang hitam diruang bermain bilyard dengan tangan kanan memegang sebagian rambut yang tersisa dari rambut diikat indah menjadi satu kebelakang....
... Wanita dengan lipstik nude menyatu dengan gaun berwarna moonstone dengan panjang dibawah lutut serta sepatu hitam berhak tinggi....
..."Sepertinya kau hidup nyaman tapi … ini sengaja pencitraan yang kau buat sendiri" kata Seymour....
..."Terserah bagaimana kau menilaiku sekarang" kata Hoshie....
... Dia tertawa lirih dengan jawaban mantan kekasihnya itu....
... Hoshie mengambil sesuatu dari dalam sebuah lemari yang ada didalam ruangan tersebut....
... Hoshie mendekat kepada Seymour....
... Wanita dengan style gaun berkerah halter strap itu mendapat perhatian dari Hoshie....
... Dia melihat jaket yang diberikan oleh Hoshie langsung pria ini sendiri yang memakaikannya....
... Sedikit tersenyum sinis....
..."Kenapa. Kenapa kau masih baik padaku?" tanya Seymour....
... Dia mengusap rambut kepalanya sendiri dengan tangan kanannya itu kebelakang....
... Menarik nafas pelan duduk disebelah kanan Seymour....
... Menatap mata Seymour dan ia menemukan sebuah kebencian yang tersimpan dari dalam diri wanita yang ada didepannya sekarang tanpa ada yang bisa disembunyikan olehnya....
... Merapikan jaketnya lagi yang ia berikan kepada Seymour....
... Sesuatu yang tidak terduga datang dari lisan Hoshie....
..."Aku minta maaf. Ok" kata Hoshie....
..."Maaf?" tanya Seymour....
__ADS_1
... Saling melihat satu sama lain....
..."Ya. Aku sadar, aku tidak akan mudah dimaafkan tapi aku sungguh ingin meminta maaf padamu" kata Hoshie....
... Seymour pergi....
... Jaket milik Hoshie tertinggal disana di sofa tersebut....
... Kini hanya ada dia disana sendirian....
... Menghela nafas sambil menyentuh wajahnya dengan bagian bawah kedua tangan. ...
..."Ada apa dengan hidupku yang rumit ini?" tanya Hoshie....
..."Ya benar. Aku memang seperti ini" kata Hoshie....
... Dia melepas kedua tangannya yang menyentuh wajah bersandar di sofa busa panjang yang di duduki dengan kepala menengadah ke atas menatap langit ruangan....
... Menutup mata sejenak ia ingin menenangkan diri....
... Di rumah sakit....
... Ghazi sedang kesal dengan pesan yang belum dibalas oleh adiknya sejak pukul setengah tujuh malam hingga pukul sepuluh malam lebih ini....
... Di telfon juga nggak diangkat....
... Melirik ke arah ibunya....
... Dia sedang bersebelahan dengan ibunya dan ibunya Rumy yang ada di sebelah kiri ibunya yang sedang mulai istirahat setelah seharian bekerja....
..."Pria didunia ini bukan hanya dia" kata Ghazi....
..."Kau masih sedih. Sadarlah, dunia saja tidak menginginkan kalian bersama" kata Ghazi....
... Pesannya hanya di read tanpa dibalas lagi....
... Ponselnya juga masih bisa dihubungi tapi tidak diangkat sama sekali oleh adiknya itu....
... Perlakuan ini juga diterima oleh Kakak laki-lakinya yang ia sudah tahu setelah kabar ini ditanyakan langsung kepada kakaknya....
... Dia melihat jendela kamar dengan lampu yang masih menyala di atas jalan menuju arah rumahnya di dekat bawah jalan tempat kos kosan adik perempuannya itu berdampingan....
... Orang-orang juga masih terlihat di sekitar dia yang sedang memantau keberadaan adiknya yang terlihat tidak begitu buruk itu harapannya sekarang....
..."Aku tahu adikku tidak selemah itu" kata Xie....
... Nora menelpon....
... Xie melihat layar ponselnya lalu mengehentikan obrolan mereka....
..."Kakak telpfon lagi nanti, ok. Bye" kata Xie....
... Xie baru saja berbohong jika pacarnya menelepon disaat mereka sedang mengobrol dengan alasan hanya dia yang tahu....
... Dia membuka balasan pesan yang ia terima dari kekasihnya lagi....
..."Aku sibuk"...
..."Aku sibuk"...
..."Aku sibuk"...
..."Sibuk beneran nggak bohong"...
... Tidak biasanya jika pacarnya mendapatkan pesan atau ditelfon oleh pria ini tidak langsung merespon cepat....
..."Ini sedikit aneh. Ada apa dengan ku" kata Xie....
... Sebuah kurir datang di depan kos kosan adiknya....
... Dia berpakaian biru setelan seragam dari perusahaan tempatnya bekerja....
... Dia masuk terlihat menaiki anak tangga....
... Menunggu beberapa menit....
... Lalu kurir tersebut keluar dalam waktu hanya tiga menit hingga sampai berada disebalah motornya lagi....
... Kurir itu pergi dengan motornya....
... Melihat jendela kamar adiknya dengan ruangan yang menyala terang masih dengan tirai yang terbuka separuh bagian jendela kayu diatas sana....
... Dia masuk kedalam mobilnya lagi lalu menyalakan mesin lalu pergi menuju tempat tinggalnya sendiri yang berjarak tidak jauh dari tempatnya saat ini sedang menyalakan mesin mobil....
... Di bar....
... Jarrel dengan tingkat kesadaran yang masih bisa dikendalikan melihat Rio yang ada di sebelah kirinya saat ini....
... Dia juga melihat gadis yang sejak tadi ada bersama dengan Rio ada berada sebelah kirinya memeluk sahabatnya itu....
... Rio yang terlihat sudah dalam kondisi mabuk....
... Jarrel dengan tingkat kesadaran yang ia miliki membuka kedua matanya lagi agar jauh lebih fokus melihat ke setiap bagian ruangan tersebut....
..."Kau masih sadar?" tanya Rio....
... Jarrel melihat sahabatnya yang masih bisa diajak bicara....
..."Kau memanggilku?" tanya Jarrel....
..."Disni tidak ada lagi orang yang bernama Jarrel" kata Rio....
... Gadis disebelah Rio bertambah mendekat memeluk erat pria yang sedang berada didekatnya saat ini....
... Jarrel melihatnya....
... Tidak peduli itulah respon yang terlihat darinya yang sudah cukup mabuk tak ingin melanjutkan minum lagi....
... Memanggil lagi dengan suara lebih keras....
..."Jarrel!" kata Rio....
... Jarrel tidak merespon....
... Jarrel yang malas meladeni orang yang sedang mabuk dengan kondisinya yang juga tidak beda jauh dari orang yang baru saja berteriak memanggil namanya....
... Ia kembali dengan teriakan selanjutnya lebih keras....
..."Jarrel!" panggil Rio lagi....
... Direspon balik....
... Ikut-ikutan dengan nada suara yang tinggi terdengar....
..."Kenapa?!" kata Jarrel....
..."Apa kau tahu kenapa aku melakukan itu pada Dashie?" tanya Rio....
... Jarrel melirik temannya dengan separuh pandangan yang dipaksa tetap sadar....
..."Aku tidak peduli" jawab Jarrel....
... Memaksa untuk didengarkan setiap kata yang ingin dikatakan oleh sahabatnya itu....
... Mengguncang kerah baju sahabatnya yang sudah mabuk....
..."Lepaskan!" kata Jarrel....
... Rio melepaskan kedua tangannya dari kerah baju Jarrel....
..."Iya, ya. Aku akan mendengarkan kata-kata mu" kata Jarrel....
... Dia bersiap dengan kata-kata yang akan dia katakan kepada orang disebelah kanannya itu yang sedang terpaksa untuk menjadi pendengar yang baik....
... ...
__ADS_1
... ...